Langsung ke konten utama

Perisai di Riuh Gelanggang

Riuh rendah terompet perang itu membahana, membelah udara yang pengap oleh debu dan anyir darah, dan di antara derap ribuan kuda yang memacu laksana gemuruh guntur, para ksatria itu melesat. Panji-panji mereka berkibar, warna-warni yang congkak di bawah tatapan matahari yang pucat, sementara gemerincing zirah baja menjadi musik pengiring bagi sebuah opera kematian yang dipentaskan setiap hari. Mereka adalah para penakluk, para pencari nama, para pemahat takdir yang percaya bahwa sejarah hanya akan ditulis oleh ujung pedang mereka yang tajam.

​Dan aku? Di tengah hiruk pikuk ambisi dan gelegar dendam itu, aku hanya berdiri. Kakiku menjejak tanah yang sama bergetarnya, mataku menatap pusaran baja dan daging yang sama liarnya, tetapi tanganku hanya menggenggam satu benda: sebilah perisai usang.

​Bukan perisai pemberian dewa, bukan pusaka warisan raja. Permukaannya tidak berkilau memantulkan wajah lawan untuk membuatnya gentar. Sebaliknya, ia kusam, penuh goresan yang saling bersilangan laksana peta tak terbaca, penyok di sana-sini oleh hantaman gada atau tusukan tombak yang gagal. Inilah satu-satunya hartaku di medan laga yang mereka sebut kehidupan ini. Aku tak membawa pedang yang berkilau untuk mengukir nama di tugu kemenangan, dan juga tak kusandang busur untuk mengirim kematian dari kejauhan, sebab tujuanku tak pernah ada di seberang sana, di singgasana yang direbutkan atau di mahkota yang diperebutkan. Tujuanku ada di sini, di titik tempatku berpijak, yaitu sekadar untuk tetap berpijak.

​Para ksatria itu melaju dengan sorak-sorai. Bagi mereka, gelanggang ini adalah panggung. Setiap tebasan pedang adalah sebuah kalimat, setiap anak panah yang melesat adalah sebuah tanda seru. Mereka bertarung demi keyakinan, demi kemuliaan, demi seorang putri, atau mungkin demi sesuatu yang bahkan mereka sendiri tak pernah benar-benar memahaminya. Sementara aku, aku tak punya kemewahan untuk mempertanyakan semua itu. Bagiku, desing anak panah yang lewat sepersekian jengkal dari telinga bukanlah sebuah seruan heroik, melainkan sekadar pengingat bahwa maut begitu dekat dan begitu sambil lalu. Denting pedang yang beradu bukanlah lagu kemenangan, melainkan irama kacau yang harus kautahan dengan perisai ini, lagi, dan lagi.

​Perisai ini adalah saksi bisu. Setiap goresan adalah cerita tentang sebuah serangan yang berhasil kutangkis. Goresan panjang melintang ini, aku ingat, adalah jejak pedang seorang ksatria berzirah perak yang matanya menyala penuh angkara murka entah pada siapa. Bekas tembusan kecil di pojok atas itu adalah sisa anak panah yang datang dari penembak runduk di menara pengawas, panah yang seharusnya menancap di jantungku. Dan bagian yang paling penyok ini, ini adalah kenang-kenangan dari hantaman tombak penunggang kuda yang melintas begitu cepat, begitu acuh, seolah aku hanyalah sebatang tonggak kayu di tepi jalan.

​Perisai ini adalah kulit keduaku, yang menampung semua luka yang seharusnya terukir di dagingku. Ia tak pernah menjanjikan kemenangan, ia hanya menawarkan kesempatan. Kesempatan untuk melihat matahari terbenam sekali lagi, kesempatan untuk merasakan angin malam yang dingin di pipi, kesempatan untuk mendengar kesunyian setelah riuh rendah pertempuran usai.

​Dan ketika senja akhirnya tiba, ketika terompet ditiupkan bukan untuk menyerbu melainkan untuk menarik diri, gelanggang itu perlahan senyap. Para pemenang akan menghitung rampasan, para pecundang akan meratapi kehilangan. Mereka yang mati, tentu saja, tak akan melakukan apa-apa lagi. Lalu di manakah posisiku?

​Aku masih di sini. Berdiri. Mungkin dengan bahu yang perih karena menahan hantaman, mungkin dengan sebatang anak panah yang menembus lengan karena perisaiku tak cukup lebar, mungkin pula dengan luka cabik di paha karena ujung tombak sempat menyerempetku. Tubuhku adalah arsip dari kegagalan perisai ini untuk menjadi sempurna.

​Tetapi, aku masih berdiri. Aku berjalan gontai keluar dari gelanggang, menyeret perisai yang terasa semakin berat. Aku tidak membawa pulang piala, tidak pula panji-panji musuh yang berhasil direbut. Yang kubawa hanyalah tubuh yang penuh sayatan dan perisai yang kian renta. Namun, di dalam sunyi senyap langkahku menjauhi medan perang, aku tahu: inilah kemenangan itu. Bukan kemenangan yang dirayakan dengan arak dan pesta, melainkan kemenangan yang dirasakan dalam setiap tarikan napas yang masih bisa kuhela.

​Sebab di medan perang kehidupan ini, bertahan bukanlah pilihan bagi pengecut. Bertahan adalah sebentuk perlawanan paling sunyi, paling keras kepala, dan paling purba. Dan mampu berjalan pergi dari neraka, meski dengan merangkak sekalipun, itu sudah lebih dari cukup. Itu sudah segalanya.

Komentar