Ada dua pilihan di hadapan kesedihan: es krim atau cokelat. Hanya itu. Cukup satu gigitan, atau satu sendok dingin yang menyentuh langit-langit mulut, dan dunia yang bising di kepala seolah-olah mengambil jeda. Seluruh kerumitan sejarah, seluruh pertanyaan tentang masa depan yang remang-remang, lumer bersama manis yang artifisial. Inilah solusi instan yang ditawarkan zaman: kebahagiaan singkat yang bisa dibeli dengan uang receh. Sebuah kebohongan kecil yang nikmat, yang kita izinkan untuk menipu diri sendiri, lagi dan lagi.
Sebab zombie-zombie itu kembali menyerbu. Mereka tidak datang dari kuburan dengan langkah terseret. Mereka merayap dari sudut-sudut kepala yang tak pernah benar-benar sunyi; bisikan-bisikan masa lalu, potongan-potongan berita yang tak utuh, wajah-wajah yang seharusnya terlupakan namun menolak untuk pergi. Mereka adalah hantu dari sebuah era ketika kebenaran adalah komoditas langka, sebuah hidangan mahal yang disajikan hanya pada piring-piring para dewa di menara gading. Kita, rakyat jelata, hanya kebagian remah-remah dongeng pengantar tidur yang membuat kita terlelap terlalu lama, bahkan ketika matahari sudah meninggi.
Ini warisan, kata mereka. Warisan Orde Baru. Sebuah masa di mana pengetahuan adalah ladang ranjau, dan pemahaman adalah buah terlarang. Kau boleh tahu, tapi hanya sebatas yang diizinkan. Kau boleh paham, tapi hanya sesuai tafsir yang telah disiapkan. Buku-buku dibakar bukan dengan api, melainkan dengan pengabaian. Gagasan-gagasan dikubur bukan di dalam tanah, melainkan di dalam kurikulum yang seragam dan tumpul. Generasiku lahir dari rahim kebisuan itu, tumbuh dengan diet informasi yang terkontrol, seolah-olah dunia di luar sana terlalu berbahaya untuk diketahui apa adanya.
Dan di sinilah aku. Serupa tumpukan buku yang dilarang terbit, yang sampulnya memudar di gudang-gudang pengap. Setiap lembar kertasku berisi aksara yang tak pernah diajarkan untuk dibaca, setiap paragrafku menyimpan cerita yang dianggap tak perlu untuk didengar. Aku adalah pengetahuan yang diabaikan, kebenaran yang tergeletak di trotoar, dilangkahi oleh orang-orang yang sibuk berlari mengejar bayangannya sendiri. Aku berteriak dalam diam, dan duniaku adalah perpustakaan yang tak pernah punya pengunjung.
Maka perjalanan ini terasa seperti laku seorang gelandangan. Bukan karena tak punya rumah, tapi karena tak punya peta. Atau lebih buruk lagi, peta yang kupegang adalah peta buta yang diwariskan; nama-nama jalan telah diganti, sungai-sungai telah dialihkan arusnya, dan titik-titik koordinatnya sengaja dibuat keliru. Aku berjalan, tersaruk-saruk, mencoba mencari garis takdir di tengah rimba persaingan. Semua orang di sekelilingku juga pelari, juga pejalan kaki yang kebingungan. Kita saling sikut, saling dorong, dalam sebuah perlombaan menuju garis finis yang tak pernah ada. Kita hanya menunggu. Menunggu kereta yang tak pernah dijadwalkan tiba, menunggu panggilan yang tak pernah ada, menunggu sebuah tanda bahwa penantian panjang ini ada artinya.
Lalu apa gunanya es krim vanila dengan saus karamel? Apa artinya sebatang cokelat hitam 70% yang lumer di lidah saat zombie-zombie itu menggerogoti logika dari dalam? Manis ini hanyalah interupsi. Sebuah koma di tengah kalimat panjang penderitaan yang tak kunjung menemukan titiknya. Ia tidak membunuh para zombie, ia hanya membuat mereka sejenak tak terlihat. Ia tidak memberikan peta yang benar, ia hanya membuatku lupa bahwa aku sedang tersesat.
Setiap sendok es krim adalah pengakuan atas kekalahan. Setiap gigitan cokelat adalah penyerahan diri pada ilusi. Aku menelan kebohongan manis itu bulat-bulat, membiarkannya melapisi kerongkonganku yang kering karena terlalu banyak bertanya tanpa pernah menemukan jawaban. Untuk sesaat, hanya untuk sesaat, aku bukan buku yang diabaikan. Aku bukan gelandangan di negeri peta buta. Aku hanyalah seorang manusia yang menikmati lelehan gula di lidahnya.
Namun setelah suapan terakhir, setelah manis itu hilang dan hanya menyisakan dingin di gigi, aku kembali menjadi diriku. Para zombie itu menyeringai dari sudut mata. Peta buta itu kembali terasa kasar di genggaman. Dan aku tahu, perjalananku sebagai gelandangan belum akan usai. Mungkin besok aku akan mencoba rasa yang lain. Stroberi, atau mungkin mint. Siapa tahu, kebohongan dengan rasa yang berbeda akan terasa sedikit lebih nyata.
Komentar
Posting Komentar