Maka datanglah saat-saat itu. Ketika deru kota terdengar seperti dengung nyamuk di kejauhan, ketika lampu-lampu jalanan tak lebih dari pendar kunang-kunang yang sekarat, dan napas kita sendiri menjadi satu-satunya irama yang nyata. Di sinilah, di tubir kesunyian ini, hidup terasa begitu teduh. Bukan teduh karena semua jawaban telah ditemukan, melainkan justru karena semua pertanyaan telah lelah dikejar. Menyerahkan diri pada irama gaib penuh rahasia langit adalah sebuah kepasrahan yang ganjil, sebuah kelegaan yang tak terdefinisikan, seperti pelaut yang akhirnya membiarkan kapalnya diayun ombak setelah badai reda, tak lagi peduli ke mana sauh akan dilabuhkan.
Ada semacam pertapaan dalam diam yang kita jalani setiap hari. Di antara denting sendok dan piring saat sarapan, di celah keheningan lift yang membawa kita naik dan turun, dalam tatapan kosong ke arah layar komputer yang menyala biru. Kesenyapan ini terus-menerus bertapa, mengendapkan debu-debu pengalaman, menyuling racun-racun kekecewaan. Lalu apa? Pertanyaan itu selalu tiba tanpa diundang, tajam seperti belati di tengah malam. Setelah sunyi ini paripurna, setelah jeda ini selesai, apa yang menanti kita di ujung sana?
Apakah kita akan dibariskan? Rapi seperti serdadu dalam upacara abadi, masing-masing dengan nomor urut, peran, dan tanggal kadaluwarsa yang terpatri di dahi? Berjalan di atas rel yang telah dipasang oleh tangan-tangan tak terlihat, menuju tujuan yang telah ditetapkan bahkan sebelum kita mengenal nama kita sendiri? Dalam keteraturan kosmis itu, kita menjadi sekrup-sekrup kecil dalam mesin raksasa, berfungsi, berputar, lalu digantikan. Tak ada kejutan, hanya kepastian yang membosankan. Sebuah takdir yang dieja dengan presisi dingin seorang juru tulis.
Atau, adakah kemungkinan lain? Bahwa setelah tapa brata kesenyapan ini usai, kita hanya akan disembunyikan di balik warna? Menjadi cipratan cat yang tak sengaja tumpah di kanvas semesta, lebur dalam gradasi senja, tersembunyi di antara riak air hujan di jendela, menjadi bagian dari kamuflase agung kehidupan itu sendiri. Tak ada peran yang jelas, tak ada skrip yang harus dihafal. Kita adalah anomali yang indah, aksen warna yang membuat lukisan itu hidup, sekalipun sang pelukis tak pernah merencanakannya. Kita ada, begitu saja, tanpa perlu penjelasan, tanpa butuh pembenaran. Hanya sebagai warna di antara miliaran warna lainnya.
Di persimpangan antara keteraturan dan kekacauan inilah kita berdiri, gemetar. Dan barangkali, semua kegelisahan ini bermuara pada satu pengakuan telanjang: kita, semula jadi, tak pernah ingin dilahirkan sama sekali. Tak ada formulir persetujuan yang kita tandatangani, tak ada kontrak yang kita sepakati untuk ikut serta dalam sandiwara besar ini. Kita dilempar begitu saja ke atas panggung, dengan lampu sorot yang menyilaukan dan penonton yang tak pernah kita kenali. Kita didorong untuk bermain, untuk tertawa, untuk menangis, padahal kita tak pernah meminta untuk ada.
Maka, dari kesadaran akan keterlemparan itulah, barangkali, sumber satu-satunya kebijaksanaan bisa digali. Jika kita tak pernah memilih untuk memulai, maka satu-satunya pilihan waras yang tersisa adalah bagaimana cara kita menari di tengah ketidaktahuan ini. Kita ciptakan agama, filsafat, seni, dan ilmu pengetahuan—semua adalah upaya gagah berani untuk menggambar peta di wilayah yang tak terpetakan, untuk menamai sesuatu yang sejatinya tak bernama. Kita meraba-raba dalam gelap, saling berpegangan tangan, dan berpura-pura tahu jalan pulang.
Dan di sanalah kebenaran kata sang bestari itu bergema nyaring melintasi zaman: "Hidup adalah keberanian menghadapi tanda tanya." Bukan keberanian mencari jawaban, sebab setiap jawaban hanya akan melahirkan pertanyaan baru yang lebih rumit. Bukan pula keberanian untuk menyingkap tabir rahasia langit, sebab di baliknya mungkin hanya ada kekosongan yang lebih mengerikan. Tapi keberanian untuk tetap berdiri tegak di hadapan tanda tanya itu sendiri. Keberanian untuk bernapas, untuk mencintai, untuk merasakan sakit, untuk tertawa di tepi jurang absurditas, tanpa pernah tahu pasti untuk apa semua ini.
Hidup yang teduh bukanlah hidup yang bebas dari badai, melainkan hidup yang telah berdamai dengan langit yang tak pernah menjanjikan cuaca cerah. Menyerahkan diri pada irama gaibnya berarti menerima bahwa kita adalah not-not musik yang tak akan pernah bisa mendengar keseluruhan simfoni. Kita hanya bisa bergetar sebaik mungkin pada saat kita dimainkan. Lalu senyap. Lalu hilang. Dan di antara getar dan senyap itu, ada sebuah ruang kecil bernama keberanian. Keberanian untuk sekadar ada, di antara barisan takdir dan semburat warna.
Komentar
Posting Komentar