Hujan baru saja reda di luar jendela kafe ini, meninggalkan aroma petrichor yang seharusnya menenangkan. Seharusnya. Tapi yang tersisa hanyalah udara lengket dan pantulan lampu neon warna-warni pada genangan air di aspal. Aku duduk di sini, dengan secangkir kopi yang mulai dingin—seperti antusiasmeku pada dunia. Di sekelilingku, riuh. Tawa, denting sendok, dan serpihan percakapan yang beterbangan seperti laron mengerubungi cahaya. Mereka semua ada di sini. Manusia.
Dan setelah sekian lama, setelah melewati ribuan senja dan pagi yang sia-sia, akhirnya aku memahami.
Aku memahaminya dengan kejernihan yang menyakitkan. Manusia tak hanya sekadar makhluk sosial, sebuah frasa manis yang dijejalkan buku-buku pelajaran sekolah dasar. Tidak. Manusia adalah neraka bagi sesama.
Seorang filsuf Prancis berjanggut pernah menuliskannya dengan ringkas: L'enfer, c'est les autres. Neraka adalah orang lain. Jean-Paul Sartre tak sedang membual. Ia hanya memotret kenyataan dengan kamera paling jujur. Bagaimana tidak? Kita lahir ke dunia karena orang lain, nama kita diberikan oleh orang lain, cara kita berjalan dan berbicara kita pelajari dari meniru orang lain. Hidup kita adalah rangkaian utang budi pada eksistensi orang lain. Namun, lihatlah lebih dekat. Bukankah mereka juga yang menyodorkan pisau paling tajam, yang menghunjam tepat di punggung saat kita sedang lengah? Luka yang ditorehkan orang asing di jalanan tak akan pernah sebanding dengan goresan yang ditinggalkan oleh tatapan kecewa seorang sahabat, atau bisik-bisik kerabat di pertemuan keluarga.
Kita berteriak paling kencang soal kebebasan. Kebebasan berekspresi, kebebasan memilih, kebebasan menjadi diri sendiri. Oh, sebuah komedi yang paling getir. Karena pada praktiknya, kita adalah budak paling patuh dari tatapan mereka. Kita memilih pakaian bukan untuk kenyamanan, tapi untuk persetujuan. Kita mengunggah foto senyum paling lebar di media sosial, bukan karena bahagia, tapi untuk membuktikan bahwa kita bisa bahagia—atau setidaknya, terlihat bahagia di mata mereka. Kita mengukur keberhasilan dari tepuk tangan mereka, dan merasakan kegagalan dari keheningan mereka. Kebebasan kita ternyata tak lebih luas dari sebuah sangkar yang terbuat dari retina dan gendang telinga sesama. Jerujinya adalah gosip, rantainya adalah penghakiman.
Cih. Menjijikan.
Panggung sandiwara ini begitu melelahkan. Setiap hari adalah pertunjukan. Memakai topeng yang tepat, mengucapkan dialog yang sesuai, menekan emosi yang dianggap tak pantas. Kita adalah aktor sekaligus penonton dalam drama absurd yang tak pernah punya akhir. Kita mengkritik permainan orang lain, sambil lupa bahwa kita sendiri sedang gemetar di balik topeng yang kita kenakan. Kita saling menilai, saling menguliti, mencari celah dan kesalahan, seolah dengan menjatuhkan orang lain, singgasana rapuh kita akan menjadi lebih tinggi. Padahal, kita semua sama-sama sedang tenggelam dalam lautan ekspektasi yang kita ciptakan sendiri.
Lalu aku teringat pada Socrates, orang tua bijak dari Athena itu, dengan kutipannya yang melegenda: hidup yang tak teruji tidak layak untuk dijalani. Benarkah, Socrates? Benarkah? Mungkin di zamanmu, di antara pilar-pilar agora yang megah, menguji hidup adalah sebuah jalan menuju pencerahan. Tapi di sini, di era di mana setiap sudut kehidupan adalah konten, di mana setiap kesalahan adalah jejak digital abadi, menguji hidup sering kali terasa seperti sebuah undangan untuk dicerca.
Menguji hidup berarti menelanjangi diri. Dan di hadapan kerumunan yang lapar akan drama, ketelanjangan adalah kelemahan. Semakin dalam kita merenung, semakin kita sadar betapa palsunya semua ini. Semakin kita menguji, semakin kita menemukan bahwa fondasi yang kita pijak hanyalah tumpukan kebohongan manis dan kesepakatan diam-diam untuk tidak saling jujur. Jadi, untuk apa? Untuk menemukan bahwa kita hanyalah sekumpulan primata cemas yang bersembunyi di balik teknologi dan gelar? Mungkin, hidup yang tak teruji justru merupakan satu-satunya cara untuk tetap waras. Sebuah anugerah ketidaktahuan.
Kopi di mejaku sudah benar-benar dingin. Pahitnya terasa mengendap di lidah. Aku menatap pantulan wajahku di jendela yang berembun. Wajah seorang manusia yang lelah. Lelah menjadi penonton, lelah menjadi pemain. Lelah oleh neraka yang diciptakan oleh tatapan, ucapan, dan eksistensi sesama.
Neraka itu tidak butuh api atau iblis bertanduk. Ia hanya butuh manusia lain.
Komentar
Posting Komentar