Langsung ke konten utama

Seekor Kecoak di Dalam Kepala

Pada sebuah pagi, tanpa alasan yang jelas, engkau terbangun dari tidur yang gelisah dan mendapati dirimu terasa asing. Bukan, engkau tidak berubah menjadi serangga raksasa seperti Gregor Samsa dalam dongeng kelam Franz Kafka. Tubuhmu masih sama. Wajah di cermin masih wajah yang itu-itu saja. Namun, ada yang bergeser. Ada yang retak. Di dalam tempurung kepalamu, engkau merasa telah menjadi seekor kecoak. Asing, terpencil, dan tak lagi mengenali peran yang selama ini kau mainkan dengan begitu patuh.

​Perjalanan manusia, konon, adalah sebuah ziarah panjang. Sebuah narasi agung dari buaian hingga liang lahad, diisi dengan tawa dan tangis, kemenangan dan kekalahan. Kita diajari untuk percaya pada alur yang lurus: sekolah, bekerja, menikah, punya anak, lalu mati dengan tenang. Sebuah skenario yang rapi. Tapi Kafka, melalui Gregor Samsa, membisikkan kebenaran yang lebih getir: perjalanan ini sering kali adalah sebuah komedi absurd yang ditulis oleh seorang penulis gila.

​Gregor Samsa adalah kita. Kita adalah Gregor Samsa. Sebelum metamorfosisnya, ia adalah tulang punggung keluarga. Seorang salesman yang menempuh perjalanan melelahkan, menelan ludah atas hinaan atasan, semua demi melunasi utang orang tua dan menyekolahkan adiknya. Hidupnya punya kebermanfaatan. Ia adalah roda penggerak, sekrup penting dalam mesin keluarga. Identitasnya adalah fungsinya. Ia bermakna karena ia bermanfaat. Bukankah begitu juga hidup kita? Kita adalah pekerjaan kita, gelar kita, gaji kita, peran kita sebagai anak, pasangan, atau orang tua. Kita adalah daftar fungsi yang kita centang setiap hari.

​Lalu, pagi itu tiba. Pagi di mana Gregor terbangun sebagai seekor serangga. Seketika, semua fungsinya lenyap. Ia tak bisa lagi bekerja. Ia tak bisa lagi berbicara dalam bahasa manusia. Ia hanya bisa berdesis dan merayap. Ia menjadi beban. Dan di sinilah tragedi sesungguhnya dimulai. Bukan pada perubahan fisiknya, melainkan pada bagaimana dunia di sekelilingnya—keluarga yang paling ia cintai—merespons ketiadaan fungsinya.

​Cinta mereka ternyata bersyarat. Kasih sayang mereka terikat pada slip gaji yang ia bawa pulang. Ketika ia tak lagi bermanfaat, ia bukan lagi Gregor sang anak dan kakak. Ia hanyalah "makhluk itu". Seekor hama yang menjijikkan yang harus disingkirkan. Pintu kamarnya menjadi perbatasan antara dunia manusia dan dunia absurd miliknya. Ia terasing di rumahnya sendiri, dikhianati oleh definisi sempit tentang apa artinya menjadi manusia.

​Perjalanan kita pun demikian. Kadang, tanpa perlu berubah wujud, kita merasakan "metamorfosis" itu. Mungkin saat kita dipecat dari pekerjaan yang telah mendefinisikan kita selama bertahun-tahun. Mungkin saat kita divonis penyakit yang merenggut kemandirian kita. Mungkin saat kita kehilangan seseorang dan peran kita dalam hidupnya ikut terkubur. Pada saat-saat itulah kita terlempar ke dalam kamar Gregor Samsa. Kita tak lagi bermanfaat dalam ukuran dunia. Kita menjadi tanda tanya. Dan kita mulai bertanya: jika aku bukan lagi pekerjaanku, bukan lagi kekuatanku, bukan lagi peranku, lantas siapa aku?

​Di sinilah pencarian kebermaknaan yang sesungguhnya berawal, di tengah puing-puing kebermanfaatan yang hancur. Gregor, dalam keheningan dan keterasingannya, menemukan dunia kecil di dalam kamarnya. Ia merayap di dinding dan langit-langit, menemukan perspektif baru yang tak pernah ia bayangkan sebagai manusia. Ia masih memiliki ingatan, kerinduan pada musik biola adiknya, sebersit cinta yang tak sampai. Apakah hidupnya saat itu tak bermakna sama sekali? Atau justru saat itulah ia paling jujur pada dirinya, terlepas dari semua label dan tuntutan dunia luar?

​Kafka tak memberi jawaban. Ia hanya menyodorkan cermin yang retak. Ia menunjukkan betapa rapuhnya jati diri yang kita bangun di atas fondasi pengakuan orang lain. Perjalanan hidup bukanlah garis lurus yang menyenangkan. Ia adalah labirin absurd. Kadang kita berlari gagah di jalan utama, kadang kita tersesat menjadi serangga di lorong yang gelap. Kadang kita merasa dicintai karena menjadi sesuatu, lalu detik berikutnya dibuang karena bukan apa-apa lagi.

​Pada akhirnya, Gregor Samsa mati karena sebuah apel busuk yang dilempar ayahnya, dan karena kesepian yang menggerogoti jiwanya. Keluarganya merasa lega. Mereka bisa kembali melanjutkan hidup, seolah seekor kecoak itu tak pernah ada. Dunia terus berputar.

​Barangkali, makna hidup tidak ditemukan dalam jawaban final. Barangkali, ia tersembunyi dalam keberanian untuk terus bertanya di tengah absurditas. Keberanian untuk tetap merayap di dinding, bahkan ketika seluruh dunia hanya melihatmu sebagai hama yang menjijikkan. Sebab di pagi mana pun, kita semua bisa terbangun sebagai Gregor Samsa, dan bertanya-tanya, suara siapakah yang akan kita dengar: suara dunia yang menuntut kita untuk bermanfaat, atau desis lirih dari dalam diri yang hanya ingin sekadar ada dan diakui keberadaannya? Entahlah. Barangkali perjalanan ini memang hanya tentang itu.

Komentar