Katanya, saya seorang aktivis. Label itu melekat entah sejak kapan, mungkin sejak tulisan pertama saya yang terbata-bata mencoba membedah ketidakadilan, atau mungkin sejak saya ikut berdiri di kerumunan yang meneriakkan sumpah serapah pada penguasa. Katanya. Tapi kata-kata, seperti juga label, seringkali hanya menjadi bungkus kosong yang indah, menyembunyikan kekosongan yang nganga di dalamnya.
Lihatlah saya sekarang. Di luar jendela, metafora itu menjadi begitu harfiah. Dunia sedang terbakar. Hutan-hutan luruh menjadi arang, pekik satwa yang hangus tak terdengar lagi, digantikan deru mesin yang meratakan tanah untuk sebuah peradaban baru yang lapar. Di layar gawai, api dalam bentuk lain berkobar-kobar: hoaks yang membakar nalar, kebencian yang menyulut perang saudara, dan foto-foto anak-anak dengan tatapan kosong di tengah puing-puing kota mereka. Api ada di mana-mana. Di parlemen yang mengesahkan undang-undang pesanan, di mata aparat yang memandang demonstran laksana hama, di keserakahan korporasi yang mengisap sari pati bumi tanpa sisa. Dunia memang sedang terbakar, dan saya tahu itu.
Lalu apa yang saya lakukan? Saya menyeduh kopi. Tangan saya dengan ritmis menakar bubuknya, menuang air panas dengan gerakan memutar yang khusyuk, menunggu dengan sabar hingga sari patinya luruh sempurna. Saya menghirup aromanya yang pekat, sebuah kemewahan kecil yang fana di tengah aroma hangus peradaban. Saya sibuk menghangatkan kopi, seolah-olah kehangatan kecil di telapak tangan ini bisa menjadi tameng dari kobaran api yang menjilat-jilat di luar sana. Sebuah tindakan eskapisme yang paling pengecut, sebuah ritual penenangan diri yang memuakkan.
Dan ketika kejahatan merajalela, ketika jerit mereka yang terampas haknya terdengar sayup-sayup di antara hiruk-pikuk berita selebritas dan diskon belanja daring, saya justru sibuk merapikan kata-kata. Saya menyusun kalimat, mencari padanan kata yang paling puitis untuk melukiskan darah dan air mata. Saya memoles paragraf hingga berkilau, mengedit tanda baca seolah-olah sebuah koma yang salah letak adalah kejahatan terbesar. Saya bergulat dengan alur dan narasi, mencoba menciptakan sebuah teks yang indah tentang kebusukan. Untuk apa? Agar pembaca mengangguk-angguk kagum? Agar nama saya terpampang sebagai penulis yang “peduli”? Kata-kata saya mungkin tajam, tapi hanya menggores permukaan kertas. Ia tak pernah benar-benar melukai tiran, tak pernah sungguh-sungguh membalut luka korban. Ia hanya menjadi artefak, sebuah monumen bisu dari tragedi yang terus berjalan.
Terkadang saya berpikir, mungkin jalan saya memang bukan di sini. Mungkin, saya lebih cocok jadi sufi yang menepi ke dalam sunyi, meratapi luka dunia dalam setiap tarikan napas dan wiridnya. Seorang sufi yang melihat kebobrokan bukan sebagai sesuatu yang harus dilawan dengan pekik dan kepalan tangan, melainkan sebagai cermin dari kegelapan jiwa manusia yang harus terus-menerus dibersihkan. Seorang yang menangisi penderitaan bukan untuk mencari solusi, tetapi untuk mencapai sebentuk pemahaman transendental tentang hakikat penderitaan itu sendiri. Meratapi luka, bukan melawannya. Karena melawan seringkali hanya melahirkan luka baru, dendam baru, dan lingkaran kekerasan yang tak pernah putus. Pejuang bertarung di medan laga; sang sufi bertarung di dalam kalbunya sendiri. Mungkin di sanalah tempat saya.
Tapi penolakan itu pun terasa seperti sebuah alibi. Sebuah pembenaran intelektual atas kelumpuhan saya. Sangat mudah untuk berlindung di balik jubah kontemplasi ketika dunia menuntut aksi. Sangat nyaman untuk menyebut kebisuan sebagai kebijaksanaan, padahal mungkin ia hanyalah perwujudan dari rasa takut yang paling purba. Takut dipenjara, takut dibungkam, takut kehilangan secangkir kopi hangat di pagi hari.
Maka, di sinilah saya, terperangkap dalam jeda yang terasa abadi. Di antara keinginan untuk menggebrak meja dan kebutuhan untuk menulis sajak. Di antara pekik revolusi dan desah pasrah. Cangkir kopi di tangan saya sudah hangat. Kata-kata di layar laptop sudah tersusun rapi. Dunia di luar sana masih terus terbakar.
Ahhh, semoga diam saya ini bukan pertanda setuju. Semoga ini bukanlah sebuah anggukan takzim pada kezaliman. Saya ingin percaya, sungguh ingin percaya, bahwa ini hanyalah jeda sebelum gaduh. Sebuah momen mengumpulkan napas sebelum teriakan yang memekakkan telinga. Sebuah ketenangan untuk mempertajam pisau analisis, yang ketika akhirnya diayunkan, akan memotong tepat di jantung persoalan.
Semoga. Karena jika tidak, maka saya bukanlah seorang aktivis, bukan pula seorang sufi. Saya hanyalah seorang pengecut yang pandai merangkai kata, dengan secangkir kopi hangat di tangannya, sementara dunia di sekelilingnya menjadi abu.
Komentar
Posting Komentar