Maka saya membuka kembali peti itu. Bukan peti kayu berukir peninggalan nenek moyang, melainkan sebuah peti kardus yang telah lelah, yang sudut-sudutnya telah menyerah pada kelembapan dan waktu. Di dalamnya, terbaring tumpukan buku catatan—jasad-jasad dari diri saya yang lain, yang pernah hidup begitu riuh di antara margin halaman bergaris. Udara kamar yang pengap seketika beraroma masa lalu: campuran debu, kertas yang mulai menguning, dan sejenis bau aneh dari lem yang sudah kehilangan daya rekatnya. Tangan saya, yang kini lebih mengenal denyut papan ketik daripada gesekan pena, membolak-balik halaman itu dengan kelembutan seorang arkeolog yang takut merusak artefak rapuh.
Dan di sanalah ia. Manusia itu. Seorang anak muda yang menulis dengan tinta biru yang kadang meluber, dengan tulisan tangan yang miring ke kanan seolah tak sabar mengejar sesuatu di ujung kalimat. Setiap hurufnya adalah pekikan. Setiap paragrafnya adalah manifesto. Ia bicara tentang menaklukkan dunia seolah dunia adalah perempuan pemalu yang tinggal di rumah seberang jalan. Ia menulis tentang cita-cita laksana menara gading yang akan ia bangun seorang diri, dengan semen yang terbuat dari keringat dan keyakinan murni. “Hidup,” tulisnya dengan dua garis bawah, “adalah panggung yang disediakan Tuhan bagi mereka yang berani menjadi legenda.”
Saya tersenyum membaca bualan itu, senyum yang terasa seperti retakan di tanah kering. Naif. Berlebihan. Tapi, astaga, tulisan-tulisan itu berkilauan. Ada sejenis fosfor gaib yang memancar dari setiap katanya, cahaya dari semangat yang belum pernah mengenal tagihan listrik, belum pernah merasakan anyir pengkhianatan, belum pernah tahu betapa sunyinya sebuah kamar hotel di kota asing. Semangat itu kini terasa seperti dongeng yang pernah saya dengar waktu kecil, tentang kunang-kunang yang bisa mengubah malam menjadi siang. Suaranya seperti gesekan biola di tengah pasar yang bising—pernah ada, tapi kini tenggelam, digantikan oleh dengung mesin kota yang monoton dan abadi.
Lalu, seperti seorang tamu tak diundang yang masuk tanpa mengetuk dan langsung duduk di kursi rotan paling nyaman di ruang tamu batin saya, pertanyaan itu datang. Ia tidak bersuara, hanya menatap. Tatapannya menusuk lebih tajam dari ribuan kata. Ia bertanya, tanpa perlu membuka mulut: Apakah dirimu yang dulu akan mengidolakan dirimu yang sekarang?
Dunia berhenti berputar. Cicak di dinding membeku di tengah perburuannya. Jarum jam seolah menolak untuk melanjutkan tikamannya pada waktu. Saya terdiam. Di luar jendela, di halaman rumah yang tanahnya sudah retak-retak seperti wajah usia, pohon mangga tua itu tampak lebih bijaksana. Ia telah melihat puluhan musim datang dan pergi. Ia sudah berkali-kali merelakan buahnya jatuh, dicabuk hujan angin, dipanjat anak-anak tak dikenal, dan tetap berdiri di sana. Tanpa pernah menuntut tepuk tangan. Tanpa pernah menulis manifesto.
Dan di sanalah, di tengah keheningan yang memekakkan itu, saya menemukan jawaban yang getirnya seperti empedu. Tidak. Diri saya yang dulu, anak muda dengan mata menyala di dalam buku catatan itu, mungkin akan menaruh sedikit hormat, mungkin akan menepuk punggung saya dengan canggung dan berkata, “Lumayan, kau berhasil bertahan.” Ia mungkin akan bersyukur melihat atap yang menaungi kepala saya, melihat makanan di meja saya, melihat bahwa saya tidak berakhir sebagai gelandangan di bawah jembatan. Tapi mengidolakan? Ah, itu cerita yang sama sekali berbeda.
Anak muda itu memuja pahlawan. Ia mengoleksi poster para penakluk, para pendobrak, para orator yang suaranya bisa membuat lutut gemetar. Pahlawan dalam kamusnya adalah sosok dengan dada yang membusung, langkah yang anggun di atas puing-puing rintangan, dan sorot mata yang tak pernah goyah. Ia membayangkan masa depan sebagai sebuah epik, serangkaian kemenangan gemilang yang akan mengilap di mata dunia, yang akan dicatat dalam buku sejarah keluarga.
Kenyataan yang saya huni sekarang? Jauh lebih sederhana. Jauh lebih rapuh. Ia adalah sebuah cangkir porselen retak yang pernah menjadi hadiah pernikahan. Garis-garis retaknya membentuk peta dari setiap kejatuhan. Ia masih bisa menampung kopi panas di pagi hari, tapi ia telah kehilangan gemerlapnya, kebanggaan yang ia miliki saat pertama kali keluar dari kotaknya.
Tentu, saya bersyukur. Sebuah rasa syukur yang aneh, yang lahir bukan dari kemenangan, melainkan dari kemampuan untuk hidup bersama kekalahan. Saya bersyukur telah melewati badai-badai yang mengancam menenggelamkan perahu kertas saya. Saya bersyukur tidak lagi gemetar ketakutan pada kesepian, meski ia kerap datang dan duduk di sisi ranjang seperti kekasih tua yang setia dan tak banyak menuntut. Saya bersyukur mampu menerima bahwa kegagalan bukanlah kiamat yang meruntuhkan langit, melainkan hanya suara kuda yang tersandung di jalan berbatu; ia meringkik kesakitan sesaat, lalu kembali berjalan. Saya bersyukur pada setiap luka, pada setiap parut di jiwa, sebab dari sanalah lahir sejenis kebijaksanaan hening yang tidak akan pernah saya temukan dalam buku-buku filsafat yang saya baca dengan rakus di masa remaja.
Tapi, apakah semua itu cukup untuk membuat saya menjadi idola bagi mata yang dulu begitu murni dan menuntut itu? Saya ragu. Keraguan yang dingin dan berat.
Remaja itu, si penulis manifesto di buku catatan usang, pasti akan berdiri dan menunjuk wajah saya dengan telunjuk yang gemetar karena marah. Ia akan kecewa melihat betapa banyak persimpangan tempat saya memilih jalan yang lebih landai, betapa sering saya berdamai dengan keadaan yang seharusnya saya perangi. Ia akan menggertakkan giginya, melihat bagaimana api idealisme yang dulu membakar dadanya kini telah menjadi tumpukan abu yang hangat, yang nyaman untuk menghangatkan tangan, tapi tak lagi bisa membakar apa-apa.
Ia akan menolak mentah-mentah untuk mengidolakan seseorang yang begitu sering memilih diam ketika seharusnya berteriak. Seseorang yang lebih suka mengalah dan menyebutnya “dewasa”, daripada menghunus pedang kata-kata dan menanggung risiko terluka. Barangkali, dengan suara yang bergetar karena pengkhianatan, ia akan berkata, “Engkau telah kehilangan kilaumu. Engkau telah menukar bintang-bintang di langit dengan lampu neon lima watt. Engkau berdamai dengan kenyataan, tapi dengan itu engkau juga membunuh keberanian untuk bermimpi sebesar dulu.”
Dan saya tidak bisa membantahnya. Saya tidak akan mencoba. Karena ada getir yang sulit saya telan setiap kali saya menyadari bahwa peta hidup ini bukanlah garis lurus menuju puncak kemenangan, melainkan sebuah sketsa acak yang penuh belokan aneh, jalan buntu yang memaksa kita berbalik, bahkan rawa-rawa yang berbau busuk tempat kita terperosok dan harus merangkak keluar dengan tubuh penuh lintah. Saya tahu, saya tahu dengan sepenuh hati, bahwa diri saya yang dulu menginginkan seorang kesatria berkuda. Bukan seorang pejalan kaki yang berjalan tertatih dengan tongkat tak terlihat yang terbuat dari pengalaman pahit.
Namun, anehnya, justru di dalam pengakuan yang getir itulah saya menemukan sejenis kebebasan.
Karena bukankah mengidolakan berarti menciptakan jarak? Menaruh seseorang atau sesuatu di atas altar, meninggikannya hingga tak lagi terjangkau, memolesnya hingga tak lagi tampak pori-porinya? Idola adalah patung. Sempurna, dingin, dan mati. Sedang saya, dalam diri yang sekarang ini, hanya ingin menjadi manusia. Manusia yang bisa disentuh, yang darahnya merah, yang keringatnya asin. Manusia yang bisa gagal tanpa merasa seluruh dunia harus ikut runtuh bersamanya. Idola menginspirasi, ya, tapi seringkali dengan harga yang tak manusiawi. Mereka adalah mercusuar di kejauhan, tapi mercusuar tidak pernah bisa memeluk kapal yang karam.
Saya kini lebih ingin menjadi saksi. Atau mungkin sekadar pengingat. Sebuah catatan kaki dalam sebuah buku yang sangat tebal. Pengingat bahwa kehidupan tidak perlu dijalani dengan dada yang senantiasa membusung dan dagu yang selalu terangkat. Bahwa ada keindahan dalam kepala yang tertunduk, dalam bahu yang merosot lelah setelah seharian bekerja.
Lihatlah, ada burung-burung gereja yang tetap datang setiap pagi. Mereka mencicit riang di cabang pohon mangga itu, di bingkai jendela saya, meski saya tidak lagi punya ambisi untuk menulis puisi yang akan mengubah nasib dunia. Ada anak-anak tetangga yang masih tertawa di jalanan berdebu, tawa mereka melengking dan merdeka, meski saya tidak pernah berhasil menjadi pahlawan super di mata mereka. Ada cahaya matahari sore yang tetap menumpahkan emas cairnya di lantai ruang tamu yang kusam, meski saya hanya duduk diam di sana, membaca buku tua dengan huruf yang mulai kabur, ditemani secangkir kopi yang mulai dingin.
Mungkin di situlah letak syukur saya yang paling dalam bersembunyi: bahwa saya masih dapat melihat keindahan-keindahan kecil ini tanpa dorongan untuk menaklukkannya, tanpa hasrat untuk mengidolakannya, tanpa kebutuhan untuk menjadikannya monumen megah yang pada akhirnya hanya akan lapuk dimakan lumut dan waktu.
Maka, jika diri saya yang dulu, si anak muda berapi-api itu, memutuskan bahwa saya tidak layak menjadi idolanya, saya akan tersenyum dan memaafkannya. Tentu saja. Karena mungkin memang begitulah seharusnya siklus kehidupan bekerja: masa lalu memerlukan pahlawan sebagai bahan bakar untuk berlari. Sedangkan masa kini, ia hanya memerlukan manusia yang masih bisa merasakan hangatnya matahari pagi di punggungnya, yang masih bisa tersenyum, meski dengan senyum yang sedikit getir.
Pada akhirnya, idola hanyalah fatamorgana di padang pasir masa muda, sebuah oasis indah yang membantu kita terus melangkah ketika haus.
Tetapi manusia yang tetap berjalan, meski tahu di depannya tidak ada panggung penyambutan, tidak ada kilatan lampu kamera, tidak ada tepuk tangan yang riuh—manusia itulah yang sungguh ada. Dan barangkali, hanya barangkali, itu sudah lebih dari cukup.
Komentar
Posting Komentar