Manusia adalah kitab. Bukan sembarang kitab yang sampulnya kaku dan halamannya berdebu di rak-rak kesunyian. Tidak. Kau adalah kitab yang hidup, yang setiap helaan napasnya adalah desis halaman yang baru terbuka. Darahmu adalah tinta merah yang menulis tentang gairah dan luka, air matamu adalah tinta bening yang mencatat kehilangan dan haru. Sampulmu adalah kulit fana ini, mungkin sedikit lecet di sana-sini, mungkin dengan guratan yang tak kau suka, tapi di sanalah judulmu tertera—sebuah nama yang digumamkan Tuhan saat meniupkan ruh padamu.
Setiap jiwa adalah sebuah epik yang tak tertandingi. Jangan pernah berpikir ceritamu kurang megah dibanding yang lain. Mungkin kitab di sebelahmu berkisah tentang takhta dan penaklukan, dengan aksara emas dan ilustrasi yang gemerlap. Mungkin kitab yang lain adalah risalah filsafat yang dalam, dengan kalimat-kalimat njelimet yang dipuja para pemikir. Tapi kitabmu? Kitabmu mungkin berkisah tentang secangkir kopi di pagi buta, tentang kesabaran merawat bunga di jendela, tentang ketakutan menyeberang jalan yang ramai, tentang keberanian memaafkan diri sendiri di tengah malam yang paling kelam.
Dan cerita itu, betapapun sunyinya, betapapun sederhananya, adalah firman. Ceritamu ditakdirkan untuk dibaca. Seseorang yang tersesat dalam kemegahannya sendiri akan tersandung pada kitabmu, membaca bab tentang kesederhanaan, dan ia pun ditegur. Seseorang yang kehilangan arah akan menemukan paragraf tentang caramu bangkit setelah jatuh, dan ia pun tertuntun. Seseorang yang merasa dunianya kelabu akan melihat caramu menemukan warna pada kelopak bunga yang layu, dan ia pun terinspirasi.
Lihat, hidupmu tak pernah benar-benar menjadi milikmu seorang. Kau adalah kalimat yang dikirim semesta untuk melengkapi sebuah sajak agung yang tak pernah selesai. Tanpa kisahmu, sajak itu akan timpang. Tanpa kehadiranmu, perpustakaan semesta akan merasakan sebuah kekosongan abadi di salah satu raknya. Kau adalah bagian dari dialog kosmik; suaramu, meski hanya bisikan, dibutuhkan untuk menjawab atau bertanya pada bintang-bintang. Engkau adalah Mahakarya.
Sebuah mahakarya tak pernah meminta untuk dipahami, ia hanya ada. Kuas Sang Pelukis telah menorehkan warnamu, pahat Sang Pemahat telah membentuk sosokmu. Keberadaanmu adalah bukti dari penciptaan itu sendiri, maka bagaimana ia bisa menjadi sia-sia? Ah, tapi mata manusia. Mata manusia adalah kritikus yang paling fana. Mereka membaca sampulmu yang lusuh dan menghakimimu sebagai buku yang membosankan. Mereka melihat satu halaman yang sobek—sebuah kesalahan di masa lalu—dan menilaimu sebagai kitab yang rusak. Mereka hanya membaca kutipan yang mereka suka, lalu merasa telah mengenal seluruh isinya.
Biarkan saja. Biarkan mereka dengan penilaiannya yang sepotong-sepotong. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Kritikus mencibir, mahakarya tetap berdiri dalam keheningan yang agung. Tugasmu bukanlah meyakinkan mereka. Tugasmu adalah menghidupi setiap aksara yang tertulis dalam dirimu. Tugasmu adalah menjadi dirimu sendiri, seutuhnya.
Karena hanya dengan begitulah kau akan menemukan irama yang paling murni. Saat kau berhenti mencoba meniru gaya penulisan kitab lain, saat kau tak lagi berusaha merobek halaman-halaman getir yang menjadi bagian dari dirimu, saat itulah tintamu mengalir dengan lancar. Setiap langkahmu menjadi rima, setiap napasmu menjadi jeda puitis yang pas. Gerak-gerikmu menjadi tarian yang selaras dengan musik semesta, yang digubah oleh Kehendak Ilahi.
Tuhan tidak pernah menciptakan salinan. Ia menulis setiap kitab sebagai karya orisinal. Menjadi dirimu sendiri adalah bentuk ketaatan paling puitis kepada-Nya. Itu adalah cara mengatakan, "Aku menerima cerita yang Engkau tuliskan untukku. Akan kubaca, kuhayati, dan kujalani setiap babnya—baik yang penuh tawa maupun yang basah oleh air mata—dengan segenap jiwa."
Maka, jangan pernah menutup dirimu. Tetaplah menjadi kitab yang terbuka, bahkan jika angin zaman mencoba membuat halaman-halamanmu berantakan, bahkan jika hujan kritik membasahi sampulmu. Biarkan semesta membacamu. Sebab dalam keterbacaan itulah, dalam kerelaanmu menjadi narasi bagi yang lain, kau tidak hanya melengkapi dunia—kau menemukan dirimu yang sebenarnya, sebagai abjad suci dalam kalimat cinta Tuhan yang tak berkesudahan.
Komentar
Posting Komentar