Orang-orang bilang, jangan meromantisasi hidup. Hidup itu keras, kata mereka, penuh taring dan keringat yang asin. Hidup adalah tagihan yang harus dibayar, kereta yang harus dikejar, dan mimpi yang remuk sebelum sempat mekar. Mereka benar. Tentu saja mereka benar. Tapi apakah hanya itu? Apakah hidup hanya sebatas transaksi dan perjuangan?
Lalu bagaimana kita akan menamai pagi? Ketika embun, dengan kelembutan yang tak terucap, memeluk helai-helai daun seolah itu adalah pertemuan terakhir mereka sebelum sang mentari datang menjemput. Itu bukan sekadar fisika, bukan sekadar kondensasi. Itu adalah surat cinta semalam suntuk dari langit kepada bumi, ditulis dalam aksara bening yang hanya bisa dibaca oleh keheningan. Sebuah janji bahwa bahkan setelah kegelapan terpekat sekalipun, akan selalu ada kesejukan yang membasuh. Bukankah itu sebuah romansa?
Lihatlah mentari. Ia terbit tanpa pernah bertanya siapa yang layak atau tidak layak menerima hangatnya. Sinarnya adalah pelukan yang tak pandang bulu, jatuh di atas atap gedung pencakar langit yang angkuh dan di atas gubuk reot di bantaran kali dengan kemurahan hati yang sama. Ia menghangatkan punggung seorang bankir yang tergesa dan punggung seorang kuli panggul yang terbakar. Ia tak meminta imbalan, tak menuntut balas jasa. Ia hanya memberi. Terus-menerus memberi. Sebuah kesetiaan tanpa syarat yang setiap hari diulang. Jika itu bukan romansa, lalu kita harus menyebutnya apa? Kepedulian? Kewajiban kosmik? Kata-kata itu terasa begitu dingin dan berjarak.
Dan malam. Ah, malam. Ketika rembulan menggantung di angkasa, menjadi saksi bisu bagi percakapan yang tak pernah selesai, bagi rindu yang menggantung di antara dua jendela, bagi tangis yang diredam bantal. Ia menyepuh atap-atap seng dengan warna perak, mengubah gang-gang sempit yang busuk menjadi koridor misteri yang magis. Di bawah cahayanya, segalanya menjadi mungkin. Kegelapan tidak lagi menakutkan, ia menjadi panggung bagi kerlip bintang, bagi kunang-kunang yang menari, bagi harapan-harapan yang dipanjatkan dalam sunyi. Rembulan adalah penyair agung yang menulis sajaknya dengan cahaya pinjaman, membuktikan bahwa keindahan bisa lahir dari ketiadaan. Sebuah romansa dalam keheningan.
Mereka bilang, jangan meromantisasi air mata. Air mata adalah kelemahan, tanda kekalahan. Benarkah? Atau air mata justru adalah bahasa paling jujur ketika mulut tak lagi sanggup berkata? Air mata adalah sungai yang membasuh ketakutan, melarutkan gumpalan sakit di dada. Ia adalah pengakuan paling murni akan kerapuhan kita sebagai manusia. Dalam setiap tetesnya, terkandung seluruh semesta perasaan: kehilangan, kelegaan, kebahagiaan yang meluap, duka yang tak terperi. Air mata adalah bukti bahwa kita pernah merasa begitu dalam, begitu hidup. Membiarkannya mengalir adalah sebuah keberanian, sebuah perayaan atas hati yang belum membatu. Dan itu, adalah romansa yang paling personal.
Hidup memang keras. Tapi di sela-sela kekerasan itu, ada celah-celah di mana keajaiban merembes masuk. Pada secangkir kopi yang diseduh tangan keriput seorang ibu di pagi buta. Pada tawa seorang sahabat yang meledak tanpa alasan di tengah obrolan yang tak penting. Pada dengkur napas orang terkasih di samping kita, sebuah melodi yang menenangkan segala cemas. Pada aroma tanah setelah hujan pertama, sebuah parfum purba yang membangkitkan ingatan entah tentang apa.
Semua saling keterhubungan. Embun dengan daun. Mentari dengan semesta. Rembulan dengan kegelapan. Air mata dengan jiwa. Keterhubungan inilah inti dari segala romansa. Ia adalah benang tak kasat mata yang menjahit setiap potongan peristiwa, setiap helaan napas, setiap degup jantung menjadi sebuah permadani besar yang kita sebut kehidupan.
Meromantisasi hidup bukanlah tentang menyangkal lukanya, melainkan tentang keberanian untuk melihat keindahan pada bekas lukanya. Ini bukan tentang lari dari kenyataan, tetapi tentang menyelam lebih dalam ke jantung kenyataan itu sendiri dan menemukan puisi di sana.
Sama halnya dengan percikan cahaya kepada penciptanya. Kita adalah percikan-percikan itu. Terlempar ke dalam ruang dan waktu, berkelip sejenak, lalu padam. Namun, selama berkelip, kita membawa rindu abadi kepada sumber cahaya itu. Rindu untuk kembali, rindu untuk menjadi utuh. Perjalanan kita, dengan segala jatuh dan bangunnya, dengan segala tawa dan tangisnya, adalah perjalanan pulang. Dan perjalanan pulang selalu, dan akan selalu menjadi, sebuah kisah romansa. Tidak terpisahkan.
Komentar
Posting Komentar