Dan hari ini. Empat September, ketika semesta masih menyisakan embun di pucuk-pucuk daun dan pagi baru saja merangkak dari tidurnya. Ada sebuah nama yang bergetar dalam doa, sebuah angka yang melingkar menjadi penanda waktu: dua puluh tiga. Namamu, Nadha Khoirina. Angkamu, dua puluh tiga.
Bagaimana cara menuliskanmu? Pertanyaan itu selalu datang tanpa permisi, mengetuk jendela pikiran seperti gerimis yang tiba-tiba turun di tengah hari yang terik. Aku mencoba merangkainya dalam aksara, menyusunnya dalam paragraf, tapi setiap kata terasa begitu canggung dan tak memadai. Sebab, aku bukan penyair atau bahkan penulis. aku cuma manusia biasa yang kebetulan menyukai mu. Aku hanya seorang juru catat yang terpukau, yang berusaha melukiskan cakrawala senja dengan cat air murahan. Maka, kalau kau temukan tulisan ku yang indah. ya begitulah tampak mu di mata ku. Di mataku, kau adalah paragraf yang tak pernah selesai, kalimat yang selalu menemukan koma untuk terus berlanjut, sebuah narasi agung yang tak membutuhkan penyuntingan. "se ada-adanya ada, ya adanya cuma indah. mau bagaimana lagi?" Begitulah semesta berkonspirasi saat memahatmu, saat menamai jiwamu: Nadha. Atau "mbek", sebuah panggilan ganjil yang entah bagaimana terdengar seperti senandung akrab di telinga para sahabatmu, sebuah kode rahasia tentang kehangatan yang hanya mereka yang mengerti.
Dua puluh tiga tahun. Waktu telah membawamu berlayar sejauh ini. Aku sering bertanya-tanya, lautan mana saja yang sudah kau arungi? Badai apa yang pernah merobek layarmu? Pelabuhan mana yang menyisakan luka saat kau terpaksa mengangkat sauh? Aku tidak tahu kau berangkat dari mana, perpisahan bagaimana yang sudah kau tinggalkan, atau ingatan-ingatan apa saja yang masih sering menyiksa kepalamu. Aku tak punya peta atas masa lalumu, tak punya kompas untuk menelusuri jejak-jejak yang mungkin masih basah di hatimu. Fragmen-fragmen itu adalah milikmu seutuhnya, bagian dari mozaik yang membentukmu hari ini.
Maka dari itu, biarlah kita bertemu di titik ini. Di persimpangan waktu yang bernama ‘sekarang’. Tanpa perlu menoleh ke belakang dengan getir atau menatap ke depan dengan cemas yang berlebihan. Cukup di sini, dengan kesadaran penuh. Tapi mari bertemu sebagai dua orang yang serius. Mari melanjutkan perjalanan tanpa meletakkan beban dari masa lalu pada setiap langkah yang akan kita tempuh. Mari kita jadikan ransel kita ringan, hanya berisi bekal harapan dan botol minum kepercayaan. Kita tak perlu saling menyalahkan peta yang usang atau kompas yang sempat rusak. Mari saling memenangkan sebagai dua orang yang pernah kalah. Kekalahan-kekalahan itu, Nadha, bukankah itu yang membuat kemenangan terasa begitu manis? Bukankah luka-luka itu yang mengajarkan kita cara paling ampuh untuk merawat?
Mari saling mengandalkan untuk hal-hal baik yang akan kita tuju. Aku akan menjadi tiang untuk layarmu, dan kau menjadi sauh untuk kapalku. Kita akan belajar membaca rasi bintang bersama saat malam terlalu pekat, dan berbagi cerita tentang camar-camar yang kita lihat saat fajar merekah. Kita akan membangun sebuah dek kecil di kapal kita, tempat kita bisa duduk berdua, membiarkan angin laut membelai wajah kita tanpa perlu banyak bicara.
Dan di daratan hati kita, semoga kita tumbuh jadi manusia yang rajin berkebun: merawat bunga sabar, pohon ikhlas, dan tanaman rambat bernama pengampunan di pagar pagar doa. Bayangkan, Nadha. Bunga sabar akan kita sirami setiap pagi, kelopaknya mekar dengan warna-warna tenang, mengajarkan kita bahwa semua butuh waktu, bahwa keindahan tak pernah datang tergesa-gesa. Pohon ikhlas akan kita tanam di tengah-tengah taman, akarnya mencengkeram bumi dengan kuat, dahannya menaungi kita dari terik kecewa, memberikan keteduhan saat dunia terasa membakar. Dan tanaman rambat pengampunan itu, ia akan merambati pagar-pagar doa kita, mengikat setiap bilah bambu dengan sulur-sulurnya yang lentur namun kokoh, memastikan tak ada celah bagi dendam dan sesal untuk menyelinap masuk. Taman itu adalah jiwa kita, yang kita rawat berdua.
Di antara semua doa yang kulangitkan hari ini, di antara semua harapan yang kuanyam untukmu—semoga langkahmu ringan, semoga tawamu lepas, semoga hatimu lapang—terselip satu pinta yang begitu sederhana, begitu fana, namun begitu jujur. Sebuah bisikan yang mungkin terlalu lancang untuk diucapkan, namun terlalu sesak untuk terus disimpan. Di tengah riuh rendah perayaan usiamu yang ke dua puluh tiga, di antara semua kemungkinan masa depan yang terbentang laksana permadani tak berujung, semoga semesta berbaik hati. Semoga ada satu momen hening, di mana sesosok bayang—entah itu aku atau takdir yang menjelma—datang mendekatimu, lalu berbisik dengan suara yang paling lembut, "Nadha, tumbuh dan menua bersamaku, yukk."
Sebuah ajakan. Bukan paksaan. Sebuah pertanyaan. Bukan pernyataan. Sebuah undangan untuk menempuh perjalanan panjang yang tak menjanjikan jalanan mulus, namun menjanjikan genggaman tangan yang tak akan terlepas.
Selamat ulang tahun sayang ku.
Komentar
Posting Komentar