Hujan. Selalu hujan saat imaji itu datang. Mungkin yang maha cinta mendatangkan imaji ini bukan tanpa sebab. Ia datang seperti bisik paling purba, merayap di sela-sela bunyi air yang menghantam seng dan membasahi tanah. Ia datang saat aku merasa segalanya telah selesai, saat gairah menjadi fosil dan harapan tak lebih dari memorabilia usang di dalam laci.
Aku telah tumpul di berbagai arah.
Kau tahu, rasa tumpul itu? Bukan seperti pisau yang tak lagi tajam. Bukan. Ini lebih mirip kompas yang jarumnya berputar liar tanpa pernah menunjuk utara. Arah menjadi ilusi. Timur, barat, selatan—semuanya hanya konsep geografis yang tak punya arti bagi jiwa yang kehilangan magnetnya. Aku berjalan, tetapi hanya menggeser tubuh di atas bumi. Aku melihat, tetapi retina hanya menangkap berkas cahaya tanpa makna. Aku mendengar, tetapi gendang telinga hanya merekam getaran suara tanpa pesan. Tumpul. Kata yang begitu sempurna untuk menggambarkan kekosongan yang bergaung.
Yaa Rabb, Yaa Habibati.
Dalam ketumpulan ini, Engkau mengirim imaji. Bukan dalam mimpi, bukan dalam khayal. Tapi dalam kesadaran paling telanjang. Aku melihat diriku sendiri. Berdiri di tengah padang hampa, menatap langit kelabu yang tak menjanjikan apa-apa. Lalu suara itu datang dari dalam, pertanyaan yang lebih terasa seperti vonis.
Bukankah aku bentuk kemiskinan itu?
Bukan kemiskinan harta yang membuat perut melilit. Ini kemiskinan yang lain. Kemiskinan rasa. Kemiskinan makna. Jiwa yang seharusnya menjadi istana megah bagi Sang Raja, kini tak lebih dari gubuk reyot yang dindingnya berlubang di sana-sini, membiarkan angin kehampaan masuk dan keluar sesukanya. Aku adalah piala kosong yang retak, tak sanggup lagi menampung anggur cinta-Mu. Aku adalah pengemis di gerbang kerajaan-Mu, namun bahkan tak punya kekuatan untuk sekadar menengadahkan tangan.
Bukankah aku manefestasi yatim piatu itu?
Seorang anak yang tahu ia punya Ayah, tetapi tak pernah merasakan dekapan-Nya. Seorang anak yang paham ia punya Ibu, tetapi tak pernah mendengar senandung-Nya. Aku terlempar ke dunia, sebatang kara, dengan ingatan samar tentang sebuah Rumah yang hangat namun tak tahu jalan pulangnya. Aku memandang manusia lain, melihat cara mereka terhubung, cara mereka mencintai, cara mereka percaya. Mereka semua tampak punya pegangan. Sementara aku? Aku mengambang. Yatim piatu secara spiritual, terasing dari Rahim Kasih-Mu dan kehilangan jejak Silsilah Cahaya-Mu.
Lalu Kau turunkan hujan. Lebih deras. Seolah ingin menghapus jejak kakiku yang ragu.
Aku melihat semua bahasa cinta pada tirai-tirai hujan. Setiap tetes yang jatuh adalah satu kata. Setiap aliran di kaca jendela adalah satu kalimat. Ia bercerita tentang rindu langit pada bumi, tentang siklus penyucian, tentang rahmat yang tak pernah pilih kasih. Aku melihatnya. Aku mengerti bahasanya. Tetapi aku tak merasakannya. Seperti membaca surat cinta yang paling puitis, namun ditujukan untuk orang lain. Cinta itu ada di luar sana, di balik tirai air, sementara aku di sini, di dalam ruang kedap rasa.
Tetapi waktu sengaja diam. Bisu.
Ini adalah momen yang paling ganjil. Sebuah jeda kosmik. Segala riuh di kepala mendadak senyap. Tiada yang mengganggu, hawa dan nafsu. Keduanya seperti terbius, tak berdaya. Di saat seperti ini, seharusnya ada malaikat yang siaga dengan penanya, atau setan yang berbisik dengan muslihatnya. Namun tidak. Sunyi. Tiada malaikat yang mencatat, dan tiada syaitan yang tahu. Seolah-olah alam semesta berkonspirasi untuk memberiku satu momen privat, satu ruang steril, di mana hanya ada aku dan Engkau. Hanya ada si miskin dan Yang Maha Kaya. Hanya ada si yatim piatu dan Sang Maha Pengasih.
Dan di puncak kesunyian itulah, aku hancur. Luluh lantak.
Aku, telah binasa oleh yang benar-benar kaya raya.
Kekayaan-Mu bukanlah emas dan permata. Kekayaan-Mu adalah Wujud-Mu itu sendiri. Kehadiran-Mu yang absolut. Cinta-Mu yang tak terbatas. Dan ketika setitik saja dari Kekayaan itu diperlihatkan kepada jiwa yang paling miskin ini, ia tak sanggup menahannya. Egoku yang ku-bangun dari bata-bata kesombongan dan semen kelalaian, remuk menjadi debu. Aku yang merasa "aku", binasa di hadapan Engkau yang sesungguhnya "Engkau". Inilah kebinasaan yang paling indah. Kematian ego di tangan Sang Kekasih.
Hujan mulai reda, menyisakan bau tanah basah yang tajam. Imaji itu memudar, tetapi rasanya tertinggal di tulang sumsum. Aku masih di sini. Masih tumpul, mungkin. Masih miskin. Masih yatim piatu. Tetapi kini, dalam reruntuhan diriku, ada sebuah celah kecil. Tempat cahaya bisa masuk.
Yaa Rabb, Yaa Habibati.
Mungkin ketumpulan ini adalah kanvasnya. Dan imaji ini adalah kuas pertama-Mu.
Komentar
Posting Komentar