Langsung ke konten utama

Sebuah Pesta untuk Kematianku

Jika aku mati nanti, jangan kauberi aku sunyi. Jangan kauantarkan jasadku dengan langkah-langkah tertib yang berbisik. Jangan kaupasang wajah muram di tepi liang lahat, seolah-olah duka adalah satu-satunya mata uang yang laku untuk membayar utang perpisahan. Aku menolaknya. Aku menolak semua kesopanan yang getir itu.

Sebab hidupku adalah sebuah kamar kosong yang dipenuhi gema. Dinding-dindingnya menyerap setiap kata yang tak pernah terucap, setiap tawa yang kutahan di tenggorokan, setiap keinginan untuk berlari ke tengah keramaian namun kaki terpaku oleh rantai tak kasatmata. Kesepian adalah teman lamaku. Ia tetangga yang paling setia, yang tak pernah absen mengetuk pintu bahkan ketika aku tak memintanya datang. Ia duduk di seberang meja makanku, menatapku dengan mata hampa, berbagi keheningan yang memekakkan.

Maka, untuk sekali ini saja, untuk perayaan terakhir atas namaku, aku ingin pengkhianatan total terhadap keheningan. Aku ingin kematianku menjadi sebuah skandal. Sebuah gangguan terhadap ketertiban umum. Sebuah pesta yang akan dikenang bukan karena air mata, melainkan karena hingar bingarnya.

Aku ingin pemakamanku kelak diiringi festival lentera. Ribuan, jutaan. Gantungkan di setiap sudut kota, di setiap gang sempit, di setiap dahan pohon yang meranggas. Biarkan pijar hangatnya yang temaram mengusir kelam, mengubah jalanan menjadi sungai cahaya. Biarkan anak-anak kecil berlarian di bawahnya, menunjuk-nunjuk warna-warni kertasnya dengan tawa riang. Biarkan setiap lentera menjadi penanda bagi satu hari dalam hidupku yang kuhabiskan dalam senyap, kini dibayar lunas dengan cahaya yang bisa dinikmati semua mata.

Lalu, lepaskan lampion-lampion itu ke angkasa. Bukan sebagai doa. Bukan sebagai harapan. Anggap saja itu sebagai pelepasan segala sesak yang pernah mendekam di dada. Biarkan mereka terbang tinggi, titik-titik api yang mengambang, membawa semua bisikan kesepianku menjauh, larut bersama bintang-bintang. Biarkan langit malam menjadi saksi bisu, bahwa sebuah jiwa yang pernah terkurung akhirnya menemukan bentangan kebebasannya yang tak terbatas.

Dan tepat saat lampion terakhir lenyap dari pandangan, sulutlah kembang api. Jangan hanya satu atau dua. Aku mau rentetan ledakan yang tak putus-putus. Dentuman yang menggetarkan kaca-kaca jendela, yang membuat anjing-anjing menyalak, yang memaksa orang-orang keluar dari rumah mereka untuk menengadah. Ledakkan warna-warni paling norak, paling liar, paling mustahil: merah darah, biru elektrik, hijau zamrud, dan emas yang menyilaukan. Biarkan letusannya menjadi musik pengiringku. Biarkan percikannya yang berjatuhan menjadi hujan meteor buatan. Itu adalah jeritan terakhirku. Teriakan yang selama ini kupendam, kini meledak merobek pekatnya malam. Mengganggu. Ya, aku ingin mengganggu tidur nyenyak kota itu.

Puncaknya, adakan tarian massal di alun-alun. Jangan putar lagu-lagu sendu. Putar musik dengan ritme yang paling purba, yang menghentak, yang mengajak tubuh bergerak tanpa perlu berpikir. Tak perlu penari profesional. Aku mau orang-orang biasa: pedagang pasar yang lelah, pegawai kantor yang jenuh, para remaja yang gelisah. Biarkan mereka semua menari. Tanpa alas kaki. Tanpa beban. Saling berpegangan tangan dengan orang yang tak mereka kenal, tertawa bersama, berkeringat bersama di bawah sisa-sisa pendar kembang api.

Biarlah tubuhku yang terbujur kaku di suatu tempat menjadi alasan bagi tubuh-tubuh lain untuk merasakan hidup sepenuhnya. Untuk merasakan koneksi. Untuk merasakan kebersamaan yang tak pernah benar-benar kumiliki.

Jangan menangis untukku. Menarilah untukku. Jangan berduka untukku. Berteriaklah sepuasnya ke langit malam. Kesepian sudah terlalu lama menggerogoti hidupku dalam diam. Jadi, untuk kali ini, aku ingin mati dengan riuh. Bising, liar, dan tak terlupakan.

Aku hanya ingin, untuk sekali ini saja, memastikan bahwa di hari terakhirku, aku tidak sendirian. Agar kesepian tahu, ia tak pernah benar-benar menang.

Komentar