Langsung ke konten utama

Dongeng Manusia Biasa di Etalase Cahaya

Manusia biasa.

Ya, manusia biasa. Adalah ia yang kausapa di pagi hari dengan wajah mengantuk, yang aroma tubuhnya adalah campuran antara sabun mandi murah dan sisa mimpi yang tak tuntas. Adalah ia yang napasnya memburu mengejar kereta atau bus kota, yang peluhnya membasahi kerah kemeja, meninggalkan peta garam sebagai prasasti sebuah perjuangan kecil yang tak akan pernah ditulis dalam buku sejarah mana pun. Inilah cerita. Cerita yang sesungguhnya.

Cerita tentang makhluk yang hidup di dunia nyata. Yang terbatas.

Terbatas oleh jam kerja delapan jam sehari, terkadang lebih. Terbatas oleh saldo di rekening yang menentukan menu makan siang. Terbatas oleh tenaga yang terkuras setelah seharian beradu dengan kerasnya aspal, bisingnya mesin, atau dinginnya ruang ber-AC yang membekukan inspirasi. Mereka adalah para pejalan kaki di trotoar retak, para pengendara motor yang menerobos gerimis, para ibu yang menawar harga sayur di pasar becek. Denyut nadi mereka adalah irama kota. Napas mereka adalah udara yang kita hirup bersama.

Maka, lihatlah mereka. Sungguh. Lihatlah kerutan di sudut mata mereka, bukan karena filter aplikasi, tetapi karena terlalu sering menyipitkan mata menantang terik matahari. Lihatlah kapalan di telapak tangan mereka, bukan properti foto, melainkan aksara bisu dari kerja keras yang nyata. Dengarlah helaan napas mereka saat merebahkan punggung di sofa usang, bukan kutipan motivasi, melainkan simfoni kelegaan paling murni. Inilah prosa kehidupan. Tanpa disunting, tanpa dipotong di bagian yang membosankan.

Lalu, datanglah sebuah panggung. Sebuah etalase mahabesar bernama linimasa. Sebuah dunia paralel yang terbuat dari cahaya dan piksel, yang menjanjikan sebuah versi kehidupan yang lain.

Di sana, di dalam kotak-kotak bercahaya itu, cerita tentang keterbatasan seolah menguap. Lenyap. Di sana, tak ada cerita tentang punggung yang pegal linu setelah menyetir berjam-jam. Yang ada hanya foto di tepi jendela kafe dengan kopi yang mengepul sempurna. Di sana, tak ada dongeng tentang tagihan yang jatuh tempo dan kecemasan yang menghantui jelang akhir bulan. Yang ada hanya perayaan-perayaan kecil yang diabadikan dalam gerak lambat, dengan musik latar yang dipilih dengan saksama.

Media sosial, ah, media sosial. Ia adalah kurator ulung. Ia memajang senyum, tapi menyembunyikan air mata yang menjadi alasnya. Ia memamerkan pencapaian, tapi membungkam ribuan kegagalan yang mendahuluinya. Ia mempertontonkan liburan di pantai berpasir putih, tapi tak pernah merekam drama pertengkaran di dalam mobil menuju ke sana. Ia adalah museum fragmen-fragmen kebahagiaan. Sebuah galeri yang hanya memajang lukisan-lukisan terbaik, sementara sketsa-sketsa yang carut-marut, yang penuh coretan dan sobekan, disembunyikan rapat-rapat di gudang belakang.

Manusia biasa, yang bernapas dan bergerak itu, kemudian menjadi penonton. Penonton bagi kehidupan orang lain yang tampak begitu sempurna, dan sekaligus menjadi penonton bagi versi ideal dirinya sendiri yang ia ciptakan. Terjadi sebuah skizofrenia massal yang halus. Ada "aku" yang sedang berjuang dengan setumpuk cucian kotor, dan ada "aku" di layar yang sedang tertawa lepas dengan latar belakang matahari terbenam. Ada "aku" yang cemas memikirkan masa depan, dan ada "aku" di layar yang mengetik, "Nikmati saja prosesnya."

Siapakah yang nyata?

Yang nyata adalah ia yang terbatas. Yang nyata adalah kelelahan itu sendiri. Yang nyata adalah kebingungan saat memilih antara dua kebutuhan mendesak dengan dana yang tak cukup. Yang nyata adalah kesendirian di tengah keramaian, perasaan hampa setelah sebuah pesta usai, kebosanan yang melanda di hari Minggu sore. Inilah daging dari sebuah kehidupan. Inilah tulang-belulang yang menyangga seluruh narasi besar kemanusiaan.

Media sosial tidak menceritakan bagian terbatasnya, karena keterbatasan dianggap sebagai aib. Sebagai cacat dalam sebuah pertunjukan kesempurnaan. Padahal, justru di dalam keterbatasan itulah letak segala keindahan yang otentik. Di dalam kelemahan, kita menemukan kekuatan. Di dalam kegagalan, kita memungut pelajaran. Di dalam luka, kita belajar tentang cara menyembuhkan.

Maka, mungkin sudah saatnya kita berhenti membaca dongeng dari etalase cahaya. Mungkin sudah waktunya kita kembali menulis cerita kita sendiri di atas kertas kehidupan yang terkadang lecek dan kumal. Cerita tentang manusia biasa. Yang bernapas. Yang bergerak. Dan yang terbatas.

Karena cerita yang paling jujur tidak ditulis dengan jempol di atas layar sentuh. Ia ditulis dengan setiap tetes keringat, setiap tarikan napas, setiap langkah kaki yang ragu namun terus maju.

Dan di sanalah, di antara napas dan lelah, kemanusiaan menemukan dirinya yang paling sejati. Selalu.

Komentar