Jasad ini adalah pertalian hidup dan mati, sebuah parodi konkret dari paradoks yang tak pernah selesai dirundingkan antara angan dan ingin. Aku adalah persimpangan itu sendiri, tempat lalu-lalang harapan yang melaju kencang menuju tubrukan tak terhindarkan dengan kenyataan. Di malam-malam yang merayap mendekati pagi, ketika kota seharusnya lelap namun justru paling telanjang dalam resahnya, aku mencoba merapal teosofi. Bukan dari kitab-kitab tebal berdebu yang ditulis para wali, melainkan dari sisa-sisa ayat Yasin yang terputus-putus di kepala, beradu dengan kepulan asap rokok dan segelas kopi hitam yang pekat oleh alibi. Kopi menjadi saksi bisu, bahwa terjaga semalaman suntuk adalah sebuah pencarian spiritual, bukan sekadar lari dari mimpi buruk yang menunggu di balik kelopak mata.
Pagi menjelang, menyisakan ampas dari kopi saset Torabica Moka—jejak manis-pahit dari pergulatan semalam. Teori-teori besar, nama-nama agung dari para filsuf yang potretnya kupandangi di layar ponsel, berdengung seperti nyamuk. Humanisme atau fasisme? Keduanya terdengar seperti dua sisi dari koin yang sama, dilempar ke udara oleh tangan-tangan kekuasaan yang tak terlihat, sementara aku di bawahnya hanya bisa menengadah, menebak sisi mana yang akan jatuh menimpa wajahku. Aku tersesat, bukan di hutan belantara, tetapi dalam labirin kekurangan pengetahuan yang dindingnya adalah buku-buku yang belum kubaca, tautan-tautan yang belum kuklik, dan percakapan-percakapan yang tak pernah kumengerti sepenuhnya. Labirin ini tak berkesudahan, sebab setiap jalan keluar yang kutemukan ternyata hanyalah pintu menuju lorong yang lebih rumit, lebih gelap.
Dan di tengah ketersesatan itu, dunia memelukku. Pelukan yang begitu mesra, begitu intim, hingga aku tak sadar ia telah memancung sesuatu yang paling purba dalam diriku. Alat kelaminku, mungkin. Simbol kejantanan, hasrat, dan daya cipta itu kini tergeletak gagu, terpisah dari tubuh dalam dekapan dunia yang menawarkan kenyamanan semu. Aku berdiri di antara dua perasaan yang saling menikam: bangga karena telah diterima, menjadi bagian dari mesin besar yang terus berputar ini, atau berduka karena telah kehilangan esensi liarku, ditukar dengan keamanan dan tepuk tangan palsu. Tak ada hampa, tapi juga tak ada bahagia. Yang ada hanyalah status quo yang membius. Rohku berkelana, bukan di alam barzakh, melainkan di belantara kabel fiber optik, tersesat dalam koneksi internet yang lambat—sebuah penyiksaan modern yang sempurna, di mana pembebasan informasi hanya berjarak satu loading bar yang tak kunjung penuh.
Perlahan-lahan, laju kehidupan yang tersendat ini menyihirku, menarikku ke dalam pusaran resah yang basah—basah oleh keringat dingin, oleh air mata yang tak jadi tumpah, oleh embun pagi yang menyelinap lewat jendela. Malam-malam yang dulu kuisi dengan petualangan kini menjadi malam-malam tabu, di mana aku hanya berani mengeja hatiku sendiri, satu per satu hurufnya terangkai menjadi elegi. Aku menangisi hilangnya sesuatu yang lebih penting dari kebahagiaan itu sendiri: rasa rindu. Kerinduan akan sesuatu yang tak kuketahui, kerinduan yang membuat hidup terasa layak diperjuangkan. Kini, semua terasa datar. Persis seperti yang digumamkan Camus dari seberang zaman, inilah "kemiskinan kebebasan"—bebas melakukan apa saja, namun tak punya alasan untuk merindukan apa pun.
Lalu, apa lagi yang hendak kukatakan? Kata-kata terasa basi ketika semua jalan menjadi sia-sia. Di panggung besar negeri ini, politik mengenakan topeng agama, sementara agama itu sendiri disutradarai oleh dusta. Para penjaja ayat berlenggak-lenggok seolah panggung ini milik mereka, mempertontonkan sensualitas kedok suci yang bokongnya lebih mekrok dari janji keselamatan itu sendiri, mendayu-dayu menarikan kerinduan palsu atas welas asih yang kian langka. Manusia modern melangkah dengan ponggah, sepatu mahalnya menginjak bayang-bayang saudaranya sendiri tanpa menoleh. Di langit, barangkali Jibril yang ribuan tahun lalu tak gentar bolak-balik membawa wahyu, kini matanya menyipit. Bukan karena silau oleh cahaya ilahi, tapi karena kekurangan cahaya saat menatap ke bawah, ke dunia yang manusianya sibuk bersaing dalam kefanaan yang gelapnya tak ada habisnya. Dan aku, di sini, tetap terjaga, dengan ampas kopi yang mengendap seperti takdir, mencoba mengeja sisa-sisa iman di antara alibi dan fajar yang tak kunjung pasti.
Komentar
Posting Komentar