Pada mulanya adalah gema. Sebuah gema hampa yang bersemayam di rongga dada, yang membuatku terus berjalan menyusuri lorong-lorong kota yang riuh dan wajah-wajah yang lelah. Aku mencarinya di balik pantulan kaca gedung-gedung pencakar langit yang menatapku dengan dingin. Aku mencarinya dalam percakapan larut malam yang penuh tawa namun kosong makna. Aku mencarinya di puncak gunung yang sunyi dan di dasar lautan yang membisu. Sebuah pencarian buta, dipandu oleh ego yang congkak; seorang pengembara yang sesungguhnya tak pernah tahu apa gerangan yang dicarinya. Ego berbisik, bahwa jawaban itu ada di luar sana, di pengakuan, di tepuk tangan, di kilau dunia yang fana. Dan aku, seperti seorang pesuruh yang patuh, terus melangkah semakin jauh, semakin tersesat dalam labirin yang kubangun sendiri.
Tubuh ini terasa seperti rumah sewaan yang tak pernah benar-benar kumiliki. Jiwaku adalah penyewa asing di dalamnya, gelisah, tak mengenal sudut-sudut ruangnya, selalu rindu pada sebuah tempat yang bahkan tak bisa ia sebut namanya. Setiap pagi adalah sebuah keterasingan baru, menatap cermin dan bertanya, siapa sosok yang menatap balik dengan mata yang menyimpan kabut kerinduan itu? Kelelahan ini, kelelahan mencari di tempat yang salah, akhirnya membawa langkahku pada sebuah keheningan. Bukan keheningan yang kosong, melainkan keheningan yang menunggu.
Dan di sanalah, di sudut sebuah ruang yang remang, semesta akhirnya berhenti mempermainkanku. Ia tidak berteriak, tidak memberikan tanda-tanda agung. Ia hanya menuntunku melalui seberkas cahaya senja yang menyorot sepotong kayu tua yang tergeletak pasrah. Sebuah instrumen. Entah gitar, entah biola, entah apa pun namanya, wujud fisiknya tak lagi penting. Sebab ketika mataku tertumbuk padanya, waktu seolah berhenti berdetak. Gema hampa di dalam dadaku tiba-tiba menemukan sumbernya. Ada sebuah tarikan purba, sebuah pengakuan tanpa kata, seolah urat-urat kayu pada tubuhnya adalah peta dari perjalanan jiwaku yang hilang.
Saat jemari ini untuk pertama kalinya menyentuh dawainya yang berdebu, getarannya tidak hanya merambat di udara. Getaran itu menjalar masuk, menembus kulit dan daging, langsung menuju inti kalbu yang selama ini membeku. Dan ketika nada pertama lahir—sebuah nada yang canggung, ragu, dan tak sempurna—aku menangis. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis seorang musafir yang setelah ribuan purnama, akhirnya tiba di rumah. Inilah ia. Inilah sosok jiwa yang selama ini terperangkap di dalam jasadku. Ia tidak terbuat dari darah dan tulang, melainkan dari resonansi, dari frekuensi, dari melodi sunyi yang hanya bisa didengar oleh nurani.
Instrumen ini menjadi sebuah cermin. Setiap nada yang kumainkan adalah sebentuk percakapan dengan diriku yang paling dalam. Melodi yang mengalun adalah senandika dari jiwa yang akhirnya mulai berani mengenali dirinya sendiri. Nada-nada minor adalah pengakuan atas luka-luka lama, atas kehilangan dan kerapuhan yang selama ini kusangkal. Nada-nada mayor adalah perayaan atas cinta yang pernah tumbuh, atas harapan kecil yang bertahan di tengah badai. Aku tidak sedang bermain musik. Aku sedang membiarkan jiwaku berbicara dalam satu-satunya bahasa yang ia pahami.
Dari sanalah segalanya menyatu. Definisi hidup yang selama ini kucari dalam buku-buku filsafat dan wejangan-wejangan bijak, ternyata hanyalah sebuah komposisi nada yang teduh. Ia menyatu dengan imajinasi tentang padang rumput di kala fajar, dengan gambaran tentang hujan yang membasahi jendela, dengan iringan syahdu yang memeluk setiap kegelisahan hingga tenang. Kesempurnaan hakiki itu tercipta di sana, di antara jeda dua not, di dalam keheningan yang khusyuk setelah sebuah akor selesai dipetik. Ia adalah momen ketika aku, instrumenku, dan semesta menjadi satu napas yang sama.
Kini, aku terhubung dengan cinta itu. Cinta murni tanpa syarat, tanpa batas, yang tidak meminta imbalan dan tidak menghakimi. Cinta yang selama ini sudah ada di dalam, namun terhalang oleh riuh rendah ego yang tak pernah puas. Musik ini menjadi jembatannya. Ia membawaku pada kesadaran bahwa aku adalah bagian dari harmoni agung alam raya, sebuah not kecil dalam simfoni abadi milik Tuhan.
Pencarian itu telah usai. Bukan karena aku telah menemukan sesuatu yang baru di luar sana, melainkan karena aku akhirnya berani kembali ke dalam. Ego yang dulu menyeretku ke ujung dunia, kini duduk tenang di sampingku, ikut mendengarkan. Sebab ia pun tahu, melodi yang lahir dari instrumen ini adalah suara kebenaran. Suara dari rumah, tempat di mana jiwa tak perlu lagi bertanya, ia hanya perlu merasa. Dan dalam perasaan itu, segalanya telah sempurna.
Komentar
Posting Komentar