Hari ini, saat aku menulis kisah ini, hidupku belum sempurna, tapi aku merasa damai.
Di luar jendela, gerimis mungkin baru saja reda. Mungkin juga tidak pernah turun sama sekali, hanya sisa basah dari malam yang panjang. Aku tak lagi peduli. Dulu, aku akan mencatat setiap detail cuaca, seolah dengan begitu aku bisa mengendalikan hari. Jika mendung, hatiku ikut kelabu. Jika cerah, aku akan memaksa bibirku tersenyum. Aku adalah seorang sutradara yang panik atas pertunjukan yang tak pernah benar-benar kumiliki naskahnya.
Kesempurnaan adalah berhala yang kusembah dengan napas terengah-engah. Aku membangun altarnya dari ijazah yang berderet, dari pujian atasan, dari jumlah teman di lingkaran pergaulan, dari setiap centang dalam daftar pencapaian yang tak ada habisnya. Aku adalah pelari maraton yang matanya hanya tertuju pada garis finis, lupa cara menikmati deru angin di telinga, lupa cara merasakan sakit yang nikmat di setiap otot yang bekerja, lupa bahwa berlari itu sendiri adalah sebuah kehidupan. Aku hanya peduli pada medali yang dingin dan kosong di leher.
Dan Tuhan? Ia adalah penonton di tribun kehormatan. Aku akan melambai kepada-Nya saat berhasil menyalip pelari lain, dan akan menatap-Nya dengan tatapan menuduh saat kakiku terkilir. Hubungan kami transaksional. Doa adalah proposal, dan ibadah adalah uang muka. Jika proposal ditolak, aku akan merajuk dalam diam yang paling bising. Aku merasa ditinggalkan. Aku merasa Ia tak adil.
Hari ini, di ruangan yang tak lagi riuh oleh ambisi, aku bisa merasakan kertak tulangku yang dulu patah kini menyatu dengan cara yang aneh, membentuk topografi baru pada jiwa. Aku mulai mencintai proses, bukan hanya hasil. Aku jatuh cinta pada cara jemariku gemetar saat mencoba hal baru. Aku jatuh cinta pada rasa pahit kopi hitam di pagi hari, kopi yang kubuat sendiri tanpa perlu pujian siapa pun. Aku jatuh cinta pada jeda, pada spasi di antara kata-kata, pada keheningan di antara dua nada. Di sanalah, ternyata, melodi kehidupan bersembunyi.
Aku mulai melihat masalah sebagai peluang untuk bertumbuh. Luka bukan lagi aib yang harus ditutupi plester. Ia adalah relief pada sepotong kayu, bukti bahwa pahat pernah menari di atasnya, membentuknya menjadi sesuatu yang lebih berkarakter. Setiap kecewa adalah guru yang paling sabar, yang mengajariku alfabet kerelaan huruf demi huruf. Setiap kehilangan adalah cara semesta mengingatkanku untuk memeluk apa yang masih ada dengan lebih erat, bukan dengan cemas, melainkan dengan syukur.
Dan yang terpenting, aku mulai mempercayai bahwa apa pun yang terjadi, aku tidak sendirian. Kehadiran-Nya tak lagi seperti lampu sorot di panggung besar yang menyilaukan, melainkan seperti cahaya redup dari lampu minyak di sudut ruangan. Tak cukup terang untuk menyingkap semua misteri di depan, tapi cukup untuk membuatku tahu bahwa aku tidak duduk dalam gelap gulita. Cukup untuk melihat bayanganku sendiri, dan menyadari bahwa aku ada.
Maka, surat ini untukmu.
Jika kamu hari ini sedang merasa tak berdaya, jika langkahmu terasa lebih berat dari rantai seribu ton, jika jiwamu adalah labirin tanpa peta dan kau hanya menemukan jalan buntu di setiap kelokannya. Jika kamu sedang kehilangan arah, sedang bertanya-tanya ke mana Tuhan saat kau menjerit dalam sunyi paling pribadi.
Izinkan aku berkata: itu tidak salah.
Kamu manusia. Daging dan darahmu dirancang untuk merasakan sakit. Hatimu ditenun dari benang yang bisa terurai. Kamu boleh lelah. Lelahmu adalah absah. Kamu boleh bertanya. Pertanyaanmu adalah doa dalam bentuknya yang paling jujur, lebih jujur dari semua kalimat hafalan yang muluk. Pertanyaanmu adalah bukti bahwa kau masih mencari, dan bukankah pencarian adalah esensi dari iman itu sendiri?
Namun, jangan menyerah. Aku mohon, jangan.
Saat kau merasa duniamu runtuh, jangan berhenti berbicara kepada-Nya. Bicaralah dalam bahasa air mata jika perlu. Bicaralah dalam umpatan yang paling getir. Bicaralah dalam diam yang memekakkan. Ia mengerti semua bahasa, terutama bahasa hati yang remuk. Jangan berhenti membuka hatimu untuk-Nya. Mungkin bukan untuk menerima jawaban yang kau inginkan, tapi sekadar untuk membiarkan seberkas udara masuk ke dalam ruang pengap di dadamu.
Karena sering kali, justru di saat paling sunyi, saat gema suaramu sendiri telah lelah berteriak dan kembali, suara-Nya terdengar paling jelas. Bukan seperti guntur, tapi seperti bisik angin yang menyentuh daun jendela. Bukan dalam bentuk firman yang agung, tapi mungkin dalam secangkir teh hangat yang disodorkan seorang kawan, dalam dengkur seekor kucing di pangkuanmu, dalam pemandangan awan senja yang melukis langit tanpa meminta imbalan.
Seorang bijak pernah menulis, "Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa badai, tapi Dia menjanjikan akan selalu menyertai kita melewati badai itu."
Dan aku adalah saksi. Aku adalah bukti hidup dari janji itu. Aku adalah kapal yang layarnya telah robek diterpa angin, yang tiangnya telah patah, yang kompasnya telah hancur. Namun, entah bagaimana, aku terdampar di sebuah pantai yang damai. Bukan pantai surga yang tanpa cela, melainkan pantai dengan pasir yang masih basah, dengan serpihan kayu dari kapalku sendiri yang berserakan.
Pantai ini adalah hari ini.
Dan aku bersaksi kepadamu: bahkan saat kau terjatuh dan kehilangan arah, saat kau merasa telah dilepaskan dan dilupakan, tangan Tuhan tidak pernah benar-benar jauh. Mungkin kau tak bisa melihatnya. Tapi cobalah rasakan. Dalam kehangatan selimutmu. Dalam setiap tarikan napas yang, entah kenapa, masih kau hirup. Di sanalah Ia berada. Tangan-Nya menopangmu, tanpa perlu kau sadari.
Komentar
Posting Komentar