Langsung ke konten utama

Risalah Sunyi Para Pembaca

Barangkali, penghuni surga paling banyak adalah mereka para pembaca buku. Ya, barangkali. Sebuah bisikan lancang yang menyelinap di antara riuh rendah doa dan ritual. Sebuah dugaan yang tidak lahir dari dalil, melainkan dari renungan atas kata pertama yang jatuh dari langit, menggetarkan gua sunyi di Jabal Nur.

Iqra’. Bacalah.

Bukan, “Sembahlah.” Bukan, “Berperanglah.” Bukan pula, “Dirikanlah negara.” Langit tak menurunkan ayat soal tata cara ritual yang kaku, atau daftar panjang berisi mana boleh dan mana terlarang. Perintah itu tunggal, telanjang, dan menusuk jantung peradaban: Iqra’. Seolah Tuhan hendak berkata, “Sebelum kau mengenal-Ku, kenalilah dirimu lewat aksara. Sebelum kau meniti jalan lurus, pahamilah dulu peta semesta yang terhampar dalam kata-kata.”

Dan para pembaca buku itu, mereka seolah menangkap gema pertama itu dengan seluruh jiwa. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi menyimak. Mereka tidak hanya melafalkan, tetapi menjadikannya laku hidup. Di kamar-kamar sunyi mereka, di bawah temaram lampu baca, di sela-sela denting kereta atau di bangku taman yang dilupakan waktu, mereka melakoni perintah purba itu. Walau hanya satu ayat, satu paragraf, satu bab. Baca, baca, baca. Di sanalah kemerdekaan dimulai.

Mereka, para pembaca itu, adalah para peziarah paling khusyuk. Mereka berdialog dengan jiwa-jiwa yang telah lama menjadi debu. Dengan Plato di kedai kopi Athena, dengan Rumi di Konya yang bersalju, dengan Pramoedya di Pulau Buru yang senyap. Mereka meminjam mata seorang anak kecil yang melihat gajah dalam seekor ular boa, atau merasakan asinnya air mata Anna Karenina yang membeku di rel kereta. Waktu luruh di hadapan mereka. Geografi tak lebih dari sekadar garis di atas kertas. Buku adalah paspor mereka menuju semesta yang tak terhingga.

Setiap lembar yang dibalik adalah sebuah perjalanan spiritual. Membaca fiksi adalah memahami kemungkinan tak terbatas dari kemanusiaan—cinta, pengkhianatan, kepahlawanan, dan keputusasaan paling kelam. Membaca filsafat adalah bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat para malaikat pun terdiam. Membaca sains adalah mengeja tanda-tanda Tuhan yang paling rumit dan agung, dari ledakan bintang hingga kerlipan neuron di dalam kepala. Mereka tidak menyembah buku, tidak. Mereka justru membebaskan diri melalui buku. Membebaskan diri dari penjara prasangka, dari kebodohan yang diwariskan, dari dogma yang mematikan nalar.

Baca, baca, baca… merdeka.

Lalu kita lihat negeri ini. Negeri yang menahbiskan dirinya bangsa beriman, yang dadanya membusung saat bicara tentang kitab suci. Ironi yang paling pedih terpampang di depan mata. Perintah pertama itu, Iqra’, seakan menjadi anak yatim yang terlupakan. Kitab suci dilagukan dengan tajwid yang fasih, suaranya membumbung indah dari menara-menara masjid, tapi maknanya seringkali terkunci rapat, tak pernah diizinkan meresap ke dalam akal dan hati. Ia menjadi pajangan, pusaka, jimat. Bukan sumber ilmu yang hidup.

Sekolah-sekolah kita. Di sana buku hadir bukan sebagai jendela, melainkan sebagai beban. Ransel anak-anak kita melengkung oleh beratnya, tetapi jiwa mereka tetap kurus kering, tak tersentuh oleh keajaiban di dalamnya. Buku adalah setumpuk soal yang harus dihafal untuk ujian, bukan sebuah undangan untuk bertualang. Membaca menjadi kewajiban yang menjemukan, bukan kegembiraan yang memerdekakan. Kita menciptakan generasi yang bisa mengeja, tetapi kehilangan kemampuan untuk membaca semesta. Kita ajarkan mereka cara menjawab, tapi lupa cara bertanya.

Maka, apa bedanya kita dengan kaum yang menyembah berhala? Barangkali berhala kita lebih modern: gelar akademis tanpa kedalaman, kutipan tanpa pemahaman, pekik takbir tanpa perenungan. Kita memuja simbol-simbol pengetahuan, tetapi gemetar di hadapan pengetahuan itu sendiri.

Di sinilah para pembaca buku itu menemukan surga mereka, bahkan sebelum kematian menjemput. Surga mereka adalah perpustakaan sunyi di dalam kepala, tempat ide-ide bercinta dan melahirkan gagasan baru. Surga mereka adalah ketika sebuah kalimat mampu mengubah cara mereka memandang dunia. Surga mereka adalah kerendahan hati yang lahir dari kesadaran betapa sedikitnya yang mereka ketahui, di tengah samudra aksara yang tak bertepi.

Mereka mengerti, barangkali, bahwa jalan menuju Tuhan bukanlah jalan tol yang lurus dan bebas hambatan, melainkan labirin penuh tanda tanya. Dan setiap buku adalah lentera kecil yang menerangi satu sudut gelap labirin itu. Mereka tidak mencari jawaban akhir yang tunggal, sebab mereka tahu, pertanyaan yang baik jauh lebih abadi daripada jawaban yang mutlak.

Jadi, ya. Barangkali surga memang dipenuhi oleh mereka. Bukan karena mereka paling suci, bukan pula karena mereka paling taat dalam ritual. Tetapi karena mereka adalah manusia-manusia yang berusaha paling keras untuk memahami. Mereka menjawab seruan pertama itu dengan segenap hidup mereka. Seruan untuk membaca. Karena dengan membacalah, mereka melihat Tuhan tidak hanya dalam kitab suci, tetapi juga dalam puisi Chairil, dalam rumus Einstein, dalam tangis seorang tokoh fiksi.

Mereka adalah para kekasih aksara. Jiwa-jiwa yang percaya bahwa cahaya bisa ditemukan di antara tumpukan kertas kusam.

Dan di pintu surga, mungkin tak akan ada pertanyaan, “Berapa banyak rakaat salatmu?” atau “Berapa banyak puasamu?”

Barangkali, malaikat hanya akan tersenyum dan bertanya, “Buku apa yang terakhir kali kau baca hingga membuatmu terjaga sepanjang malam?”

Barangkali…

Komentar