Langsung ke konten utama

Suara Parau di Pagi yang Sentimen

Maka pagi datang bukan sebagai janji, melainkan sebagai vonis. Kadar dingin yang erat itu merayap, bukan lagi memeluk, tapi mencekik pelan-pelan. Dari sudut kota yang paling sunyi, atau mungkin dari sudut jiwa yang paling riuh, terdengar ia: dalam yang serak suara parau jelma homonim di tubuh penuh akan candu. Ia adalah suara yang tak pernah benar-benar terucap, getarannya hanya terasa di pangkal tenggorokan, sebuah penjelmaan dari kata-kata yang memiliki bunyi sama namun makna berbeda. Seperti kata ‘bisa’ yang berarti racun sekaligus kemampuan. Tubuh ini, kota ini, adalah homonim yang berjalan: ia bisa hidup, sekaligus ia adalah racun yang mematikan secara perlahan.

Langit masih meso, barangkali sebuah istilah yang lahir dari kelelahan mengkategorikan warna. Bukan lagi biru, bukan kelabu, tapi sebuah bentangan di tengah-tengah, sebuah spasi kosong yang sedang sibuk mengukur embun cokelat. Embun tak lagi bening di atas daun talas di halaman belakang rumah. Ia telah terpolusi oleh jelaga malam, oleh asap dari mimpi-mimpi yang terbakar, oleh kertak gigi orang-orang yang kalah. Dan ia jatuh sekarat, setetes demi setetes, seperti harapan yang gagal mengkristal. Kematian-kematian kecil yang terjadi setiap pagi, tanpa pernah ditulis dalam berita utama koran.

Inilah pagi yang sentimentil. Pagi yang memiliki perasaan, yang bisa tersinggung, yang menyentuh utuh merah wajahnya saat kau tatap terlalu lama. Wajah kidung kian alpa sedemikian rupa; lagu-lagu pengantar tidur semalam telah dilupakan, wajah-wajah dalam mimpi telah menjadi asing. Yang tersisa hanyalah wajah pagi itu sendiri, memerah, mungkin karena malu telah membangunkan mereka yang lebih suka terus terlelap dalam ketiadaan. Lalu, seperti semut dalam barisan tak terlihat, orang-orang pergi di dini masih sepi. Langkah kaki mereka adalah detak jam yang monoton, derap langkah menuju altar pengorbanan bernama rutinitas. Mesin-mesin menyala, jalanan mulai terisi, dan kesepian individual melebur menjadi kesunyian komunal yang bising.

Mereka bergerak dalam sebuah tatanan tak tertulis, memberi feodalistik dalam ilustrasi bak rupa batik. Setiap orang tahu posisinya, perannya, garis yang tak boleh dilewati. Indah, jika dilihat dari jauh, seperti motif batik yang rumit dan agung. Namun jika kau menjadi salah satu titik lilin panas yang membentuknya, kau akan tahu bahwa itu adalah kungkungan. Sebuah pakem yang klise, di mana setiap drama sudah memiliki skenarionya, setiap tawa sudah diukur desibelnya, dan setiap tangis hanya boleh terjadi di ruang privat yang kedap suara. Sementara di atas sana, di luar jangkauan pakem, angkasa menari sambut tahun yang baru di biru langit menderu. Alam semesta merayakan siklusnya dengan kekerasan yang puitis, dengan gemuruh yang tak peduli pada kerapuhan manusia di bawahnya. Tahun baru hanyalah angka, tapi gemuruh langit adalah realitas.

Di tengah semua itu, ada aku. Atau kau. Atau siapa saja yang merasa terasing di dalam kulitnya sendiri. Sedemikian jengkal menggali dangkal lubuk dengan mabuk ala rindu. Sebuah pekerjaan sia-sia. Mencoba mencari kedalaman di tempat yang sudah kering, mencoba memahami makna sambil terus menenggak racun kerinduan—rindu pada masa lalu yang tak pernah benar-benar ada, atau rindu pada masa depan yang tak akan pernah tiba. Setiap jengkal galian hanya memperlihatkan betapa dangkalnya semua ini. Dan rasa lapar yang aneh itu muncul. Lapar akan makna, lapar akan koneksi, lapar akan keaslian. Apakah akan sempat tertahan sebagai lapar yang lazim kita nikmati itu? Barangkali kita telah begitu terbiasa dengan kekosongan ini, sehingga rasa lapar itu sendiri telah menjadi sebentuk kenikmatan. Sebuah penderitaan yang akrab, teman setia di meja makan yang hampa.

Lalu, dalam satu kedipan mata yang panjang, terjadi sulap tanpa mantra. Dengan bim salabim udara menyublim, waktu menjadi aku. Batas antara subjek dan objek menguap. Aku adalah udara pagi yang dingin, aku adalah deru knalpot, aku adalah waktu yang merangkak di pergelangan tangan seorang pegawai rendahan. Identitas menjadi cair, sebuah disosiasi tingkat lanjut untuk bertahan hidup. Aku menjadi potongan kecil dari yang kerdil, sebuah fragmen yang tak signifikan dalam mosaik kota yang gigantik. Dan di saat itulah, ingatan tentangmu—atau tentang senyum itu—datang tanpa diundang. Kisah resah dan jauh telah meremah senyummu. Senyum yang pernah utuh itu kini tak lebih dari serpihan, remah-remah roti yang tercecer di lantai ingatan yang kotor.

Maka, mari. Mari sejenak duduk dengan diaduk pertanyaan bermuara dari segala liciknya rasa. Tak perlu mencari jawaban, cukup temani saja pertanyaannya. Kenapa pagi ini terasa begitu berat? Kenapa rindu bisa terasa seperti candu? Kenapa kita terus berjalan dalam pola batik yang mencekik? Teruskan saja berkreasi dalam imaji yang keji, lukislah embun cokelat itu, tuliskanlah lagu tentang langit yang menderu, pahatlah patung dari rasa lapar yang kita nikmati. Berkesenian adalah satu-satunya pemberontakan yang tersisa saat tubuh sudah terlampau lelah untuk melawan.

Asal jangan lupa, di ingatanmu, di sela-sela imaji paling brutal dan paling sunyi yang kau ciptakan, bahwa aku masih ada. Mungkin bukan sebagai sosok utuh, mungkin hanya sebagai gema dari suara parau itu. Dengan segala muara yang maya, aku akan selalu ada di sana, di ujung pandangmu saat kau menatap jendela yang berembun, menjadi alasan tak terjelaskan yang tiba-tiba jatuhkan air mata.

Komentar