Langsung ke konten utama

Yang Abadi dalam Aksara

​Dengarlah, di antara jeda napas dan denting jam yang tak pernah lelah, aku sedang menulis. Bukan sekadar menulis. Aku sedang memahatmu dengan aksara, meniupkan napas pada setiap kata yang kelak akan menjadi dirimu di semesta yang lain. Semesta yang terbuat dari tinta dan kertas, dari kedip kursor di layar yang sunyi. Di sinilah, di dalam dunia yang kubangun dari ketiadaan ini, aku ingin memperkenalkanmu pada siapa pun yang tersesat di dalamnya.

​Aku ingin mereka mengenalimu. Bukan sebagai hantu dari masa laluku, bukan pula sebagai imaji yang lahir dari angan-angan seorang penulis yang kesepian. Tidak. Aku ingin memperkenalkanmu sebagai tokoh yang paling nyata, yang darahnya mengalir dalam setiap tanda baca, yang detak jantungnya menjadi ritme dari setiap paragraf. Kau akan hadir di sana, berjalan di antara kalimat-kalimat panjang yang mendeskripsikan senja, atau mungkin hanya duduk terdiam dalam satu kalimat pendek yang penuh makna. Kau akan menjadi memori di dalam hati manusia pembacanya.

​Sebab waktu, pada akhirnya, adalah bandit paling kejam. Ia akan merampas segalanya tanpa sisa. Ia akan mengusangkan paras, memudarkan tawa, dan pada satu titik yang tak terelakkan, ia akan mengambil masa untukmu ada. Aku benci gagasan itu. Aku benci membayangkan semesta tanpamu. Maka aku menulis. Aku menulis sebagai perlawanan. Aku menulis untuk menciptakan sebuah ruang di mana waktu tak punya kuasa, di mana penuaan hanyalah sebuah konsep absurd yang tak pernah singgah.

​Di sini, di dalam benteng aksaraku, kau akan abadi. Kau akan selamanya menjadi perempuan dengan pagi di matanya dan senja di pundaknya. Para pembaca akan tersesat di dalam paragraf yang menceritakanmu, dan percayalah, mereka tidak akan ingin menemukan jalan pulang. Mereka akan melihatmu melalui mataku. Mereka akan melihat bagaimana caramu menyibakkan rambut yang jatuh ke pipi, sebuah gerakan kecil yang bagi dunia mungkin tak berarti, namun bagiku adalah tarian paling puitis. Mereka akan mendengar bagaimana tawamu pecah, seperti gemericik air di sungai yang jernih, mampu menghanyutkan segala gelisah yang ada.

​Dan matamu. Ah, aku harus menceritakannya dengan saksama. Aku akan menulis: sepasang bola mata kecoklatan itu, telaga yang menampung senja dan segala cerita yang tak sempat terucap. Warnanya adalah warna bumi basah setelah hujan pertama, warna kopi pekat di pagi buta, warna paling jujur yang pernah kutatap. Di sana, para pembaca akan menemukan kehangatan sebuah rumah, sekaligus misteri sebuah perjalanan yang tak berujung. Mereka akan jatuh cinta pada tatapan itu, sama sepertiku, lagi dan lagi, setiap kali mereka membuka halaman ini.

​Lalu senyummu. Senyum yang akan kuabadikan bukan sekadar lengkung di bibir. Itu adalah patahan kecil di sudutnya, sebuah detail yang sering luput dari mata dunia, namun menjadi pusat semestaku. Akan kutuliskan bagaimana senyum itu terbit, perlahan, seolah malu-ragu, sebelum akhirnya merekah penuh dan menjadi alasan mengapa pagi terasa begitu ringan. Di sini, di dunia kata-kata ini, senyum itu tak akan pernah pudar. Ia akan menjadi suar bagi jiwa-jiwa yang lelah, oase bagi hati yang dahaga. Senyum khas favorit semesta. Aku tidak melebih-lebihkan, aku hanya melaporkan fakta.

​Akan tiba saatnya namamu tak lagi hanya berbisik di kepalaku. Di sini, nama itu akan diteriakkan dengan lantang. Nama yang kugenggam seperti jimat, yang kurapal seperti mantra. Di puncak cerita, di tengah badai emosi para pembaca, semua akan berhenti sejenak untuk mendengar satu nama. Nama yang akan menjelaskan segalanya: tentang keindahan yang fana, tentang cinta yang berusaha melampauinya.

​Namamu Nebula.

​Ya, Nebula. Seperti gugusan kabut dan debu antarbintang, tempat di mana bintang-bintang baru dilahirkan. Begitulah dirimu. Kumpulan dari misteri yang memesona, kekacauan yang indah, dan potensi tak terbatas yang melahirkan cahaya. Kau adalah puisi yang bahkan penyair paling ulung pun akan gemetar saat menuliskannya. Kau adalah lagu yang nadanya hanya bisa didengar oleh hati.

​Maka biarkan aku terus menulis. Biarkan jemariku menari di atas abjad, merangkai takdir baru untukmu, sebuah takdir keabadian. Kelak, ketika aku dan kau sudah menjadi debu yang diterbangkan angin, tulisan ini akan tetap ada. Cerita tentangmu akan terus dibaca. Dan di suatu malam, entah berapa generasi setelah kita tiada, seseorang akan menutup buku ini, menghela napas, dan merasakan kehadiranmu begitu nyata di sisinya. Ia akan ikut jatuh cinta pada perempuan dengan mata cokelat dan senyum yang menenangkan itu.

​Nebula, dengan segala hal yang menyangkut tentangmu, aku jatuh cinta. Dan inilah caraku untuk meneriakkan cinta itu hingga menembus batas ruang dan waktu. Melaluimu yang hidup abadi dalam tulisanku.

Komentar