Kenangan, agaknya, selalu dipeluk oleh lengan yang teramat panjang. Lengan itu tak kasatmata, merentang dari masa lalu yang paling senyap, melintasi hari ini yang riuh oleh ketiadaanmu, dan menjulur entah sampai kapan. Lengan itu memelukku—atau barangkali mencekikku, aku tak pernah benar-benar yakin—dan dari sela-sela jarinya yang renggang, ia menabur beberapa serpihan tentang dirimu. Serpihan itu jatuh seperti abu kremasi yang paling puitis: sepotong kisah yang kau ceritakan di bawah lampu jalan yang kuning, sebentuk senyummu yang terbit sepersekian detik lebih cepat dari mentari, lalu lenyap. Aku memungutinya satu per satu, menyusunnya menjadi mozaik wajahmu di dasar batinku yang paling palung.
Dan waktu berjalan bukan sebagai garis lurus, melainkan sebagai warna yang luruh di cakrawala. Lihatlah, langit telah berganti menjadi ungu. Warna para duda dan janda, warna para pecinta yang kehilangan. Di kamarku, kelambu yang lunglai memeluk jendela hangat, seolah ia adalah satu-satunya kekasih yang tersisa, yang setia menawarkan dekap tanpa pernah meminta balas. Tak ada pesan masuk di layar telepon genggam. Tak ada suara-suara. Semuanya telah dilahap oleh sunyi yang begitu purba, sunyi yang sama yang mungkin hadir saat kata pertama belum diciptakan. Sunyi ini mendera, mencabik-cabik setiap detik dalam dua puluh empat jam yang membentang tanpa ampun. Selama itulah aku mencintaimu, dalam siklus yang tak pernah menemukan kata sudah.
Cinta ini, apalah ia jika bukan sebuah roda? Roda yang porosnya adalah namamu, dan setiap putarannya adalah rindu. Ia berderit setiap kali aku mencoba berhenti, lalu kembali menggelinding tanpa henti, memutari labirin yang sama setiap kali aku nekat mencarimu. Aku mencarimu, tentu saja. Bukan di alamat rumahmu atau di kafe tempat kita pernah duduk dalam diam yang canggung. Aku mencarimu di tempat-tempat di mana kau mungkin bersembunyi paling dalam.
Aku mencarimu di dalam baris-baris puisi yang tak pernah selesai kutulis, yang setiap katanya adalah gema dari suaramu. Aku mencarimu dalam kata-kata yang tersirat di butiran embun pada sehelai daun di suatu pagi buta, saat dunia masih begitu perawan dan segala resah berkecibun di dalam dada seperti kawanan lebah yang kehilangan sarang. Resah, sebab setiap tetes embun itu memantulkan bayangan langit, tetapi tak pernah sekalipun memantulkan bayanganmu yang berdiri di sampingku. Maka pencarian itu menjadi ziarah yang paling khusyuk sekaligus paling sia-sia.
Namun, dalam hening yang memabukkan itu, sebuah pertanyaan justru menjadi manis dengan sendirinya. Pertanyaan itu tak perlu diucapkan, ia hanya perlu dirasakan. Ia mengambang di udara, terbayang kembali saat-saat paling sederhana yang kini terasa paling agung: saat kita tak sengaja bertemu pandang di sebuah koridor yang ramai, lalu kita saling melempar senyum—senyum yang tak berarti apa-apa dan sekaligus berarti segalanya. Lalu sunyi. Sunyi yang datang setelah senyum itu adalah jurang yang paling dalam, tempat semua kemungkinan jatuh dan hancur berkeping-keping.
Di tubir jurang itulah aku kini berdiri, berteriak tanpa suara ke dalam hatimu. Aku ingin mengerti. Sungguh, hanya itu. Aku ingin sekali mengerti, di dalam semesta yang berdetak di balik tulang rusukmu itu, apakah di sana ada aku? Atau sekadar gema dari namaku? Apakah di sana ada ruang, sekecil apa pun, yang sengaja kau sisakan untukku, ataukah ruang itu telah penuh oleh nama-nama lain, oleh cerita-cerita lain yang tak menyertakan aku sebagai salah satu tokohnya? Apakah ada aku, atau aku? Pertanyaan ini kuulang terus-menerus hingga menjadi mantra, menjadi doa, menjadi kutukan.
Sebab pada akhirnya, ini bukan lagi tentang memilikimu. Aku tahu, beberapa hal di dunia memang diciptakan hanya untuk dikagumi dari jauh, seperti bintang atau lukisan mahakarya. Ini tentang memahami. Aku ingin memahami sajak yang sedang memahamimu. Sajak apa yang membuat matamu memandang dunia dengan cara seperti itu? Narasi macam apa yang membentuk alur senyummu? Aku ingin membaca setiap baitnya, mengerti setiap metaforanya, menyelami setiap enjambemen yang menggantung di antara napasmu. Mungkin dengan memahami sajak itu, aku bisa berhenti memutari roda rindu ini. Mungkin dengan memahami sajak itu, aku bisa berdamai dengan lengan panjang kenangan yang terus memelukku.
Atau mungkin, justru dengan memahaminya, aku akan selamanya terperangkap di dalamnya. Terperangkap dalam ungu langit, dalam sunyi yang mendera, dalam senyum singkat yang menjadi abadi. Tak apa. Setidaknya, di sana, di dalam sajak itu, aku menemukanmu. Dan kau menemukanku. Dalam diam.
Komentar
Posting Komentar