Dan senja pun turun, seperti biasa, tanpa pernah meminta izin kepada siapa pun. Ia datang begitu saja, sebagai penanda waktu yang tak pernah lelah berputar, sebuah ritual alam yang agung sekaligus banal. Namun bagiku, senja bukanlah sekadar penanda waktu. Senja adalah kiasan paling jujur tentang bagaimana aku mencintaimu.
Aku mencintaimu seperti senja mencintai cakrawala. Lihatlah bagaimana ia menumpahkan seluruh warna jingganya pada kanvas langit yang pucat pasi, tanpa pamrih, tanpa syarat. Ia melukis dengan cahaya keemasan dan merah tembaga, membaur begitu mesra hingga tak ada lagi yang bisa menunjukkan di mana tepatnya batas antara langit dan bumi. Begitulah cintaku bekerja. Ia mengalir, meresap, menghapus semua garis yang memisahkan antara “aku” dan “kamu”, hingga yang tersisa hanyalah “kita” yang lebur dalam spektrum warna yang sama. Dalam bentangan waktu yang tak terukur, aku adalah jingga dan kau adalah cakrawala, tempatku pulang dan menumpahkan segala.
Barangkali orang-orang menganggap cinta harus selalu diucapkan, diteriakkan, diumumkan pada dunia. Tapi aku menemukanmu dalam cara yang berbeda. Aku mencintaimu dalam diam yang paling berisik. Dalam keheningan di antara kita, ada semesta percakapan yang tak pernah usai. Ada gemuruh rindu, ada simfoni kenangan, ada detak jantung yang menjadi genderang perang melawan sepi. Diamku adalah caraku menjagamu, melindungimu dari kata-kata yang terlalu fana untuk menjelaskan perasaan yang begitu abadi. Karena bukankah kata-kata seringkali hanya mereduksi makna? Cinta ini terlalu besar untuk dipenjara dalam abjad. Ia hidup dalam tatapan mata, dalam helaan napas, dalam jeda sebelum sebuah kalimat terucap.
Waktu dan jarak—dua tiran yang selalu berusaha merampas kebahagiaan manusia. Mereka membentangkan kilometer dan menghitung detik dengan kejam. Namun, tahukah kau? Di hadapan cinta ini, mereka tak lebih dari sekadar ilusi. Aku mencintaimu dalam setiap detik yang berdebar, merasakan kehadiranmu bahkan ketika raga kita dipisahkan oleh kota-kota yang tak saling kenal. Setiap lagu yang kudengar seolah bercerita tentangmu, setiap tetes hujan yang jatuh di jendela seolah membisikkan namamu. Jarak tak pernah benar-benar ada, karena aku membawamu ke mana pun aku pergi, terpatri dalam ingatan, terukir dalam jiwa. Kau adalah kompas batinku, titik koordinat tempat hatiku selalu tertuju, tak peduli seberapa jauh aku berkelana.
Maka, jika ada satu keajaiban yang boleh kuminta dari Tuhan, dari semesta, atau dari kekuatan gaib mana pun yang mengatur takdir, aku tak akan meminta harta atau kekuasaan. Aku hanya ingin waktu berhenti. Bukan untuk selamanya, itu terlalu serakah. Cukup satu menit saja.
Jika waktu bisa kuhentikan, aku akan membiarkan kita terkurung dalam satu menit keabadian itu. Sebuah kapsul waktu di mana dunia di luar sana boleh terus berlari, tapi kita tetap diam, membeku. Kita akan berdiri di sana, di bawah langit jingga yang menjadi saksi bisu, langit yang sama yang mengerti bahasa cinta kita. Di menit itu, tak akan ada masa lalu yang menghantui atau masa depan yang mencemaskan. Hanya ada detik ini. Hanya ada aku yang menatapmu dan kamu yang menatapku. Udara akan berhenti bergerak, namun dipenuhi oleh doa-doa rindu yang tak terucap, bergetar, mencari jalan menuju hatimu. Satu menit yang cukup untuk merasakan keutuhan, kepemilikan yang sempurna, sebelum waktu kembali menarik kita pada keniscayaan perpisahan.
Tapi senja, seperti halnya kebahagiaan, memang tak pernah dirancang untuk abadi. Jingga itu perlahan akan ditelan oleh legamnya malam. Namun, itu tidak mengapa. Karena bahkan setelah gelap mengambil alih, warna senja tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya bersembunyi di balik bintang-bintang, menunggu fajar untuk menjelma kembali dalam wujud yang baru. Begitu pula cintaku. Ia akan tetap ada, menjadi sisa-sisa jingga yang hangat di dalam hatiku, memberiku kekuatan untuk melewati malam yang paling kelam sekalipun, dengan janji bahwa senja kita akan selalu kembali. Selalu.
Komentar
Posting Komentar