Lihatlah, senja sudah keberapa yang kita saksikan dari jendela yang sama, dengan kopi yang perlahan mendingin di antara jemari kita? Aku tak lagi menghitung. Waktu, bagiku, telah menjadi semacam gumaman panjang, sebuah gema dari langkah-langkah kaki yang pernah begitu riuh di masa lalu. Jalanan yang kutempuh—oh, jangan tanyakan—penuh kelok, debu, dan bayang-bayang yang enggan pergi. Ada tawa yang menjadi fosil, ada tangis yang menguap di terik matahari entah di kota mana. Cerita ini, cerita tentang diriku, adalah sebuah naskah yang ditulis dengan tinta yang terlalu campur aduk; ada getir, ada serpihan tawa, ada jeda sunyi yang memekakkan. Rumit. Begitu rumit hingga kadang aku lupa di mana bab pertamanya dimulai.
Dan kini, di tengah kerumitan yang hampir sampai pada halaman terakhirnya, aku melihatmu. Kau bukan fajar yang menyingsing dengan janji-janji keemasan. Tidak. Kau adalah lentera temaram di beranda rumah, yang cahayanya cukup untuk memberitahuku bahwa perjalanan ini boleh usai. Setelah semua yang terlewati, setelah segala pertempuran kecil dan perang besar di dalam kepala, aku hanya ingin kamu. Menjadi bagian dari akhir cerita yang compang-camping ini. Bukan sebagai pemanis, bukan sebagai penutup yang megah. Tapi sebagai titik. Titik yang tegas, yang membuat semua kalimat sebelumnya menjadi punya arti.
Aku tahu, dan kau pun tahu, belum ada peta yang pasti di hadapan kita. Esok adalah misteri yang sama besarnya dengan kabut di pegunungan. Tak ada janji yang terukir di batu, tak ada garansi bahwa laut akan selalu tenang. Tapi di sinilah aku berdiri, dengan sisa-sisa tenaga dari perjalanan panjang, dan berkata: setidaknya, aku ingin mengusahakanmu sekuat yang aku bisa. Ini bukan lagi soal gairah sesaat yang meledak-ledak seperti kembang api di malam tahun baru. Ini adalah keputusan. Keputusan seorang musafir lelah yang telah menemukan mata airnya, dan ia akan membangun rumahnya di sana, apa pun risikonya. Menggali pondasi dengan kedua tangan, meski tahu badai bisa datang kapan saja.
Karena kali ini, percayalah, yang aku harapkan bukan lagi tentang permulaan. Aku muak dengan permulaan. Permulaan itu indah, tapi menipu. Penuh euforia, tapi kosong dari ketahanan. Aku sudah terlalu sering menari di pesta perkenalan, bertukar nama dan harapan, lalu pulang sendirian saat musik berhenti dan lampu-lampu dimatikan. Yang kuinginkan sekarang adalah sesuatu yang lebih sunyi, lebih dalam, lebih jujur.
Aku ingin akhir yang sederhana, tapi penuh kepastian.
Sebuah akhir di mana aku bisa meletakkan ranselku yang berat, membuka sepatuku yang usang, dan tahu bahwa aku tak perlu lagi pergi ke mana-mana. Kepastian itu mungkin hanya sesederhana aroma masakanmu di sore hari. Atau caramu menyibak rambut dari keningku saat aku terlelap kelelahan. Kepastian itu adalah diam yang nyaman di antara kita, di mana kata-kata tak lagi diperlukan karena jiwa kita sudah saling berbicara dalam bahasa sunyi. Akhir yang membuat langkahku tenang, tanpa lagi harus cemas menebak-nebak arah mata angin.
Di sinilah kerentananku yang terbesar terbaring. Aku berharap kau merasakan hal yang sama. Sebab, apa artinya sebuah tujuan jika hanya aku yang berlari ke arahnya? Aku bisa saja menjadi pelari maraton paling gigih di dunia, tapi jika garis finis itu kosong tanpamu, kemenanganku tak akan lebih dari sebongkah medali dingin. Aku butuh langkah kakimu di sisiku, deru napasmu yang menjadi irama bagi lariku. Semoga kamu melihat tujuan yang sama di ujung cakrawala, agar aku tidak sendirian melangkah ke impian yang selama ini hanya berani kubisikkan dalam doa.
Mungkin ini terdengar egois. Sangat egois. Seolah aku menempatkan seluruh bebanku di pundakmu, memintamu menjadi jawaban atas segala risauku. Tapi biarlah kali ini aku memaksa. Bukan memaksa dirimu, tapi memaksa takdir, memaksa semesta untuk mendengar. Karena aku benar-benar ingin kita berujung di tempat yang sama. Di sebuah pagi yang sama, di bawah langit yang sama, dengan keriput yang menceritakan kisah yang sama.
Maka, yang tersisa kini hanyalah sebuah harapan yang kunaikkan setinggi-tingginya. Sebuah doa yang kulantunkan dalam setiap tarikan napas. Semoga Tuhan, atau apa pun kekuatan yang mengatur gerak bintang-bintang itu, memudahkan niat baik ini. Niat untuk berhenti mencari dan mulai menjaga. Niat untuk berhenti memulai dan mulai mengakhiri. Bukan sekadar untuk sekarang, bukan hanya untuk esok atau lusa.
Tapi untuk selamanya. Di halaman terakhir buku ini.
Komentar
Posting Komentar