Malam adalah meja perundingan terakhir. Bukan meja kayu dengan dua kursi yang saling berhadapan, bukan pula ruang rapat yang dingin dan pengap oleh asap keretek. Meja perundingan ini adalah semesta itu sendiri—gelap, tak bertepi, dengan bintang-bintang sebagai saksi bisu yang tak pernah sekalipun menginterupsi. Di hamparan inilah, ketika dunia telah lelah dengan segala sandiwaranya, aku meletakkan segala pinta yang tak pernah sanggup kutitipkan pada rapuhnya manusia.
Manusia? Ah, jangan bicara tentang mereka. Lidah mereka terlalu kelu untuk menyimpan rahasia, dan hati mereka terlalu sempit untuk memahami sebuah keinginan yang melampaui logika kepemilikan. Kata-kata yang terucap dari bibir fana hanya akan menjadi gema kosong, dipantulkan oleh dinding-dinding ketidakpedulian, lalu lenyap ditelan kebisingan pagi. Maka dari itu, hanya kepada malam, kepada keagungan semesta yang membentang tanpa klaim, aku berani membuka percakapan. Hanya dalam senyapnya yang pekat, sebuah kejujuran bisa terlahir tanpa cacat.
Kusampaikan pada jagat raya yang takzim: Biarlah dirinya selalu menjadi pemenang. Dalam setiap pertarungan kecil yang ia lakoni, dalam setiap mimpi besar yang ia dekap, dalam setiap langkah ragu yang akhirnya ia mantapkan. Berikan padanya podium, sorak-sorai, dan mahkota-mahkota yang paling berkilau. Biarkan dunia mengakuinya sebagai sang juara, sebagai penakluk yang tak pernah goyah. Aku tak akan berdiri di sana sebagai pesaing, tidak akan pernah.
Namun, permohonanku belum usai. Justru di sinilah letak kerumitannya. Setelah kau nobatkan ia sebagai pemenang, wahai semesta, jangan lupakan aku. Tetapkan pula diriku untuk menang di dalam hidupnya. Jadikan aku sebagai satu-satunya piala yang tak ingin ia letakkan, sebagai bendera kemenangan yang selalu ingin ia kibarkan di puncak tertinggi hatinya. Sebab, inilah kebenaran yang kutemukan setelah berkelana dalam sunyi: apa arti sebuah kemenangan tunggal, bila tak ada takhta yang bisa dibagi dengan jiwa yang sama? Apa guna sebuah istana, jika di dalamnya hanya ada gema dari langkah kaki yang sepi?
Kemenangan sejati bukanlah tentang siapa yang lebih dulu mencapai garis finis. Bukan pula tentang siapa yang namanya paling riuh diteriakkan. Kemenangan sejati adalah ketika dua pasang mata saling menatap dan menemukan cermin dari keutuhan yang selama ini dicari. Sebuah kemenangan di mana "aku" dan "kamu" luruh menjadi "kita", menjadi satu entitas yang tak terpisahkan oleh riuh tepuk tangan maupun pedihnya kekalahan. Kita adalah satu kerajaan dengan dua penguasa yang saling melengkapi, bukan dua penakluk yang berebut wilayah.
Lihatlah, semesta. Mungkin kau sedang menimbang-nimbang. Mungkin permohonanku ini terdengar lancang, terlalu serakah untuk ukuran seorang manusia biasa. Mungkin kau ragu, apakah dua kemenangan ini bisa dianugerahkan dalam satu waktu yang bersamaan. Jika keraguan itu masih menggantung di antara galaksi-galaksi yang jauh, jika kau butuh sebuah jaminan, maka biarlah kuletakkan hatiku di atas meja perundingan ini sebagai persembahan.
Ambillah. Telanjangilah isinya. Kau akan menemukan bahwa di dalamnya tak ada siasat, tak ada keinginan untuk mendominasi. Yang ada hanyalah sebuah ketulusan purba, sebuah harapan agar takdir tak merancang skenario di mana kami harus saling berhadapan sebagai lawan. Aku tak meminta banyak, sungguh. Dari milyaran kemungkinan yang bisa kau ciptakan, aku hanya memohon satu: agar garis hidup kami tidak pernah saling bersilangan sebagai dua pedang yang terhunus.
Jadikan kami dua nama yang saling menggenapi. Seperti siang yang tak akan pernah utuh tanpa malam. Seperti sajak yang menemukan maknanya justru pada jeda di antara kata-kata. Jangan jadikan kami musuh. Jangan pernah. Sebab jika itu terjadi, maka kemenangan apa pun yang kau berikan padanya, atau padaku, akan terasa seperti kutukan paling abadi. Dan di meja perundingan terakhir ini, aku hanya ingin pulang membawa satu kepastian: bahwa takhtanya adalah takhtaku, dan kemenanganku selamanya adalah dirinya.
Komentar
Posting Komentar