Langsung ke konten utama

Aku Mencintaimu, Karena Kesederhanaanmu

Aku pernah menunduk lama. Bukan karena malu pada riuh dunia yang mendesak kita untuk terus mendongak, melainkan karena cinta itu tiba-tiba saja hadir, seperti gerimis yang turun tanpa aba-aba di tengah hari yang terik. Ia datang bukan dengan gelegar petir atau kilau pelangi yang memaksa untuk dilihat. Tidak. Ia meresap perlahan, seperti air yang menemukan jalannya ke akar paling sunyi, membasahi tanah hati yang telah lama kering. Di sanalah, dalam tunduk yang panjang itu, aku menyadari semuanya berawal darimu. Dari caramu ada.

Aku mencintaimu, karena cara berjalanmu tak pernah dirancang untuk menggoda mata siapa pun. Langkahmu biasa saja, ritmenya tenang, seolah setiap jejak adalah percakapan hening antara dirimu dan bumi. Namun, justru itu yang membuatku tunduk. Dalam ketenangan langkahmu, aku tak menemukan ajakan pada dunia, melainkan undangan untuk masuk ke dalam doa. Setiap kali kau melintas, semesta di sekitarku seakan mengambil jeda. Angin yang tadinya sibuk meniupkan kabar-kabar bising dari jalanan, mendadak berbisik lebih lirih. Aku melihatmu, dan aku ingin mendoakanmu. Mendoakan keselamatan untuk sepasang kaki yang tak pernah tergesa-gesa mengejar pengakuan.

Kau tak pernah mencari panggung, dan itu mungkin hal yang paling membingungkan bagi dunia. Di zaman ketika semua orang ingin menjadi pusat, kau justru menemukan semestamu di sudut yang teduh. Kau tak sibuk menjadi apa-apa; kau hanya sibuk menjadi. Menjadi dirimu sendiri. Tapi hadirmu, bagiku, adalah sebuah peristiwa yang khidmat. Ia seperti sujud yang khusyuk dalam riuh rendahnya pasar. Diam, tak bersuara, namun getarannya terasa hingga ke tulang rusuk. Kehadiranmu tidak menuntut perhatian, ia justru memberikannya; sebuah ketenangan yang hanya bisa dipahami oleh jiwa yang lelah mencari.

Orang lain mungkin tak akan pernah mengerti. Mereka akan bertanya, kenapa aku memilihmu di antara hamparan dunia yang penuh warna? Di antara wajah-wajah yang dipoles cahaya dan janji-janji yang diteriakkan dengan lantang? Mungkin, karena yang mereka cari adalah gemerlapnya pesta, riuh tepuk tangan, dan piala yang bisa dipamerkan. Sedang aku... aku hanya ingin pulang. Dan rumahku ternyata bukanlah sebuah bangunan megah atau tujuan yang jauh. Rumahku adalah kau. Jiwamu yang sederhana itu adalah pintu yang selalu terbuka, tempat aku bisa meletakkan seluruh lelahku tanpa perlu bertanya, tanpa perlu menjelaskan apa-apa.

Bagaimana caraku menerjemahkanmu? Kau seperti doa yang tak banyak kata. Doa seorang musafir di penghujung senja, yang hanya sanggup berbisik, "Tuhan, terima kasih." Singkat, namun setiap katanya lahir dari perjalanan panjang yang menggetarkan dada. Begitulah kau. Kesabaranmu dalam menghadapi hari, keteguhanmu memegang prinsip yang tak terlihat oleh mata telanjang, semua itu membuatku malu. Malu pada cintaku yang terkadang masih kekanakan, yang terlalu sering meminta dan menuntut bukti. Kau mengajariku bahwa cinta sejati bukanlah tentang apa yang bisa kita dapatkan, melainkan tentang apa yang sanggup kita berikan dalam diam.

Dan bagian terindah dari segalanya adalah ini: aku mencintaimu, karena tak ada yang perlu kau pura-pura. Kau adalah dirimu, dengan segala hal yang biasa saja di mata orang, namun menjadi luar biasa di semestaku. Kau tak perlu menjadi lebih putih, lebih tinggi, atau lebih riang. Kau adalah kau, apa adanya, dan di situlah agaknya Allah menitipkan bahagia. Sebuah kebahagiaan yang tak perlu diumumkan, cukup dirasakan. Seperti hangatnya mentari pagi yang menyelinap lewat jendela, ia tak berteriak, namun kehadirannya mengubah segalanya.

Pada akhirnya, aku menyerahkan kisah ini pada takdir-Nya. Jika pun nanti jalan kita tak ditakdirkan untuk bersatu di dunia yang fana ini, aku tak akan menagih janji pada langit. Aku hanya berharap, kelak di keabadian surga, kita tetap bisa duduk bersama dan tertawa mengenang semua ini. Sebab aku percaya, cinta yang lahir karena Allah, yang tumbuh dalam doa-doa sunyi dan kekaguman pada kesederhanaan, tak akan pernah menjadi sia-sia. Ia akan tercatat sebagai ibadah terindah, sebagai bukti bahwa hati pernah menemukan kiblatnya pada jiwa yang paling bersahaja.

Komentar