Tanah ini menyimpan gema. Gema yang tak akan pernah bisa kau hapus, sekalipun kau bangun istana beton di atasnya, kau aspal jalan-jalan memorinya. Gema itu adalah langkah kaki Saidjah yang berlari gelisah di pematang sawah Banten, gema itu adalah bisik Adinda di bawah rindang ketapang, tempat janji diikat dengan kuntum melati dan hitungan bulan.
Dengarlah. Tanah ini bicara. Ia bicara tentang kerbau. Bukan sekadar hewan penarik bajak, bukan. Kerbau bagi Saidjah adalah masa depan. Kerbau adalah Adinda dalam wujud mahar yang berjalan, harapan yang merumput, dan janji pernikahan yang bernapas. Tiga tahun, Saidjah merawatnya, mengelusnya, membisikkan nama Adinda pada tanduknya yang lengkung. Kerbau itu adalah jembatan menuju pelaminan.
Lalu, tangan kekuasaan datang. Tangan dengan lencana berkilau, namun berlumur lumpur keserakahan. Tangan Demang, tangan Bupati, tangan Asisten Residen—tangan-tangan yang seharusnya melindungi, justru menjadi perpanjangan dari mesin penghisap kolonial. Kerbau itu dirampas. Bukan dirampas, mereka bilang, tapi disita untuk pajak. Pajak untuk apa? Untuk jalan yang tak mereka lewati? Untuk istana yang tak mereka huni?
Saidjah tak bertanya. Ia hanya melihat jembatan menuju Adinda itu runtuh. Hatinya remuk, tapi ayahnya memberinya harapan baru. Kerbau baru dari warisan ibu. Harapan tumbuh lagi, hijau seperti padi muda. Namun, tangan yang sama kembali datang. Dengan alasan yang sama palsunya, dengan keserakahan yang sama nyatanya. Kerbau kedua pun lenyap.
Di sinilah cinta mulai berdarah. Cinta yang sederhana, cinta yang hanya ingin menua bersama di beranda rumah, dipaksa menjadi saksi kebrutalan. Ayah Saidjah, putus asa dan patah, melarikan diri, lalu mati dipukuli karena dianggap melawan. Saidjah menjadi yatim, sebatang kara, hanya memeluk bayang-bayang Adinda.
Di bawah pohon ketapang itu, janji baru diucapkan. Janji perpisahan. “Tunggulah aku,” kata Saidjah. “Tiga kali dua belas bulan. Aku akan ke Betawi, mencari kerja, mengumpulkan uang untuk kerbau ketiga yang tak akan bisa mereka rampas.” Adinda mengangguk, menyerahkan sekuntum melati yang ia simpan dalam kantung. Wanginya adalah sumpah, kelopaknya adalah penanda waktu.
Tiga kali dua belas bulan. Saidjah menghitungnya dengan setiap keping uang yang ia kumpulkan, dengan setiap peluh yang menetes di pelabuhan Sunda Kelapa. Pikirannya hanya satu: Adinda. Badannya di Betawi, jiwanya tetap di Banten, di bawah pohon ketapang itu, menatap mata Adinda yang teduh.
Dan ketika bulan purnama ke tiga puluh enam tiba, ia pulang. Ia berlari, lebih kencang dari angin, lebih riang dari kicau burung. Di pinggangnya terselip keris pusaka ayahnya dan di sakunya ada cukup uang untuk seribu kerbau. Ia tidak butuh seribu. Ia hanya butuh satu: Adinda.
Namun, tanah menyambutnya dengan kebisuan yang memekakkan. Desa Badur, desanya, hanyalah tumpukan arang dan abu. Rumah-rumah hangus. Sawah-sawah kering. Pohon ketapang itu berdiri gosong, meranggas seperti kerangka harapan. Di mana Adinda? Di mana semua orang?
Maka benarlah, jika ada yang berbisik di antara deru angin zaman: Cinta Saijah dan Adinda bukan semata-mata kisah dua pribumi, melainkan simbol luka bangsa. Ketika harapan direnggut bukan hanya oleh penjajah, tetapi juga oleh tangan sesama. Di bawah ketapang dan di hadapan Badur, cinta yang tak sempat tumbuh utuh menjadi abadi dalam ingatan tanah yang terluka.
Pencarian Saidjah adalah sebuah elegi. Ia tak lagi mencari kehidupan, ia mencari jejak kematian. Jejak itu membawanya menyeberang ke Lampung, tempat para pemberontak dari desanya dibuang dan dibantai. Di sana, di antara mayat-mayat yang bergelimpangan dalam bau anyir darah dan mesiu, ia mencari Adinda. Hanya Adinda.
Dan ia menemukannya.
Bukan Adinda yang tersenyum di bawah ketapang. Bukan Adinda yang memberinya melati. Ia menemukan tubuh telanjang yang tercabik-cabik, diseret, dinodai oleh bayonet serdadu KNIL. Di dadanya, masih ada sisa-sisa kelopak melati yang dulu ia berikan. Kering. Merah karena darah.
Dunia berhenti berputar. Langit runtuh. Saidjah tak lagi merasakan apa-apa selain kekosongan yang membakar. Ia mengeluarkan keris ayahnya, bukan untuk melawan, bukan untuk memberontak. Ia berlari ke arah barisan serdadu itu, ke arah moncong-moncong senapan yang siap menyalak. Ia tidak sedang menyerang. Ia sedang menyusul Adinda. Ia hanya ingin memeluknya sekali lagi, bahkan jika pelukan itu adalah pelukan maut.
Desing peluru merobek udara, lalu merobek dadanya. Saidjah jatuh di samping jasad kekasihnya. Darah mereka menyatu, meresap ke dalam tanah Lampung, tanah yang menjadi pusara bersama.
Mereka mati. Saidjah mati. Adinda mati. Tapi cinta mereka? Ah, cinta mereka tidak. Ia menjadi hantu yang gentayangan dalam setiap buku sejarah. Ia menjadi bisik di setiap desa yang tanahnya dirampas. Ia menjadi wangi melati yang tiba-tiba tercium di tengah malam, mengingatkan kita pada janji yang tak terpenuhi, pada harapan yang dibunuh dengan keji.
Tanah ini, bangsa ini, adalah saksi abadi. Bahwa di atas kerakusan dan penindasan, pernah tumbuh cinta yang begitu murni, yang memilih mati bersama daripada hidup dalam dunia yang telah merampas segalanya. Saidjah dan Adinda tidak dikalahkan. Mereka hanya pindah, dari bawah pohon ketapang ke dalam ingatan abadi sebuah bangsa yang terluka. Selamanya.
Komentar
Posting Komentar