Dan angka itu bergeser. Dari 21 ke 22. Tanpa suara, tanpa seremoni, hanya detik jam yang melompat di layar ponsel yang temaram, memantulkan bayang seorang lelaki di langit-langit kamar. Lelaki itu aku. Mochamad Rifadil Izarun Nidhom. Nama sepanjang doa yang dititipkan, kini menanggung usia yang kian berkarat. Hari ini, 16 September 2025, kalender berbisik bahwa aku semestinya merayakan. Tapi perayaan apa?
Ulang tahun adalah paradoks paling sunyi. Sebuah penanda waktu yang datang dengan riuh rendah ucapan, namun di dalam dada terasa seperti ruang hampa yang menggema. Orang-orang melihatnya sebagai garis finis satu tahun dan garis start untuk tahun berikutnya. Bagiku, ia adalah cermin retak yang memantulkan segala yang tak berubah, segala yang hilang, dan segala yang tak pernah benar-benar datang.
Sebelas tahun. Angka itu bukan sekadar usia di selembar kartu keluarga. Sebelas tahun adalah titik henti. Sebuah stasiun kecil di pedalaman ingatan tempat seorang anak laki-laki berdiri di peron, menatap kereta yang berjalan menjauh, membawa serta punggung seorang lelaki yang dipanggilnya Bapak. Punggung itu tak pernah menoleh lagi. Sejak saat itu, aku belajar bahwa kepergian bisa terjadi tanpa lambaian tangan, tanpa kata selamat tinggal. Hanya senyap. Dan senyap itu, bertahun-tahun kemudian, menjadi musik latar setiap kali aku meniup lilin imajiner di atas kue yang tak pernah ada.
Maka, ulang tahun menjadi hari yang menyedihkan.
Menyedihkan, ketika kita sadar usia kita bertambah tetapi tidak banyak berubah. Jiwa ini masih sama ringkihnya, masih sering terjatuh oleh kerikil yang sama, masih sering menangisi luka yang sama. Hanya topengnya yang kian tebal, senyumnya yang kian mahir menyembunyikan getar. Waktu terus menyeret raga ini ke depan, padahal kesempatan terasa semakin menyusut, menguap seperti embun pagi di bawah matahari dunia yang kejam. Kesempatan untuk memperbaiki, untuk memulai lagi, untuk sekadar berdamai.
Menyedihkan, ketika kita sadar bahwa memori yang tidak ingin dilupakan nyatanya semakin memudar dari hari ke hari. Aku berusaha keras menggenggamnya: aroma parfum Bapak, nada bicaranya saat marah, caranya tertawa hingga matanya menyipit. Tapi ingatan adalah pasir di sela jemari. Semakin erat kau genggam, semakin cepat ia luruh. Kini yang tersisa hanya fragmen-fragmen kabur, seperti foto usang yang warnanya telah dicuri waktu. Dan aku takut, suatu hari nanti, yang tersisa dari bapak dalam diriku hanyalah sebuah nama dan perasaan ditinggalkan.
Menyedihkan, ketika kita sadar betapa banyaknya orang-orang yang pernah datang dan kemudian pergi tiba-tiba dalam hidup ini. Bapak adalah yang pertama, tapi bukan yang terakhir. Mereka datang seperti musim semi, membawa bunga dan warna. Lalu mereka pergi seperti musim gugur, meninggalkan ranting-ranting kering dan lanskap yang sepi. Mereka mengajarkan bahwa hati manusia adalah terminal, bukan rumah. Tempat singgah, bukan tempat tinggal.
Di sisi lain, di antara puing-puing kesedihan itu, ada sebersit syukur yang rapuh. Syukur karena masih bisa bertahan. Bertahan meski banyak keluhnya, meski banyak tangisnya dalam sunyi malam. Bertahan di tengah dunia yang bising namun seringkali membuatmu merasa tak terdengar. Bertahan adalah sebuah kemenangan kecil yang tak memerlukan piala atau tepuk tangan. Cukup tarikan napas panjang di pagi hari, sebagai bukti bahwa kau berhasil melewati satu malam lagi.
Maka tak apa-apa tanpa perayaan. Tak harus ada hadiah yang terbungkus kertas kado mewah. Cukup doa saja yang panjang—terkadang itu lebih dari cukup. Doa yang dipanjatkan diam-diam oleh Ibu, oleh segelintir sahabat yang masih tersisa. Bahkan, di era digital yang serba singkat ini, tiga huruf saja—HBD—yang kemudian namamu di-tag di Instastory, rasanya sudah seperti sebuah pelukan hangat. Kita merasa diingat. Kita merasa diakui bahwa kita kenalannya, kita temannya, kita ada di hidupnya. Sebuah validasi sederhana bahwa eksistensimu tidak sepenuhnya transparan.
Aku sudah semakin tua, ternyata.
Sejujurnya, tahun ini tidak ada keinginan untuk dikasih hadiah, bahkan ucapan dari orang lain juga tidak kutunggu hadirnya. Mungkin ini bentuk pendewasaan, atau mungkin hanya sebentuk mekanisme pertahanan diri agar tidak kecewa. Meski begitu, jika ada yang mau mengingatnya, terima kasihku akan sama dalamnya dengan samudra.
Bertambah dewasa kukira akan ada lebih banyak bahagia yang bisa dicoba, lebih banyak pintu yang terbuka. Entahlah, sepertinya tidak banyak berubah. Hanya semakin tahu tentang dunia. Semakin tahu bahwa dongeng hanyalah untuk anak-anak, dan orang dewasa harus menulis ceritanya sendiri, seringkali dengan tinta yang terbuat dari air mata dan keringat.
Seperti kata Pidi Baiq, seorang pujangga urakan yang bijak dengan caranya sendiri, bahwa kita tidak bisa mengubah dunia. Dunia akan tetap berputar dengan hukumnya yang acak dan seringkali tak adil. Yang kita bisa adalah mengubah bagaimana cara memandangnya.
Mungkin, inilah pelajaran di ulang tahun ke-22. Bukan tentang perayaan, bukan tentang hadiah, bukan tentang ucapan. Tapi tentang mengubah cara pandang. Memandang kepergian sebagai pelajaran tentang keteguhan. Memandang kesendirian sebagai kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri. Memandang angka 22 bukan sebagai penanda ketuaan, melainkan sebagai 22 tahun pelajaran bertahan hidup.
Malam ini, di bawah tatapan bisu langit-langit kamar, aku tidak meniup lilin. Aku hanya menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Melepaskan beban satu tahun yang lewat, dan mencoba berdamai dengan satu tahun yang akan datang.
Aku, Mochamad Rifadil Izarun Nidhom. Dua puluh dua. Dan aku masih di sini. Bertahan.
Komentar
Posting Komentar