Perang adalah damai.
Kebebasan adalah perbudakan.
Kebodohan adalah kekuatan.
Tiga kalimat itu. Dengarlah bunyinya. Seperti mantra sesat yang diulang-ulang dalam sebuah upacara kelam di ruang bawah tanah. Kalimat-kalimat itu tidak datang dari mimbar seorang filsuf atau kitab suci seorang nabi. Kalimat-kalimat itu merayap keluar dari halaman sebuah buku yang ditulis pada 1949, dari imajinasi seorang pria bernama Eric Arthur Blair, yang kita kenal sebagai George Orwell. Dalam magnum opusnya, 1984, Orwell tidak sedang menawarkan kebenaran baru. Ia tidak sedang bernubuat. Ia hanya menyodorkan sebuah cermin.
Dan kita, dengan enggan atau tidak, menatap ke dalamnya.
Lihatlah kalimat pertama: Perang adalah damai. Sebuah absurditas yang menusuk nalar. Bagaimana mungkin pertumpahan darah, ledakan bom, dan deru mesin perang bisa disamakan dengan ketenangan? Tapi Orwell, melalui Partai yang berkuasa di novelnya, menunjukkan mekanismenya dengan presisi seorang ahli bedah. Kedamaian sebuah negeri, kedamaian sebuah rezim, hanya bisa dijamin jika ada musuh abadi. Musuh itu bisa di luar sana, di seberang lautan, dengan ideologi yang berbeda. Atau musuh itu bisa di dalam sini, tetangga kita sendiri, yang dicap pengkhianat, subversif, atau sekadar berbeda.
Maka, perang harus terus diciptakan. Perang melawan terorisme, perang melawan narkoba, perang melawan hoaks, perang melawan "mereka". Selama ada perang, ketakutan menjadi bahan bakar yang menjaga mesin kekuasaan tetap menyala. Rakyat akan rela menyerahkan sebagian haknya demi "keamanan". Bendera-bendera akan berkibar lebih tinggi, lagu kebangsaan dinyanyikan lebih lantang, bukan karena cinta, tapi karena cemas. Dalam keadaan perang permanen—baik nyata maupun rekaan—kritik dianggap pembangkangan. Pertanyaan dianggap serangan. Kepatuhan total menjadi satu-satunya jalan menuju "kedamaian". Damai yang senyap, damai di bawah todongan laras senapan. Orwell hanya memberi cermin, dan di pantulannya kita melihat parade seragam dan spanduk-spanduk yang gegap gempita menyuarakan kebencian atas nama persatuan.
Lalu kalimat kedua, yang lebih licin dan personal: Kebebasan adalah perbudakan. Ini adalah paradoks zaman kita, zaman ketika kata "kebebasan" diobral di mana-mana. Bebas memilih, bebas berpendapat, bebas menjadi diri sendiri. Tentu. Silakan bebas memilih di antara ratusan merek ponsel pintar yang fiturnya nyaris sama, yang semuanya melacak datamu. Silakan bebas bersuara di media sosial, di tengah riuh rendah algoritma yang mengurungmu dalam gelembung sepaham, menjadikanmu budak dari validasi dan amarah digital.
Kebebasan yang ditawarkan adalah kebebasan untuk mengonsumsi, bukan kebebasan untuk berpikir. Kebebasan untuk mengikuti tren, bukan untuk mencipta jalan baru. Kita disodori begitu banyak pilihan remeh-temeh—mau kopi merek apa, mau nonton serial yang mana, mau ikut tantangan joget apa—sehingga kita lelah dan lupa untuk memikirkan pilihan-pilihan yang sesungguhnya penting: pilihan atas sistem ekonomi yang adil, pilihan atas pendidikan yang memanusiakan, pilihan atas kebenaran. Kita terbelenggu oleh ilusi pilihan. Kita sibuk menggulir layar, mengejar tenggat, membayar cicilan. Kita menjadi budak dari "kebebasan" kita sendiri, terlalu sibuk untuk sadar bahwa rantai itu berkilau dan nyaman dipakai. Cermin Orwell memantulkan wajah kita, dengan mata lelah menatap cahaya layar gawai, tersenyum karena merasa merdeka.
Dan yang terakhir, yang paling brutal dan paling relevan: Kebodohan adalah kekuatan. Di era informasi yang tumpah ruah seperti banjir bandang, pengetahuan seharusnya menjadi raja. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Informasi menjadi kebisingan. Fakta menjadi salah satu opsi saja di antara ribuan narasi lain. Kebenaran menjadi melelahkan untuk dicari.
Maka, kebodohan menjadi sebuah pilihan yang nyaman. Lebih mudah memercayai judul berita yang bombastis ketimbang membaca isinya sampai tuntas. Lebih gampang menelan mentah-mentah ujaran seorang pemengaruh daripada melakukan riset yang rumit. Dalam ketidaktahuan kolektif inilah, kekuatan tumbuh. Kekuatan siapa? Tentu saja kekuatan mereka yang berkepentingan agar kita tetap bodoh. Rakyat yang tidak kritis adalah rakyat yang mudah digiring. Rakyat yang terpecah-belah oleh disinformasi adalah rakyat yang gampang dikuasai. Mereka tidak perlu membangun tembok penjara fisik; mereka cukup membangun tembok kebodohan di dalam kepala setiap orang. Dalam kebodohan itu, rakyat merasa kuat karena menjadi bagian dari kerumunan yang berteriak paling keras, tanpa tahu apa yang diteriakkan. Itulah kekuatan semu yang menopang kekuatan sejati sang penindas.
Orwell sudah tiada. Bukunya mungkin berdebu di rak. Tapi cermin yang ia sodorkan tidak pernah retak. Pantulannya hanya semakin jelas dari hari ke hari. Slogan-slogan Partai itu bukan lagi fiksi distopia dari masa lalu. Ia adalah denyut nadi zaman ini, berdetak pelan di balik berita utama, di dalam notifikasi ponsel kita, dan dalam keheningan kita saat memilih untuk tidak peduli. Perang, kebebasan, kebodohan. Semuanya telah dipuntir. Dan kita berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya apakah wajah di pantulan itu masih wajah kita, atau wajah Winston Smith yang akhirnya takluk dan mencintai Sang Kakak.
Komentar
Posting Komentar