Langsung ke konten utama

Lelucon Paling Sunyi di Bawah Kota yang Runtuh

Aku pernah membaca lelucon yang lucu sekaligus menyedihkan, sebuah anekdot purba yang barangkali tertulis di dinding-dinding gua kesepian manusia modern. Ceritanya klise, seperti potongan adegan film noir hitam-putih yang diputar berulang-ulang di bioskop yang bangkunya sudah berdebu.

​Seorang lelaki pergi ke psikiater. Ia tidak membawa luka fisik; tidak ada darah yang menetes dari pelipisnya, tidak ada memar biru di rusuknya. Ia hanya membawa sekantong kehampaan. Ia mengeluhkan bahwa ia menderita depresi, sebuah kata yang di zaman ini seringkali kehilangan maknanya karena terlalu sering diucapkan di kedai kopi, tapi bagi lelaki ini, kata itu adalah monster. Ia mengatakan bahwa hidup ini terasa keras, terlalu kasar, seolah-olah dunia adalah amplas dan dia adalah kayu yang dipaksa halus sampai habis. Ia berkata tak ada seorang pun yang memahami lapisan terdalam jiwanya. Ia merasa total sendiri di dunia yang segala hal di dalamnya mengancam, menguras energi, tidak jelas, dan tidak pasti.

​Dunia baginya adalah sebuah lorong gelap tanpa ujung, dan ia berjalan tanpa membawa obor.

​Sang psikiater, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan ijazah yang tergantung rapi di dinding, karena seolah kertas itu bisa menjamin kewarasan manusia, ia berusaha memberi empati. Ia menyandarkan punggungnya, menatap pasiennya dengan tatapan yang sudah dilatih bertahun-tahun untuk terlihat peduli.

​"Pengobatannya cukup sederhana," kata dokter itu, suaranya tenang seperti air kolam yang tak pernah dilempar batu. "Di persimpangan jalan ini, di alun-alun kota yang tak pernah tidur ini, selalu ada badut muncul. Ia memakai riasan wajah tebal, sebuah topeng kegembiraan yang permanen. Ia akan menghiburmu. Ia selalu mendengarkan keluh-kesah hati orang-orang yang depresi, ia akan membuatmu merasa didengarkan dan dipahami."

​Dokter itu tersenyum, sebuah senyum yang penuh keyakinan. "Jujur saja, jika aku sedang tidak baik-baik saja, jika pasien-pasienku membawa terlalu banyak sampah ke dalam kepalaku, aku selalu mengunjunginya. Hanya dengan melihatnya melompat, tertawa, dan menghibur banyak orang, hatiku terobati. Ia adalah obat mujarab bagi kota yang sakit ini. Ia akan juga membuatmu lebih baik. Cobalah temui ia, meski hanya sesekali."

​Hening.

​Di luar jendela, mungkin hujan sedang turun. Hujan di kota ini selalu memiliki cara tersendiri untuk membuat segalanya tampak lebih kelabu, lebih puitis sekaligus lebih tragis. Suara klakson dari kejauhan terdengar seperti teriakan orang-orang yang terjebak dalam labirin waktu.

​Mendengar saran itu, lelaki tersebut tidak tersenyum. Bahunya tidak menjadi ringan. Sebaliknya, air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Air mata yang tenang, bukan raungan histeris, melainkan air mata dari seseorang yang menyadari bahwa pintu keluar terakhir baru saja dikunci dari luar.

​Ia menatap dokternya, tatapan yang menembus kacamata tebal dan ijazah di dinding, tatapan yang melihat langsung ke dalam absurditas eksistensi manusia.

​"Tapi Dokter," katanya dengan suara yang retak, seperti kaca yang diinjak sepatu lars, "Akulah badut itu. Sayalah badut yang Anda tonton setiap sore."

​Lelucon itu berakhir di sana, tapi gemanya memantul di kepala kita seperti suara tembakan di lorong kosong.

​Dalam semesta cerita ini, kita dipaksa menelan sebuah pil pahit bahwa penghibur adalah orang yang paling membutuhkan hiburan. Bahwa di balik bedak tebal dan senyum yang dilukis dengan gincu merah menyala, terdapat wajah yang lelah, wajah yang sama seperti wajah kita saat menatap cermin di kamar mandi pukul dua pagi.

​Kita hidup di sebuah kota—sebut saja Tulungagung, atau Surabaya, atau bahkan kota metropolitan seperti Jakarta, namanya tak penting, di mana setiap orang dituntut untuk menjadi fungsional. Kita harus produktif. Kita harus bahagia. Atau setidaknya, kita harus terlihat bahagia. Kita memposting foto makanan enak, liburan eksotis, dan senyum lebar di media sosial, sementara di dalam dada ada lubang menganga yang ditiup angin malam. Kita semua adalah badut-badut amatir yang sedang belajar memakai riasan.

​Sang badut dalam cerita ini adalah metafora paling brutal tentang kondisi manusia modern. Ia adalah Joseph Grimaldi, ia adalah Pagliacci. Ia adalah martir yang disalibkan di atas panggung tawa. Ia menyerap kesedihan kota, mengubahnya menjadi lelucon, melempar bola-bola ke udara, terpeleset kulit pisang, hanya agar orang lain bisa melupakan sejenak bahwa tagihan listrik belum dibayar atau cinta mereka baru saja kandas. Tapi siapa yang menyerap kesedihan sang penyerap? Ke mana tempat sampah membuang sampahnya sendiri?
​Psikiater itu, dengan segala ilmu pengetahuannya, tidak bisa melihat menembus topeng. Ia terjebak pada ilusi bahwa kebahagiaan adalah sebuah komoditas yang bisa didapat dari luar. "Pergilah ke badut itu," katanya. Ia tidak sadar bahwa ia sedang menyuruh seseorang untuk meminum air matanya sendiri.

​Tragedi ini mengingatkan saya pada malam-malam panjang di mana kita merasa menjadi alien di tengah pesta yang ramai. Musik berdentum keras, orang-orang tertawa dengan gelas di tangan, tapi kita merasa ada dinding kaca yang memisahkan kita dengan mereka. Kita tertawa paling keras hanya untuk memastikan bahwa kita masih ada, bahwa kita masih bagian dari kawanan ini.

​Pada akhirnya, lelucon ini bukan tentang badut. Ini tentang kita. Tentang betapa rapuhnya pertahanan diri kita. Kita membangun benteng dari ironi dan sarkasme, kita melukis wajah kita dengan prestasi dan status sosial, berharap dunia tidak melihat anak kecil yang ketakutan di dalamnya.

​Dan ketika lampu panggung mati, ketika riasan itu luntur oleh keringat dan air mata, kita kembali menjadi lelaki yang duduk di ruang praktik psikiater itu. Sendirian. Di sebuah dunia yang mengancam, menguras energi, tidak jelas, dan tidak pasti.

​Mungkin, di ujung cerita, tidak ada solusi. Psikiater itu akan terdiam. Pasien itu akan pulang, kembali memakai kostumnya, dan esok hari ia akan kembali membuat orang tertawa. Karena kota ini butuh tawa, meski tawa itu lahir dari rahim penderitaan yang paling sunyi. Dan di luar, senja akan turun sekali lagi, merah dan berdarah, menutup hari seperti tirai panggung yang jatuh di atas pertunjukan yang sebenarnya tidak pernah lucu.

Komentar