Langsung ke konten utama

Aspal Bernama Affan, Negara Bernama Petaka

​Sebuah nama: Affan Kurniawan. Alamatnya jelas: Jalan Semangka III, RT 014/009, Jati Pulo, Palmerah, Jakarta Barat. Ia bukan angka statistik. Ia adalah jaket hijau yang setiap hari membelah Jakarta, mengantar paket, mengantar nyawa, mencari nafkah di bawah langit yang sama yang menaungi gedung-gedung kekuasaan. Kini, jaket itu berlumur darahnya sendiri. Aspal di depan gerbang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menjadi saksi bisu, sekaligus altar pengorbanan yang tak pernah ia minta.

​Malam itu, udara Jakarta sesak. Bukan hanya oleh polusi, tetapi oleh gas air mata dan amarah yang membumbung tinggi. Mahasiswa dan elemen masyarakat, termasuk para pengemudi ojek online (ojol) yang merupakan tulang punggung jalanan, berkumpul di depan gedung yang katanya milik rakyat. Mereka tidak datang untuk berwisata. Mereka datang membawa suara. Suara tentang kebijakan yang mencekik, tentang harga-harga yang melambung, tentang undang-undang yang dirasa mengkhianati amanat reformasi. Demo itu adalah denyut nadi demokrasi jalanan, wujud paling murni dari ketidakpuasan kolektif.

​Lalu, mesin-mesin negara mulai berderu. Bukan untuk mendengar, tapi untuk membungkam. Barikade kawat berduri, tameng-tameng fiber, dan tentu saja, kendaraan-kendaraan taktis yang bergerak seperti monster lapis baja. Di tengah kekacauan yang direkayasa oleh aparat itu, Affan Kurniawan ada di sana. Mungkin ia ikut berteriak, mungkin ia hanya menunjukkan solidaritas sesama kaum pekerja yang hidupnya kian sulit, atau mungkin ia sekadar terjebak dalam pusaran represif itu.

​Lalu terjadilah. Bukan kecelakaan. Jangan pernah menyebutnya kecelakaan. Kecelakaan adalah peristiwa tanpa niat. Yang terjadi pada Affan adalah konsekuensi logis dari sebuah sistem yang memandang rakyatnya sebagai ancaman. Sebuah mobil Brimob, simbol kekuasaan negara yang paling brutal dan tanpa wajah, menabraknya. Tak berhenti di situ, monster besi itu melindas tubuhnya. Seolah satu nyawa dari jalanan tak lebih berharga dari debu yang menempel di bannya.

​Kawan-kawannya, sesama ojol dan mahasiswa, melihatnya. Mereka melihat kebiadaban itu dengan mata kepala sendiri. Mereka melihat bagaimana tubuh Affan remuk. Pendarahan di dalam, tulang iga patah. Di RS Pelni, nyawanya menyerah. Negara telah membunuhnya. Polisi, dengan seragam dan kendaraannya yang dibeli dari pajak seorang Affan Kurniawan, telah menjadi eksekutornya.

​Kemarahan adalah reaksi yang paling jujur. Ketika kawan-kawan Affan mengejar mobil Brimob itu, mereka tidak sedang main hakim sendiri. Mereka sedang menuntut pertanggungjawaban di sebuah negeri di mana pertanggungjawaban adalah ilusi. Mereka melakukan satu-satunya hal yang tersisa ketika institusi yang seharusnya melindungi justru menjadi pembunuh: aksi langsung. Solidaritas kaum pekerja yang bergerak serempak, menolak tunduk pada hierarki dan kekerasan negara. Mereka, para ojol dan mahasiswa itu, adalah serikat yang terbentuk seketika oleh tragedi dan amarah.

​Negara akan membuat narasi. Akan ada konferensi pers dengan wajah-wajah datar. Akan ada investigasi internal yang hasilnya sudah bisa kita tebak. Mungkin akan ada satu-dua "oknum" yang dikorbankan untuk meredam amarah publik, seolah ini adalah kesalahan individu, bukan kesalahan sistemik. Tapi kita tahu yang sebenarnya. Ini bukan oknum. Ini adalah watak asli negara. Aparatus kekerasannya (polisi, militer) tidak dirancang untuk melindungi rakyat; mereka dirancang untuk melindungi kepentingan elite politik dan pemodal dari amarah rakyat. Ketika rakyat menuntut haknya, mereka dianggap musuh.

​Affan Kurniawan adalah korban dari perang kelas yang tak pernah diumumkan secara resmi. Ia adalah seorang proletar di atas roda dua, representasi dari kelas pekerja yang paling rentan, yang tenaganya dieksploitasi oleh aplikasi korporat dan hidupnya diabaikan oleh negara. Kematiannya adalah pesan yang gamblang: diam, atau kau akan dilindas. Bekerjalah, bayar pajaknya, tapi jangan pernah bermimpi untuk melawan.

​Tapi kita harus menolak pesan itu. Duka untuk Affan tidak boleh hanya menjadi tangisan di media sosial atau karangan bunga yang layu esok hari. Duka ini harus menjadi bahan bakar. Kemarahan ini harus menjadi api yang terorganisir. Kematian Affan Kurniawan di aspal Jakarta harus menjadi pengingat abadi bahwa negara, dalam bentuknya yang sekarang, adalah musuh bagi kelas pekerja. Ia adalah mesin raksasa yang dingin dan kejam, yang akan melindas siapa saja yang dianggap menghalangi jalannya.

​Malam itu, di depan gedung DPR, kita tidak hanya kehilangan seorang Affan Kurniawan. Kita sekali lagi kehilangan ilusi tentang polisi yang mengayomi dan negara yang melindungi. Tapi di tengah tragedi itu, kita melihat sesuatu yang lain: solidaritas yang menyala. Jaket-jaket hijau dan almamater yang bersatu dalam murka. Itu adalah harapan.

​Selamat jalan, kawan. Perjuanganmu di jalanan kini menjadi perjuangan kami semua. Darahmu tidak akan pernah kering di aspal itu, ia akan menjadi tinta yang menuliskan tuntutan kami: bubarkan negara yang menindas, hancurkan aparatus kekerasannya.

Komentar