Ada segelas badai. Mengamuk. Bukan di samudra, bukan di langit pekat yang siap menumpahkan amarahnya. Badai itu terkunci rapat. Dalam selaput tipis karet berwarna merah jambu. Sebuah balon. Balon itu dipegang badut. Tangannya yang bersarung putih menggenggamnya erat, seolah menggenggam nasibnya sendiri. Atau nasib dunia. Siapa yang bisa membedakannya?
Ia tertawa. Tentu saja ia tertawa. Mulutnya dilukis begitu. Garis merah membentuk sabit permanen yang tak bisa ditawar-tawar. Ia tak pasang raut cemberut. Itu bukan tugasnya. Tugasnya adalah menelan badai itu utuh-utuh, menyimpannya di balik iga, lalu menyajikan senyum palsu sebagai hidangan utama. Ia coba menghibur. Lengan bajunya yang kebesaran melambai-lambai, sepatunya yang seperti kapal karam berdecit-decit di atas panggung kehidupan yang licin. Tapi di balik setiap gerak jenaka, ada getar yang lain. Ia coba kabur. Kabur dari badai di tangannya, kabur dari topeng di wajahnya, kabur dari dirinya sendiri yang sudah tak ia kenali.
Di sudut panggung yang lain, boneka salju meluncur hancur. Tadinya ia begitu putih, begitu polos, dengan syal rajutan dan hidung wortel yang mencuat congkak. Tapi lampu sorot terlalu panas. Tepuk tangan penonton terlalu membakar. Perlahan ia meleleh, genangan air mata dingin yang tak sempat ditangisi. Kehancuran yang sunyi. Kehilangan bentuk yang tak terhindarkan. Pertunjukan harus terus berjalan.
Lalu Pinokio muncul. Hidungnya bukan lagi sekadar kayu. Hidungnya adalah monumen kebohongan, menjulur panjang berkilo-kilo, menembus tirai panggung, meliuk-liuk di antara penonton, menjadi bagian dari arsitektur gedung opera itu sendiri. Pinokio bego. Begitu dungu, begitu naif. Peri Biru bertanya padanya, pertanyaan paling sederhana di kolong langit. “Apa yang kau rasakan, Pinokio?” Dan ia menjawab, “Aku bahagia.” Dor! Hidungnya memanjang lagi satu kilo. Ditanya jujur tentang perasaan ia bohong. Dasar tak berperasaan. Mungkin bukan tak berperasaan, mungkin ia hanya tak tahu lagi apa itu rasa. Rasa sudah menjadi kosa kata asing. Liur di mulutnya terasa seperti pasir.
Besok, kata dalang, lihat ia jadi buaya kayu. Transformasi sempurna dari boneka yang ingin menjadi manusia, menjadi monster yang tak punya keinginan apa-apa selain memangsa. Sisik kayunya mengkilat. Rahangnya mengatup dengan bunyi debam yang mematikan. Matamu beton. Keras, dingin, abu-abu. Tak ada lagi binar kebohongan di sana, yang ada hanya kekosongan final. Dan senyummu? Senyum monoton. Terukir paten, seperti senyum si badut tadi. Keduanya adalah kerabat dekat dalam dinasti kepalsuan.
Di opera aku menonton. Aku, si penonton tunggal, atau mungkin aku adalah bagian dari pertunjukan itu sendiri. Batasnya kabur. Aku melihat tarian lengan memuai. Tangan-tangan para penari, atau mungkin hanya lenganku sendiri, bergerak tanpa henti, tanpa tujuan. Seperti kabel-kabel telanjang yang dialiri listrik sepanjang siang. Bergetar, berbahaya, penuh energi sia-sia. Dalam tarian liar itu, sebuah pertanyaan terlempar ke udara pengap: Siapakah yang kau peluk? Lengan-lengan itu merengkuh angin, memeluk kehampaan, mencari bentuk yang tak pernah ada.
Maaf, aku hilang bentuk. Seperti boneka salju yang luluh. Seperti Pinokio yang menjadi buaya. Aku adalah badut yang balonnya pecah dan badainya tumpah ruah membanjiri panggung. Sajakku hantu. Kata-kata yang kutulis melayang tanpa tubuh, berbisik tanpa suara, menghantui koridor-koridor kosong di kepala. Mereka adalah jejak dari sesuatu yang pernah ada, tapi kini hanya gema.
Dan kakiku. Kakiku bukan lagi daging dan tulang. Kakiku kaki gedung gagah tinggi. Aku tertancap di tanah ini, di kota ini, di panggung ini. Kokoh, megah, tapi tak bisa melangkah. Aku hanya bisa berdiri diambang bimbang. Menjulang ke langit dengan jendela-jendela yang seperti mata kosong. Menatap cakrawala yang sama setiap hari, menunggu sesuatu yang tak pernah datang.
Di atas sana, di puncak keangkuhanku yang statis, cahaya menimang bintang remang-remang. Lampu-lampu kota yang pucat mencoba menghibur langit yang berduka. Lalu bulan, dari balik persembunyiannya yang paling pengecut, dari balik mendung awan hitamnya, bilang cilukba. Sebuah kejutan kecil yang tak lucu. Secercah harapan yang segera ditelan kembali. Gulita gurita. Malam merayap dengan lengan-lengan tentakelnya, lengket dan menyesakkan.
Di sanalah ia datang. Tinta hitam. Tinta asmara. Gelap pekat yang lahir dari gurita malam itu adalah satu-satunya jawara. Ia mengalir dari ujung jemari, menjadi senjata, menjadi jalan pulang. Aku mulai menulis tangis yang menetas. Setiap huruf adalah retakan pada cangkang telur kesedihan. Setiap kalimat adalah makhluk mungil yang menjerit untuk pertama kalinya. Mereka menetas dalam rahim kertas. Hangat, lembap, dan penuh darah.
Perlahan, tulisan itu bergerak. Menuju atas. Mendaki dinding-dinding gedung kakiku. Sepintas kata-kata menjelma menjadi sulur-sulur yang rapuh. Meretas doa-doa. Bukan lagi memanjatkan, tapi meretasnya. Membongkar paksa kode-kode langit, mencari jawaban dengan cara yang brutal. Karena di dalam opera yang absurd ini, di antara badut, Pinokio, dan gedung-gedung yang bimbang, doa yang sopan tak akan pernah didengarkan. Badai harus menemukan muaranya sendiri. Di atas kertas. Kata demi kata. Hingga tetes tinta terakhir.
Komentar
Posting Komentar