Dan akhirnya, beginilah aku sekarang: kian dilumat oleh kehampaan tanpa pamrih, memilih lirih mendekap di ruang yang ku sebut kesepian. Ini bukan kekalahan, barangkali. Ini semacam gencatan senjata dengan riuh di kepala. Sebuah pilihan sadar untuk berhenti berlari dari bayang-bayang yang toh selalu lebih cepat satu langkah. Di sini, di dalam kungkungan empat dinding yang sama bisunya dengan gawaku, aku mulai belajar mengukur suhu sebelum kedinginan rindu. Sebuah termometer imajiner yang mengukur getar di urat nadi setiap kali namamu—atau sesuatu yang menyerupainya—melintas tanpa permisi.
Gawai hening. Notifikasi yang dulu berdentang seperti lonceng pasar malam kini diam membatu. Tak ada lagi rentetan kata-kata tanpa spasi yang kau kirim tengah malam, tak ada emote lucu atau stiker-stiker bocil yang menjadi bahasa sandi kita. Keheningan digital ini lebih memekakkan daripada sirene ambulans. Kuota internet yang tersisa, yang dulu ludes untuk panggilan video kabur, kini habis oleh film-film Eropa dan Amerika. Bajakan pula. Sebuah ironi kecil yang getir: aku mengisi kekosongan darimu dengan cerita-cerita orang lain yang tak pernah nyata, dengan dialog-dialog pinjaman yang tak akan pernah menjadi milikku. Dalam setiap adegan di layar, aku mencari jejakmu. Ah, berjuta rindu mengingat kelakuanmu yang tanpa pola. Kau adalah anomali yang paling indah, kekacauan yang paling kurindukan.
Ingatan adalah mekanisme pertahanan yang paling kejam. Ia tidak membunuh, hanya menyandera. Masih kuingat jelas beberapa percakapan, meski tak lagi akrab dengan pikiran. Kalimat-kalimat itu melayang seperti hantu, kehilangan konteks tapi tidak bobotnya. Setiap kenangan tentangmu adalah bom waktu sekaligus bumerang. Ia meledak dalam sunyi, melukai tanpa suara, lalu serpihannya kembali lagi, lagi, dan lagi, menancap lebih dalam. Kian rindu meski asing jua denganmu. Wajahmu di benakku mulai pudar di beberapa sisi, suaramu mulai terdengar seperti gema dari sumur tua. Kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi masa lalu yang sama intensnya. Paradoks yang membuatku ingin tertawa dan menangis di saat bersamaan.
Di luar jendela, bangunan-bangunan tinggi berdiri angkuh, menusuk langit tulungagung yang sering kali abu-abu. Beton dan kaca yang dingin itu menjadi latar sempurna bagi upayaku menajamkan kenangan. Aku memandangnya, mencoba memproyeksikan wajahmu di salah satu jendela gedung pencakar langit itu, seolah dengan begitu segalanya akan kembali utuh. Tapi ingatan tak bekerja seperti itu. Semakin keras kau mencoba menggenggamnya, semakin cepat ia menjadi pasir yang lolos dari sela-sela jari. Kota ini, dengan segala kemegahannya, menjadi saksi bisu betapa kecilnya aku di hadapan sebuah kehilangan.
Maka di sinilah aku, berdamai dengan kehampaan. Kehampaan ini "tanpa pamrih" karena ia tak meminta imbalan apa pun. Ia hanya ada, mengisi setiap sudut ruangan, setiap jeda napas. Aku tak lagi melawannya. Aku membiarkannya meresap, menjadi bagian dari udara yang kuhirup, menjadi selimut di malam-malam yang panjang. Jika pada nantinya kepergian ini benar-benar hanya membawa memoar seraya serah—sebuah pengakuan bahwa tak ada lagi yang bisa diperjuangkan—maka biarlah tulisan ini menjadi buktinya. Dalam sajak yang tak utuh ini, dalam kalimat-kalimat yang sengaja kubuat pincang ini, sesungguhnya aku pasrah. Sepasrah daun kering yang menyerahkan diri pada angin, tak lagi bertanya ke mana ia akan dibawa.
Komentar
Posting Komentar