Langsung ke konten utama

Manusia yang Menolak Berhenti

Ada sebuah titik.

Sebuah kamar yang udaranya pengap oleh napas yang terlalu sering dihela. Dindingnya adalah arsip penolakan yang tak kasatmata. Lantainya adalah peta dari langkah-langkah yang berputar di tempat yang sama. Di titik itu, nama tengah setiap orang adalah: Gagal.

Lihatlah mereka hari ini. Yang berdiri di atas panggung, dengan cahaya lampu menyorot wajah. Yang namanya tercetak di sampul buku, di judul film, di papan nama sebuah perusahaan yang menaungi ratusan perut. Yang tangannya menggenggam piala, atau menggenggam tangan lain yang dulu terasa mustahil untuk digapai.

Lihatlah mereka. Dan jangan percaya begitu saja pada kilapnya.

Sebab kilap itu ditempa dalam gelap.

Barangkali, dulu sekali, orang yang hari ini kau sebut CEO itu pernah duduk di lantai kamar kosnya yang sempit. Menatap mi instan terakhir untuk bekal seminggu, sementara proposal bisnisnya dilempar ke tumpukan sampah oleh investor ke sekian. Malam itu, semesta seperti berbisik di telinganya, ”Sudah, hentikan saja. Kau bukan siapa-siapa.” Kegagalan bukan lagi peristiwa. Kegagalan adalah identitas.

Barangkali, penulis yang sajaknya kau kutip untuk merayu kekasihmu itu, dulu pernah memandangi ratusan naskahnya yang menguning di pojok kamar. Setiap lembar adalah kuburan bagi kata-kata yang mati sebelum sempat dibaca. Setiap penolakan dari penerbit terasa seperti vonis. ”Tulisanmu tidak punya nyawa.” Dan ia percaya. Ia merasa dirinya hanyalah kumpulan huruf-huruf mati.

Atau mungkin, sutradara yang filmnya baru saja kau tonton sambil menangis haru itu, pernah menjadi asisten rendahan yang tugasnya hanya membuatkan kopi. Impiannya tentang gambar-gambar bergerak yang bercerita diremehkan menjadi angan-angan bocah. Ia pulang setiap malam dengan bau kopi di tangan dan bau sangsi di sekujur badan. Ia adalah manusia gagal yang kebetulan bisa membuat kopi enak. Hanya itu.

Mereka semua pernah ada di sana. Di titik nol. Di persimpangan antara menyerah dan mencoba (lagi). Menyerah itu mudah. Menyerah itu lega, seperti menanggalkan ransel yang beratnya berton-ton. Menyerah adalah tidur panjang yang nyaman.

Tapi mereka tidak memilih itu.

Mereka tidak memilih berhenti. Ini bukan keputusan heroik yang gegap gempita. Bukan. Keputusan itu sering kali lahir dalam sunyi yang paling privat.

Keputusan itu adalah satu baris kode lagi yang diketik pada pukul tiga pagi, dengan mata perih dan punggung pegal. Keputusan itu adalah satu kalimat lagi yang ditulis di halaman kosong, meski tak yakin akan ada yang membaca. Keputusan itu adalah satu cangkir kopi lagi yang diseduh untuk orang lain, sambil diam-diam merekam dialog dan ekspresi di kepala.

Mereka hanya terus mencoba.

Satu langkah kecil yang terasa sia-sia. Diikuti langkah kecil lainnya. Dan lainnya. Mereka adalah para peziarah yang tak tahu pasti di mana Ka’bah impian mereka berada. Mereka hanya percaya pada arah. Mereka hanya percaya pada gerak. Berhenti berarti mati. Maka, mereka terus bergerak.

Hal yang paling ajaib bukanlah keberhasilan mereka hari ini. Bukan.

Hal yang paling ajaib adalah betapa apa yang mereka genggam hari ini, sering kali jauh melampaui apa yang pernah berani mereka bayangkan di kamar pengap mereka dulu.

Si calon CEO itu, dulu mungkin hanya bermimpi punya warung kecil yang omzetnya cukup untuk makan tiga kali sehari. Ia tidak pernah membayangkan menara kaca dengan ratusan karyawan yang nasibnya ikut ia pikirkan.

Si penulis itu, dulu mungkin hanya berharap satu saja puisinya dimuat di koran lokal, agar bisa ia gunting dan bingkai di dinding kamar. Ia tak pernah menyangka bukunya akan diterjemahkan ke bahasa lain, dibaca orang di belahan bumi yang tak pernah ia tahu namanya.

Mereka tidak pernah mengira.

Sebab di titik terendah, imajinasi tentang keberhasilan pun ikut menciut. Harapan hanyalah sebatas bagaimana caranya bisa bertahan untuk esok hari. Hanya itu.

Ternyata, semesta punya skenarionya sendiri bagi mereka yang menolak berhenti. Jalan setapak yang mereka buka dengan susah payah, dengan sabetan parang berupa konsistensi kecil-kecilan, ternyata adalah awal dari sebuah jalan tol menuju cakrawala yang tak terduga.

Maka, jika hari ini kau merasa berada di titik itu. Di kamar pengap bernama kegagalan. Jika napasmu terasa mahal dan harapan tampak seperti kemewahan. Ingatlah mereka.

Mereka bukan manusia super. Mereka hanya manusia biasa yang pernah berdarah-darah, yang hatinya pernah remuk redam, yang pernah merasa menjadi manusia paling gagal di muka bumi.

Bedanya hanya satu.

Mereka tidak berhenti.

Maka, jangan berhenti. Rawat harapanmu itu, sekecil apa pun ia. Sirami dengan satu langkah lagi. Pupuki dengan satu upaya lagi. Ia mungkin tidak akan tumbuh menjadi pohon raksasa esok pagi. Tidak. Biarkan ia tumbuh perlahan. Biarkan akarnya mencengkeram tanah keraguanmu dengan sabar.

Wujudkan. Pelan-pelan. Sebab sering kali, hal-hal terindah dalam hidup bukanlah sesuatu yang kita kejar, melainkan sesuatu yang kita tumbuhkan.

Komentar