Langsung ke konten utama

Cinta Sebagai Ruang Pembebasan

Aku ingin pagi bersamamu. Secangkir kopi, mungkin. Atau teh. Dan buku yang sama di tangan kita. Halaman-halaman yang menguar bau kertas tua, menguarkan gagasan tentang ruang yang tak pernah netral. Dan di antara jeda membalik halaman, aku akan menatap matamu, memulai percakapan yang mungkin tak akan pernah selesai. Sebab aku tak ingin sekadar jatuh cinta kepadamu; aku ingin membangun ruang bersamamu.

Dan kita akan bicara, bukan? Tentang bagaimana cinta sesungguhnya adalah produksi ruang. Bukan ruang dengan empat dinding dan atap, melainkan ruang mental, ruang spiritual, tempat kita bisa menjadi diri kita sendiri, telanjang tanpa perlu merasa gamang. Di dunia yang terus-menerus memaksa kita mengenakan topeng, membangun citra, dan mengikuti skenario, ruang yang kita ciptakan berdua adalah satu-satunya teritori pembebasan. Di sanalah kita merayakan kerapuhan, saling membasuh luka, dan menertawakan segala kepalsuan yang ditawarkan oleh panggung-panggung kekuasaan di luar sana. Ruang ini adalah revolusi sunyi kita, dibangun dari tumpukan buku, aroma kopi, dan percakapan hingga larut malam.

Dari percakapan tentang ruang yang abstrak itu, kita akan tiba pada ruang yang paling konkret, paling purba: rahim. Aku ingin kita mendiskusikannya tanpa tabu, tanpa selubung sakralitas yang justru melumpuhkan. Rahim sebagai laku politis. Sebab apa yang lebih politis dari keputusan untuk melahirkan atau tidak melahirkan kehidupan baru ke dalam sebuah sistem yang sering kali tak ramah pada kesadaran? Memilih untuk mengandung adalah sebuah pernyataan, sebuah pertaruhan. Itu adalah tindakan menyerahkan sebagian tubuh untuk menjadi pabrik kehidupan, sekaligus merebutnya kembali sebagai manifesto kedaulatan. Ia adalah ruang pertama bagi seorang manusia, dan keputusan atas ruang itu adalah hak prerogatif yang tak bisa ditawar.

Maka, jika kelak dari ruang itu, dari rahimmu, lahir tiga anak, aku memimpikan mereka bukan sebagai penerus nama atau pewaris harta. Tidak. Biarlah mereka menjadi tiga puisi panjang yang tak bisa disensor oleh siapa pun. Anak-anak sebagai proyek kesadaran. Kita akan ajari mereka membaca dunia dengan mata yang bertanya, bukan mata yang patuh. Kita akan perkenalkan mereka pada musik yang gelisah, pada film yang menggugat, pada sastra yang membebaskan. Kita tidak akan memberi mereka jawaban, tetapi kompas untuk mencari. Biarlah kelak mereka tumbuh menjadi pertanyaan-pertanyaan tajam bagi zaman mereka, menjadi bait-bait puisi yang ditulis dengan keringat dan keberanian, yang tak akan bisa dihapus oleh penguasa mana pun. Mereka adalah kemerdekaan yang kita perjuangkan dalam skala paling intim.

Aku tahu, cinta ini terdengar seperti pertaruhan yang melelahkan. Ia menuntut kesadaran penuh, kewaspadaan tanpa henti. Dan dunia akan selalu menyebutnya absurd. Mungkin memang begitu. Cinta di tengah dunia yang carut-marut adalah sebuah absurditas. Ia tidak menawarkan keuntungan, tidak menjanjikan kepastian. Ia hanya menawarkan dirinya sendiri: sebuah lompatan iman di tengah kehampaan.

Tetapi, bila memang cinta adalah absurditas, aku bersumpah akan mengulanginya setiap pagi. Aku akan memilihmu lagi dan lagi, dengan kesadaran penuh akan segala risiko dan kemungkinan sakit hati. Aku akan memeluk absurditas ini dengan keberanian seorang Camus, yang memilih untuk terus mendorong batunya ke puncak meski tahu ia akan menggelinding kembali. Sebab dalam pemberontakan sia-sia itulah letak martabat manusia. Dan aku akan melakukannya dengan kelembutan seorang Che, yang percaya bahwa revolusi sejati digerakkan oleh perasaan cinta yang besar. Keberanian tanpa kelembutan hanyalah kebrutalan.

Aku ingin bersamamu, membaca Lefebvre, dan membangun dunia kecil kita. Mungkin hanya seluas tatapan mata atau rentangan tangan. Tapi di ruang itulah kita menemukan segalanya.

Karena mencintai—adalah bentuk pertama dari pembebasan yang tak bisa dikompromi.

Komentar