Ada sebuah masa—sebuah zaman sebelum namamu menjadi mata angin—ketika peta dalam diriku hanyalah sketsa buram tanpa tujuan. Aku adalah kumpulan jalan-jalan buntu, persimpangan yang meragu, dan lanskap monoton yang diulang-ulang setiap pagi. Aku berjalan, berlari, tersandung; mengira semua gerak itu adalah kehidupan. Namun, aku tak pernah benar-benar beranjak dari sebuah titik beku di kedalaman jiwa. Aku adalah penonton dalam teater hidupku sendiri, bertepuk tangan pada adegan yang tak kumengerti, menangisi kesedihan yang terasa asing.
Lalu kau datang. Tidak, kau tidak datang laksana badai atau fajar yang menyilaukan. Kau hadir seperti sebuah kalimat yang terbisik di tengah riuh pasar. Sebuah melodi minor yang tiba-tiba terdengar jernih di antara hingar-bingar orkestra kota yang sumbang. Namamu, ah, namamu. Semula ia hanya rangkaian aksara, getar udara yang tertangkap telinga. Namun, entah bagaimana, ia menyelinap masuk, menemukan sebuah relung kosong yang bahkan tak kusadari keberadaannya, dan bermukim di sana.
Sejak saat itu, sejak namamu mengakar di relung itu, aku tak lagi serupa dengan diriku yang lampau. Betapa mendebarkan. Peta dalam diriku seakan digambar ulang. Jalan-jalan buntu itu kini terbuka menjadi lembah-lembah hijau. Persimpangan yang meragu kini menjadi titik-titik pengamatan untuk melihat bintang jatuh. Ada geografi baru yang tercipta di dalam diriku, sebuah benua yang dinamai menurut kehadiranmu. Setiap sudutnya, setiap konturnya, terbentuk oleh gema tawamu, oleh sorot matamu yang teduh, oleh cara jemarimu menggenggam resahku.
Dan betapa menentramkan, ketika aku akhirnya dapat menyinggahi dirimu. Bukan sebagai tamu, bukan sebagai pelancong yang sekadar lewat. Melainkan sebagai musafir yang menemukan rumah setelah perjalanan ribuan kilometer yang melelahkan. Dunia di luar sana adalah pasar yang tak pernah tidur, dengan klakson yang saling bersahutan, dengan dering telepon yang menagih janji, dengan tenggat waktu yang mencekik leher. Tetapi di sisimu, seakan riuh dunia itu mereda, diganti oleh sebuah kelapangan yang tak sanggup diwakilkan oleh kata biasa. Ia adalah sunyi yang bernyanyi. Ia adalah jeda di antara dua napas. Di dalam dirimu, aku tidak perlu menjadi apa-apa selain diriku sendiri, dan itu sudah lebih dari cukup.
Orang-orang seringkali bicara tentang cinta sebagai perihal menemukan potongan yang hilang. Tidak. Bagiku, mencintaimu adalah perihal merengkuh tanpa syarat. Aku tidak datang untuk melengkapi atau dilengkapi. Aku datang untuk menyaksikan dan membersamai. Mencintaimu bukanlah sebatas menyukai bagian indah yang mudah dielu-elukan; puncak gunungmu yang bermandikan cahaya mentari, taman bungamu yang semerbak mewangi. Itu mudah. Siapapun bisa melakukannya.
Mencintaimu adalah berani menyambut pula sisi rapuh, getir, dan sepi yang mungkin kau sembunyikan di lembah paling kelam, di ruang bawah tanah yang kau kunci rapat-rapat. Aku ingin tahu tentang retak di dinding hatimu, tentang bekas luka yang kau dapat dari pertempuran masa lalu. Aku ingin duduk bersamamu di tengah puing-puing kenangan yang menyakitkan, bukan untuk memperbaikinya, tetapi untuk mengatakan bahwa puing-puing itu pun adalah bagian dari arsitektur jiwamu yang aku kagumi.
Aku ingin hadir di seluruhmu, dari kilau hingga redup, dari riang hingga luka. Aku ingin menjadi penonton setia, baik saat kau menjadi bintang di panggung termegah maupun saat kau terduduk lesu di belakang panggung setelah tirai diturunkan. Aku ingin menjadi saksi atas setiap tawa yang meledak dari dadamu, sekaligus menjadi tempat bagi setiap air mata yang tak sanggup kau bendung.
Karena padamu, aku tidak lagi mencari kesempurnaan. Pencarian itu sudah usai, sudah lelah, sudah basi. Kesempurnaan adalah ilusi yang dijual oleh dongeng-dongeng murah. Yang kutemukan padamu adalah sesuatu yang jauh lebih berharga: keutuhan. Dan keutuhan selalu terdiri dari kepingan-kepingan yang elok maupun yang retak. Aku hanya ingin menjaga segala yang melekat padamu, yang berkilau maupun yang tergores. Sebab, goresan itulah yang menyimpan cerita. Retakan itulah yang memberi karakter.
Maka, biarlah. Biarlah dunia di luar sana terus berputar dengan segala ketidakpastiannya. Biarlah badai datang dan pergi. Biarlah musim berganti membawa janji-janji baru sekaligus ancaman-ancaman lama. Aku tidak peduli. Selama aku di sisimu, semua itu hanyalah latar belakang.
Dan bila dunia berulang kali mengguncang, mencoba merenggut sauh kita, aku masih ingin berada di sisimu. Dengan tangan yang mungkin gemetar, dengan napas yang mungkin tersengal, aku akan tetap di sana. Menautkan seluruhku pada seluruhmu. Karena sejak namamu ada di relungku, pusat gravitasi semestaku telah bergeser. Ia tidak lagi berada di entah di mana, melainkan tepat di tempat kau berada. Seluruhnya. Utuh. Selamanya.
Komentar
Posting Komentar