Malam merayap turun, bukan dengan gegas, melainkan dengan semacam keengganan yang khusyuk, seolah ia pun tahu ada sudut-sudut kota yang tak ingin ia ganggu tidurnya. Dan di salah satu tikungan itu, di bawah pendar lampu jalan yang lebih mirip kunang-kunang lelah, sebuah gerobak berdiri seperti monumen bagi segala yang tak terucapkan. Inilah warung angkringan itu. Malam ini, aku percaya, ia bukan sekadar tempat berjual-beli nasi kucing dan sate usus. Malam ini, dan mungkin malam-malam lainnya, ia adalah sebuah altar. Altar kecil bagi kerinduan.
Lihatlah bagaimana penjualnya bergerak. Tangannya lincah, tetapi tidak terburu-buru, saat membakar sate di atas anglo yang baranya menyala redup. Asapnya membubung, tipis dan wangi, membawa aroma arang dan bumbu yang terbakar menjadi semacam dupa yang menenangkan udara. Orang-orang duduk berimpitan di bangku kayu panjang, bahu bertemu bahu, tetapi tatapan mereka sering kali kosong, menembus kepulan uap dari gelas-gelas teh jahe panas. Seolah-olah tubuh mereka ada di sini, namun jiwa mereka sedang berkelana ke alamat lain, ke waktu lain.
Di sinilah waktu ditunda. Jarum jam seakan melunak, enggan berdetak terlalu keras. Pesanan kopi yang diseduh dengan air mendidih dari ceret tembaga yang legam itu adalah sebuah ritual, bukan transaksi. Menunggunya adalah bagian dari ibadah. Di ruang remang-remang yang diciptakan oleh lampu teplok berselimut jelaga ini, tak ada yang dikejar dan tak ada yang mengejar. Semua percakapan terdengar seperti bisikan, bahkan ketika diucapkan dengan volume biasa. Kata-kata itu tidak melesat untuk segera ditangkap, melainkan dibiarkan menggantung di udara pekat, berbaur dengan asap rokok kretek dan aroma jahe. Menjadi bagian dari atmosfer, menjadi saksi bisu bagi jeda yang diciptakan setiap pengunjungnya.
Dan di tengah kerumunan sunyi itulah, aku melihatmu. Tentu saja bukan dirimu yang sesungguhnya. Kau adalah bayangan yang terbuat dari uap teh panas, siluet yang terbentuk dari permainan cahaya dan asap. Di sini, di altar ini, bayangan seseorang yang jauh terasa lebih nyata daripada orang-orang yang duduk berdesakan di sebelahku. Tawa mereka, obrolan mereka tentang politik atau harga cabai, terdengar seperti siaran radio dari frekuensi yang jauh. Sementara senyummu, yang hanya ada di dalam ingatanku, terasa begitu dekat, begitu menghangatkan, lebih nyata dari bara di anglo itu.
Aku memesan segelas jahe susu. Tanganku menggenggam gelas yang panas, merasakan kehangatannya merambat perlahan, dan aku membayangkan kehangatan itu adalah sisa genggaman tanganmu. Aku mengambil sebungkus nasi kucing, membukanya perlahan. Sesendok demi sesendok, aku tidak sedang makan. Aku sedang melakukan ziarah ke masa lalu, ke sebuah sore ketika kita berbagi sebungkus nasi yang sama di bawah langit yang berbeda. Di sini, setiap gigitan adalah kenangan. Setiap tegukan adalah panggilan.
Rindu, pada akhirnya, tidak membutuhkan tempat megah. Ia tidak meminta kafe dengan interior gemerlap atau restoran dengan daftar menu yang panjang. Ia tidak butuh musik jazz atau sofa yang empuk. Rindu hanya butuh sebuah ruang yang jujur. Ruang di mana kepura-puraan luruh bersama malam. Cukup meja sederhana dari kayu yang sedikit lengket, cahaya lampu redup yang tak sanggup menelanjangi kesedihan di wajah, dan yang terpenting: kesediaan hati untuk menunggu. Menunggu sesuatu yang mungkin tak akan pernah datang, tetapi proses menunggunya itu sendiri telah menjadi tujuan.
Para lelaki dan perempuan yang datang ke angkringan ini, barangkali mereka semua adalah peziarah sepertiku. Mereka membawa kerinduan mereka masing-masing. Rindu pada kampung halaman, rindu pada kekasih yang tak tercapai, rindu pada masa lalu yang tak bisa diulang, atau mungkin rindu pada versi diri mereka yang telah lama hilang. Gerobak angkringan ini menjadi titik pertemuan, bukan bagi tubuh-tubuh mereka, tetapi bagi rindu-rindu mereka yang tak bernama. Kami duduk bersama dalam komuni sunyi, berbagi altar yang sama tanpa perlu saling bertanya.
Malam semakin larut. Beberapa orang pamit, meninggalkan bangku yang segera diisi oleh wajah baru. Tapi siklusnya tetap sama. Hening yang sama, penantian yang sama. Penjual itu terus mengipasi baranya, menjaga apinya tetap hidup, seolah ia adalah penjaga kuil yang memastikan api suci tak pernah padam. Api bagi para perindu.
Karena rindu, seperti warung ini, selalu hidup di sela-sela. Di sela-sela hiruk pikuk kota, di sela-sela detik yang berlari. Ia tidak berteriak, ia hanya berbisik. Ia tidak menuntut, ia hanya hadir. Dan di altar angkringan ini, di bawah langit malam yang tak peduli, bisikan itu menjadi satu-satunya doa yang paling khusyuk. Doa yang terbuat dari kepulan asap, segelas teh panas, dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar pergi.
Komentar
Posting Komentar