Langsung ke konten utama

Mantra Kala Macet dan Puisi yang Menjelma Kura-kura


Maka, biarkanlah puisi bekerja selayak dedengkot. Selayaknya jagoan tua yang tahu kapan harus datang dan kapan harus pergi, tanpa perlu diundang. Ia tak menggedor pintu di siang bolong, tak pula berteriak di tengah riuh pasar. Ia menyelinap, mengusik tidur pulasmu atau menyela lamunanmu di antara rapat-rapat dewan direksi yang membosankan. Sebab ia, seperti yang selalu orang bilang, adalah mantra. Dan mantra tidak bekerja seperti titah seorang raja yang minta dipatuhi saat itu juga. Mantra adalah bisikan yang sengaja ditinggalkan di telinga, untuk kemudian kau temukan gemanya nanti.

Kapan nanti itu?

Nanti adalah ketika klakson-klakson di jalanan protokol menjelma paduan suara paling sumbang pada Sabtu malam. Ketika lampu merah terasa lebih lama dari penantian sebuah janji. Di tengah deru kencang angin-angin kemacetan itulah, di dalam kaleng berjalanmu yang terkunci rapat, sebaris kata yang pernah kau baca sambil lalu tiba-tiba melompat ke depan, menuntut perhatian. Aku, kau nyaman dalam pelukan adalah pengertian paling metaforis. Kalimat itu datang begitu saja, tanpa permisi, dan tiba-tiba seluruh kebisingan di luar sana menjadi senyap. Hanya ada kau dan gema dari mantra itu. Hanya ada kau dan perasaan-perasaan yang katamu sedemikian membingungkan, yang kini terasa begitu telanjang di bawah sorot lampu jalanan.

Dan bukankah ini juga caraku menyapamu? Sebuah sapaan yang tak bisa lagi kau terima seperti dulu. Sebuah sapaan yang tak lagi bisa lugas dan sederhana. Dulu, kata mungkin adalah jembatan. Kini, kata adalah labirin. Kita sama-sama tersesat di dalamnya, mencari jalan keluar atau mungkin, diam-diam, menikmati keterasingan di setiap persinggahan. Semakin waktu berjalan, persinggahan itu terasa semakin asing, semakin jauh dari titik berangkat.

Kita hidup di zaman ketika kabar adalah komoditas yang paling deras. Notifikasi berdentang setiap detik. Linimasa tak pernah berhenti bergulir. Tapi dari gawai yang terus berbicara itu, dari dunia maya yang tak pernah tidur itu, tak ada satu pun kabar baik yang didapati. Bahkan dari catatan singkat di Instagram yang hanya butuh sepatah kata, kebisuan terasa lebih nyaring daripada ribuan likes yang bertebaran di foto orang lain. Sunyi yang tercipta dari ketiadaan sapamu adalah sunyi yang paling brutal, karena ia lahir di tengah keramaian paling paripurna.

Maka beginilah adanya. Kita menjadi seperti kawanan burung di langit senja. Pernah terbang bersama dalam formasi yang begitu indah, menari dalam ritme yang sama, seakan-akan langit diciptakan hanya untuk menjadi panggung pertunjukan kita. Namun sore berganti malam, dan pada akhirnya, setiap burung harus terbang sendiri-sendiri menuju sarangnya masing-masing. Atau mungkin, menuju ketiadaan. Pertunjukan telah usai. Langit kembali kosong.

Dan bila sudah begini, tubuh waktu telah menjelma keseluruhan kura-kura. Ia melambat, menyeret cangkangnya yang berat dengan susah payah. Setiap detik terasa seperti satu jam, setiap jam terasa seperti satu abad. Geraknya yang pelan itu bukan menenangkan, melainkan menyebalkan. Ia memberimu terlalu banyak ruang untuk berpikir, terlalu banyak jeda untuk merasa. Waktu yang melambat adalah siksaan bagi mereka yang ingin segera lupa.

Karena ingatan, makhluk yang manusia sebut dengan nama manis “kenangan” itu, tak pernah ikut melambat. Ia secepat kilat. Ia tak pernah benar-benar pergi, apalagi terlupa. Ia hanya bersembunyi di sudut-sudut gelap, menunggu saat yang tepat untuk melompat keluar dan memberi pelukan. Pelukan yang erat, begitu erat, hingga kau sulit bernapas. Pelukan yang tak bisa kau lepaskan, karena ia adalah bagian dari dirimu sendiri. Kau adalah hantu dari masa lalumu, dan kenangan adalah rumah yang selalu kau datangi.

Puisi-puisi yang kutulis untukmu, kini terasa meranggas lebih dini. Seperti daun-daun di musim kemarau yang salah tanggal. Ia gugur, lalu bepergian, menumpang pada angin, singgah dari halaman ke halaman buku yang lain, dari satu pembaca ke pembaca yang lain. Untuk apa? Hanya untuk menemukan sebenarnya-benarnya pengertian. Mungkin di mataku, puisi itu adalah tentang rindu. Tapi di matamu, ia adalah tentang perpisahan. Dan di mata orang lain, mungkin hanya sekumpulan kata tanpa makna. Daun gugur itu terus mencari tanah yang mau menerimanya, membiarkannya membusuk dan menjadi sesuatu yang baru.

Begitulah mantra bekerja. Ia tidak menjelaskan, ia hanya ada. Ia tidak memberi solusi, ia hanya menemani. Di kala sepi yang paling puncak, di tengah kemacetan yang paling bangsat, atau di saat air mata akhirnya menemukan kata paling goda untuk berlinang. Puisi itu akan datang. Sebagai hantu, sebagai teman, sebagai dedengkot tua yang menepuk pundakmu dan berkata, “Aku di sini.” Tanpa perlu kau minta. Karena ia memang tak pernah ditujukan untuk hari kemarin, tapi untuk hari ini. Hari di mana kau akhirnya mengerti, bahwa upaya paling sederhana untuk menyapa bisa menjelma menjadi perjalanan paling rumit untuk dimaknai.

Komentar