Maka, bayangkan ini: hantu seorang lelaki kurus, dengan tatapan setajam elang, berjalan tanpa suara di lorong-lorong kota yang riuh. Ia melihat layar-layar gawai menyala di genggaman anak-anak muda, memancarkan berita-berita dari berbagai platform media sosial. Judul-judul berita itu melompat-lompat seperti api unggun di malam yang kelam: korupsi lagi, dinasti politik lagi, harga beras yang mencekik leher lagi. Hantu itu, Ibrahim Datuk Tan Malaka, hanya bisa menggeleng pelan. Di tangannya yang tembus pandang, ia menggenggam sebuah buku usang: Madilog. Sebuah bom Molotov yang dilemparnya dari masa lalu, yang kini seolah tak lebih dari sekadar memorabilia.
Dan di sudut lain negeri ini, di sebuah desa yang dibalut senja, sesajen masih diletakkan di bawah pohon beringin. Seorang calon legislatif, yang paginya berpidato tentang kemajuan industri 4.0, malamnya khusyuk meminta berkah pada batu keramat. Inilah Indonesia, sebuah panggung besar tempat logika dan mistika menari tango tanpa henti. Di sinilah Madilog—Materialisme, Dialektika, Logika—sebuah pisau bedah yang ditawarkan Tan Malaka untuk membelah perut kenyataan, bertemu dengan selubung tebal "logika mistika" yang telah mendarah daging dalam adat dan suku bangsa.
Tan Malaka menulis Madilog dalam pelarian, dengan kemarahan seorang pemikir yang melihat bangsanya terlelap dalam buaian takhayul sementara cengkeraman kolonialisme meremukkan tulang mereka. Baginya, logika mistika adalah biang keladi. Logika yang percaya pada kekuatan gaib, pada nasib yang tak bisa diubah, pada takdir yang sudah digariskan oleh para dewa atau leluhur. Logika ini, menurut Tan, melumpuhkan. Ia membuat rakyat pasrah ketika tanahnya dirampas, upahnya dikebiri, dan keadilannya diinjak-injak. Semuanya dianggap "cobaan" atau "sudah suratan takdir".
Maka, Tan menawarkan antidotnya. Materialisme: lihatlah dunia apa adanya, sebagai materi yang nyata. Perut yang lapar itu nyata. Tanah yang hilang itu nyata. Uang rakyat yang dikorupsi itu nyata. Jangan lari ke penjelasan gaib. Dialektika: pahamilah bahwa semua hal berada dalam gerak dan pertentangan. Tidak ada yang abadi. Kondisi "tidak baik-baik saja" hari ini adalah hasil dari pertarungan kekuatan-kekuatan di masa lalu, dan ia bisa diubah melalui pertarungan di masa sekarang. Logika: gunakan akal sehat untuk menghubungkan sebab dan akibat. Jika seorang politisi kaya raya sementara rakyat di dapilnya miskin, jangan anggap itu "berkah" sang politisi. Gunakan logika untuk menelusuri alirannya.
Tetapi, pisau bedah itu kini tampak tumpul. Ia berhadapan bukan hanya dengan dupa dan kemenyan, tetapi dengan bentuk baru logika mistika yang lebih canggih. Kabutnya kini berbentuk digital.
Lihatlah mahasiswa dan masyarakat kita hari ini. Ketika berita tentang nepotisme keluarga penguasa meledak diberbagai platform berita, apa yang terjadi? Badai kemarahan di media sosial selama dua-tiga hari. Meme-meme satir bertebaran. Setelah itu? Sunyi. Muncul isu baru, skandal baru, tontonan baru. Perhatian kita dialihkan dengan begitu mudah, seolah ada kekuatan gaib yang mengatur siklus kemarahan dan kelupaan kita. Inilah logika mistika modern: kepercayaan bahwa "menyuarakan" di media sosial sudah cukup, tanpa aksi material yang konkret. Kepercayaan bahwa kemarahan kolektif yang fana itu bisa mengubah struktur kekuasaan yang mencengkeram begitu nyata.
Ketika kita melihat ketidakadilan, korupsi yang telanjang, atau kebijakan yang terang-terangan merugikan rakyat, respons yang muncul seringkali adalah sinisme yang pasrah. "Ah, memang sudah dari sananya begitu." "Kita bisa apa?" "Semua juga sama saja." Kalimat-kalimat ini adalah mantra-mantra baru. Ini adalah bentuk lain dari "sudah suratan takdir". Kita menyerah pada sebuah kekuatan tak terlihat yang kita sebut "sistem", seolah-olah sistem itu adalah dewa raksasa yang tak bisa dilawan, bukan sesuatu yang dibangun dan dijalankan oleh manusia—dan karena itu, bisa diubah oleh manusia juga.
Madilog tidak ditulis untuk menjadi pajangan di rak buku para aktivis. Ia adalah sebuah perkakas. Sebuah undangan untuk berhenti mengeluh di dalam kabut dan mulai membedah kabut itu sendiri. Dengan materialisme, kita diajak untuk melihat data: siapa pemilik lahan terbesar? Ke mana aliran dana subsidi? Siapa yang diuntungkan dari undang-undang baru ini? Dengan dialektika, kita diingatkan bahwa kekuasaan yang tampak kokoh hari ini menyimpan bibit-bibit keruntuhannya sendiri. Dan dengan logika, kita dituntut untuk merangkai kepingan-kepingan informasi yang berserakan di linimasa menjadi sebuah gambar utuh yang jernih.
Hantu Tan Malaka mungkin akan terus berjalan, menyaksikan panggung sandiwara ini. Menyaksikan bangsanya yang terampil merapal doa dan mantra, tetapi gagap ketika harus membaca realitas material di depannya. Bangsa yang riuh di dunia maya, tetapi seringkali senyap di dunia nyata. Ia tidak meninggalkan warisan berupa jimat atau pusaka. Ia hanya meninggalkan sebuah alat berpikir. Sebuah pisau.
Dan sebuah pisau tak ada gunanya di tangan mereka yang hanya ingin mengutuk kegelapan, tanpa pernah mencoba menyayatnya.
Komentar
Posting Komentar