Langsung ke konten utama

Tentang Cukup yang Bernama Kau

Hidup pernah begitu deras. Ia datang seperti bah, menyeret-nyeretku dalam arus yang tak kumengerti hulunya, tak kutahu muaranya, hanya pusaran-pusaran kecil bernama tenggat waktu, tagihan, dan ekspektasi orang-orang yang wajahnya tak lagi kuingat. Begitulah hidup memberi. Ia seringkali memberi terlalu banyak. Seperti sebuah cangkir yang terus diisi, meski isinya telah lama meluber, membasahi meja, lantai, dan merembes entah ke mana. Aku adalah cangkir itu. Tumpah ruah.

Malam-malam menjadi panggung bagi riuh yang tak bersuara di dalam kepala. Siang hari menjadi etalase bagi riak yang tak terlihat di permukaan wajah. Segalanya terlalu banyak: terlalu banyak suara, terlalu banyak cahaya, terlalu banyak tugas, terlalu banyak keinginan, terlalu banyak ketakutan. Aku terengah-engah dalam kelimpahan itu, megap-megap di tengah lautan kemungkinan yang justru terasa seperti ancaman. Aku rindu pada jeda, pada spasi, pada titik. Tapi hidup terus saja membubuhkan koma, koma, dan koma. Tak ada henti.

Lalu, seperti sungai yang surut setelah badai, hidup memberiku kadar yang lain. Cukup. Ia memberiku cukup. Di sana, aku mulai bisa bernapas. Aku bisa mencicipi sepi tanpa merasa kesepian, merayakannya sebagai ruang untuk kembali menemukan diri. Aku bisa mencecap ramai tanpa merasa tenggelam, menikmatinya sebagai musik latar dari pentas keseharian. Ada pagi dengan mentari yang hangatnya pas, ada malam dengan sunyi yang tak mencekam. Cukup. Sebuah kata yang terdengar begitu sederhana, namun butuh perjalanan panjang untuk benar-benar bisa merasakannya. Dalam kadar yang cukup itu, aku merasa utuh. Aku pikir, inilah puncak dari segala pinta.

Aku salah.

Karena akhir-akhir ini, hidup memberiku sesuatu yang melampaui "terlalu banyak" dan "cukup". Sesuatu yang tak bisa diukur dengan takaran. Hidup memberiku kau. Kau di sisiku. Bukan sebagai penyeimbang, bukan sebagai penawar, tapi sebagai semesta lain yang berjalan beriringan dengan semestaku. Kau yang tak pernah mencoba menghentikan derasnya arus, tapi memilih untuk membuat rakit kecil agar kita bisa mengarunginya bersama.

Kau ada di sana. Di tengah riuh rendahnya hari-hari, saat aku menjadi pusat perhatian atau sekadar figuran. Kau ada di pinggir, saat dunia sedang tak melirik, saat aku hanya sebutir debu di antara miliaran lainnya. Kau menemani dalam tengah dan pinggir keseruan sehari-hari. Sebuah kalimat yang kubaca entah di mana, tapi baru kumengerti maknanya setelah kau ada. Keseruan itu bukan hanya tentang tawa yang meledak, tapi juga tentang diam yang nyaman, tentang lelah yang dibagikan, tentang keluh yang didengarkan.

Kehadiranmu membisikkan sebuah kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik keluh kesahku: bahwa hidup tak pernah menjanjikan apa pun yang tak sanggup kupikul. Beban itu mungkin terasa berat, pundak ini mungkin terasa ringkih, tapi kau menjadi bukti bahwa selalu ada cara untuk menopangnya. Caranya adalah dengan tidak sendirian.

Seperti sekarang, saat aku menulis ini dan secangkir kopi mengepulkan asap di sampingku. Aku tahu, kau ada di sana. Bukan secara harfiah di dalam kafein atau gulanya, tapi dalam ritual pagiku yang kini terasa lebih punya makna. Kau ada dalam hangatnya, dalam tenangnya, dalam janji bahwa hari ini akan kita hadapi bersama, entah apa pun yang ia bawa.

Kau ada pada jari-jemari. Saat jemarimu bertaut dengan jemariku di tengah keramaian pasar, di dalam bioskop yang temaram, atau sekadar saat menyeberang jalan. Sentuhan itu menjadi jangkar, pengingat bahwa di tengah hiruk pikuk dunia yang bisa menarikku ke mana saja, ada satu genggaman yang tak akan pernah terlepas. Genggaman yang mengatakan, "Aku di sini."

Dan lebih sering, jauh lebih sering, kau ada pada peluk dan kecup tempo hari. Pelukmu bukan sekadar dua lengan yang melingkar, tapi sebuah rumah yang bisa kubawa ke mana-mana. Tempat segala riuh dan riak mereda, menjadi dengung yang syahdu. Kecupmu bukan sekadar bibir yang bertemu, tapi sebuah segel yang mengesahkan bahwa setiap momen, sepahit atau semanis apa pun itu, adalah milik kita berdua.

Hidup memang memberi banyak. Kadang ia adalah badai, kadang ia adalah gerimis. Tapi denganmu, aku tak lagi peduli pada takaran. Karena kau bukanlah tambahan yang membuatku tumpah. Kau adalah cangkir itu sendiri, yang menampung segala isi kepalaku, segala isi hatiku, tanpa pernah takut meluber.

Komentar