Langsung ke konten utama

Soal Taktik dan Mental di Simpang Jalan

Purnama datang dan pergi, seperti juga ideologi di kepala seorang kawan. Kami duduk di sebuah warung yang remang, di kota yang tak pernah benar-benar tidur, ditemani kopi yang mulai mendingin dan asap rokok yang menari-nari seperti hantu keraguan. Sekian purnama kami tak bertemu. Dulu, ia lantang meneriakkan Marx, mengklaim dirinya seorang merah sejati. Malam itu, dengan sorot mata yang berbeda, ia berbisik—sebuah pengakuan yang lebih terdengar seperti konspirasi daripada pernyataan.

"Aku sekarang tertarik dengan kerja-kerja taktisnya item," katanya.

Item. Hitam. Anarkisme. Udara di antara kami seketika terasa lebih padat. Aroma insureksi yang samar tercium, menggantikan aroma Marxisme-Leninisme yang dulu begitu kental menguar dari setiap kalimatnya. Dan seperti seorang interogator yang menemukan celah, rentetan pertanyaan meluncur dari mulutku, dingin dan tajam, tanpa bisa kutahan.

"Gimana?" Aku mencondongkan badan. "Masih adakah kawan-kawan yang memakai dikotomi kendali merdeka secara kolektif hanya sebagai dalih agung untuk kemalasan? Masih relevankah kritik untuk kritik dari kapitalisme, ketika kritik itu sendiri tak pernah turun dari langit teoretisnya? Dan bagaimana taktis anarkisme yang kau bilang urban itu? Masih dengan cara lama? Merebut kapital?"

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar ingin tahu. Itu adalah peluru-peluru yang kutembakkan pada sebuah dilema moral yang membentang di spektrum kiri—sebuah spektrum yang ironisnya selalu mengklaim diri sebagai benteng moralitas. Jawabannya mengalir, berkelok-kelok, namun tak cukup deras untuk mengubah arah sungai keyakinanku. Aku masih di sana, di sebuah muara sosialistik yang bersepakat dengan anarkisme, namun bukan anarkisme jalanan kota yang gemerlap dengan api dan amarah. Anarkismeku adalah anarkisme ruralisasi. Kembali ke desa. Kembali pada tanah. Menggarap lahan dengan tangan sendiri hingga berdaulat, hingga merdeka. Kemerdekaan individu yang tumbuh dari sebutir padi, yang kemudian merambat menjadi kemerdekaan koloni. Kemerdekaan pangan sebagai gerbang menuju kemerdekaan sepenuhnya.

Namun, di tengah jurang perbedaan itu, ada satu jembatan reyot yang kami sepakati untuk kami seberangi bersama: Serikat. Kami sepakat, tanpa organisir, suara-suara kami hanyalah bisikan parau di tengah badai. Teriakan yang tak akan sampai ke mana-mana, ditelan riuh rendah pasar kapitalisme. Tanpa serikat, perlawanan hanyalah onani sporadis yang tak membuahkan apa-apa selain kelelahan.

Di sinilah letak boroknya. Serikat merah hari-hari ini, entah kenapa, terasa seperti bangunan menara gading. Megah, menjulang, penuh dengan intelektual yang saling mengutip nama-nama besar Eropa, namun kakinya tak pernah benar-benar memijak lumpur penderitaan rakyat. Kerja-kerjanya tak sampai ke akar rumput, terperangkap dalam seminar dan diskusi-diskusi steril berpendingin udara. Ditambah lagi, mereka masih harus memanggul salib warisan: cap hantu komunisme yang sengaja dipelihara negara sebagai musuh bersama. Betapa jauhnya mereka dari kerja-kerja partai merah di masa lalu, di era pra-revolusi hingga dekade 60-an, yang begitu lincah menari bersama rakyat hingga mampu meraih suara terbesar keempat di panggung politik nasional, dan menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia.

Kerja-kerja menara gading ini adalah kerja-kerja kaum terpelajar yang lupa bahwa dunia intelektual mereka sendiri sedang sakit. Ada jurang literatur yang menganga, ada konteks yang hilang, namun mereka terlalu sibuk menyangkal. Sibuk berteriak pada dunia bahwa "merah tidak salah," bahwa "merah adalah satu-satunya solusi," tanpa pernah benar-benar bercermin pada retak-retak di wajah mereka sendiri. Inilah yang di forum-forum gembel kami sebut sebagai "masturbasi intelektual"—sebuah kenikmatan semu dalam memeluk teori, memutar-mutar jargon, tanpa pernah menyentuh realitas sosio-kultural yang sesungguhnya. Benar kata Tan Malaka, ideologi adalah barang paling mewah bagi kaum muda, tapi kemewahan itu menjadi kutukan ketika ia justru menjauhkan kita dari bau keringat dan air mata mereka yang katanya ingin kita bela.

Di sisi lain, kerja-kerja hitam terasa lebih hidup. Lebih taktis, lebih ‘seru’, lebih menyentuh denyut nadi jalanan. Mereka mungkin tak pernah tamat membaca Proudhon, tak hafal silsilah pemikiran Bakunin, dan mungkin hanya mendengar nama Emma Goldman sambil lalu. Tapi kesadaran itu tersalurkan. Ideologi itu tersampaikan lewat selebaran yang dibagi di lampu merah, lewat dapur umum saat penggusuran, lewat barikade yang didirikan saat aparat datang. Ideologi yang menjadi aksi. Tentu, cara mereka terkadang membentur konflik. Keras. Tanpa kompromi. Tapi bukankah itu esensi dari insureksi? Sebuah penghancuran total atas tatanan yang ada, tanpa lobi-lobi kompromistis di ruangan ber-AC.

Namun, ideologi hitam ini punya syarat dan ketentuan yang berlaku: kesadaran moral tingkat tinggi. Ia menuntut para pengikutnya untuk menjadi orang-orang suci di tengah dunia para bajingan. Mereka butuh panji-panji kolektifis yang benar-benar sadar, bukan sekumpulan orang yang akhirnya jatuh pada lubang yang sama dengan badut-badut kapitalisme yang mereka lawan: korupsi, ego, dan penyalahgunaan kuasa. Bukankah menjadi sebuah ironi yang memuakkan ketika spektrum ideologi yang paling getol bicara moralitas justru menjadi akomodasi dan dalih bagi mental-mental korup?

Di sinilah kita menemukan masalahnya. Kita tidak hanya punya masalah dengan dunia intelektual kita; kita juga punya masalah serius perihal mental. Mentalitas ini adalah produk cacat dari sebuah sistem bajingan yang sudah terlalu bobrok untuk ditinggali. Kerusakan sistemik yang merasuk hingga ke sumsum tulang, membuat perlawanan sekalipun rentan terjangkit penyakit yang sama.

Dua variabel ini—intelektualisme mandul dan mentalitas korup—adalah penyakit akut yang harus menjadi fokus utama bagi kawan-kawan merah dan hitam. Ideologi semegah Marxisme dan seanarkis Anarkisme perlu disemai di tanah yang subur, dengan pupuk yang relevan dengan zaman dan tempat ia tumbuh. Bukan justru diajak berjalan dengan kacamata kuda, menatap lurus pada teks-teks abad ke-19 sementara dunia di sekelilingnya sudah berubah bentuk.

Karena berideologi yang menjauhkan diri dari realitas, yang memisahkan gagasan dari tindakan, yang memisahkan kritik dari introspeksi, hanya akan mengantarkan kita pada satu hal: ejakulasi dini bagi sikap melawan kita. Gairah yang tumpah sebelum pertarungan sesungguhnya dimulai.

Kopi di meja kami sudah benar-benar dingin. Pahitnya terasa pas dengan obrolan malam itu.

Komentar