Langsung ke konten utama

Naskah Tentang Dusta yang Manis

Barangkali, memang beginilah takdir kata-kata: menjadi tempat persembunyian. Dan barangkali, bahagia hanyalah dusta paling manis yang pernah diciptakan manusia melalui kata-kata itu. Ia tidak tinggal di denyut nadi atau detak jantung; ia mengendap di pelupuk imajinasi, menjadi endapan bisu di antara aksara yang tak pernah sepenuhnya jujur. Di hadapan halaman putih yang membentang—sebuah semesta tanpa memori—aku adalah tuhan kecil yang berkuasa. Di atas kertas, aku bebas menciptakan pagi yang tidak getir, meracik secangkir kopi yang hangatnya tidak pura-pura, dan melukis matahari yang sinarnya sanggup menyentuh hati yang tidak pernah ditinggalkan.

Semua itu adalah karangan. Sebuah fiksi yang telanjang, namun dengan lancang kuberi nama kenyataan.

Maka kutulis tentang bahagia. Bukan karena kurasa, melainkan karena ia adalah satu-satunya perlawanan yang kumiliki terhadap sunyi. Apa yang kusebut sebagai "bahagia" dalam sajak-sajakku, sesungguhnya adalah permenungan panjang tentang luka yang tak kunjung kering. Permenungan itu kemudian kubungkus rapat-rapat dengan diksi, kupilih yang paling indah dan paling merdu, kubuat semanis mungkin agar sesiapa yang membacanya tidak ikut merasakan pahit yang diam-diam kuseduh di dalamnya. Lalu, adonan diksi dan pilu itu kusebarkan kepada seluruh dunia, dan kukatakan kepada mereka: inilah sebuah puisi. Orang-orang bertepuk tangan, menganggapnya sebuah keindahan, tanpa pernah tahu bahwa keindahan itu lahir dari rahim kekosongan.

Maka, proses menulis bahagia menjadi sebuah alkimia ganjil. Aku mengubah timah kesedihan menjadi emas puitis, bukan untuk menghilangkan logam dasarnya, melainkan sekadar untuk melapisi permukaannya. Permen itu manis di lidah, namun ia akan larut dan hanya menyisakan getir yang abadi. Aku menjadi seorang penipu ulung, dan korbanku adalah diriku sendiri. Setiap kali aku menulis "senyumnya adalah fajar", yang kulihat sesungguhnya adalah senja yang tenggelam di matanya. Setiap kali aku merangkai "tawanya adalah musik", yang kudengar sebenarnya adalah isak tangis yang tertahan di tenggorokannya. Aku menulis kebalikan dari apa yang ada, dengan harapan kebohongan yang kuulang-ulang ini suatu saat akan menjelma menjadi kebenaran. Tapi ia tak pernah.

Lalu aku memandang keluar jendela, ke jalanan, ke kafe-kafe tempat orang-orang bercengkerama. Aku melihat tawa mereka yang begitu lebar, sorot mata mereka yang tampak berbinar di bawah cahaya lampu kota. Aku bertanya dalam diam, sebuah pertanyaan purba yang mungkin juga ditanyakan oleh setiap orang di sudut hatinya yang paling kelam: adakah yang benar-benar bahagia di dunia nyata? Atau kita semua hanyalah aktor dalam sebuah sandiwara absurd yang teramat panjang?

Kita mengenakan kostum terbaik kita setiap pagi, merias wajah dengan senyum paling meyakinkan, dan menghafal dialog-dialog basa-basi yang terdengar begitu melegakan. "Aku baik-baik saja," adalah kalimat pembuka dalam naskah agung ini. Kita menertawakan lelucon hambar, bertepuk tangan pada pertunjukan yang membosankan, dan saling meyakinkan bahwa semua ini ada artinya. Padahal, di balik panggung, di ruang ganti jiwa yang sempit, kita menertawakan diri sendiri di balik topeng-topeng yang telah berlumur pilu. Kita menyentuh retakan di topeng itu, merasakan dinginnya, dan bertanya-tanya sampai kapan pertunjukan ini akan berakhir.

Mungkin tidak ada yang namanya bahagia sejati. Yang ada hanyalah momen-momen singkat di mana kita lupa bahwa kita sedang tidak bahagia. Selebihnya, kita adalah para penulis skenario bagi kebahagiaan kita masing-masing. Kita memotret makanan kita sebelum dingin, mengunggah foto liburan dengan sudut pengambilan gambar terbaik, mengetik kalimat-kalimat bijak yang kita sendiri ragukan kebenarannya. Kita menciptakan sebuah museum digital tentang kebahagiaan, sebuah arsip kebohongan yang kita kunjungi setiap malam sebelum tidur, untuk meyakinkan diri bahwa hidup kita tidaklah sia-sia.

Jadi, aku akan terus menulis. Aku akan terus merangkai dusta-dusta manis ini menjadi puisi, menjadi cerita, menjadi sebuah naskah. Karena hanya di sanalah aku bisa bernegosiasi dengan kenyataan. Di dunia nyata, matahari bisa saja terasa dingin dan pagi bisa saja terasa begitu menyakitkan. Namun di atas kertasku, fajar akan selalu hangat, dan selalu ada harapan, sekalipun harapan itu kutulis dengan tinta yang terbuat dari air mata. Barangkali, pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang untuk dirasakan. Ia adalah sesuatu untuk diciptakan, untuk dituliskan, sebagai penanda bahwa kita pernah mencoba melawan, bahkan ketika kita tahu kita sudah kalah sejak semula. Dan naskah ini, adalah satu-satunya bukti perlawanan itu.

Komentar