Perjalanan selalu tentang tenggelam dan terangkat, seperti sepotong gula yang perlahan menghilang ke dalam air, lalu kembali menjadi keriangan rasa di ujung lidah. Sore itu, tak ada lagi yang lebih nyata dari hasrat untuk membiarkan diri terlarut, bukan di lautan garam yang asin dan legendaris, melainkan di samudra cokelat keemasan yang dingin itu: Lautan Es Teh Manis.
Aku menjatuhkan diri, tanpa ragu, tanpa suara cipratan yang memprotes sunyi. Tubuhku disambut oleh aroma pekat tanin yang telah bersetubuh mesra dengan dinginnya es—sebuah kehangatan yang dibekukan, sebuah paradoks yang hanya bisa dipahami oleh para pemabuk kenikmatan. Di sekelilingku, bongkahan-bongkahan es berderak pelan, menciptakan melodi kristal yang mengingatkanku pada patahan-patahan memori yang tak lagi utuh. Cairan kental yang memelukku ini adalah janji: janji akan pelupaan, janji akan surga yang sementara.
Semakin dalam aku menyelam, warna cokelat itu semakin buram, menjadi medium meditasi yang sempurna. Dan di sinilah, di kedalaman yang seharusnya hanya dihuni oleh dingin, aku bertemu mereka: Sepasang Entitas Kemanisan. Glukosa dan Sukrosa, duduk di dasar, di atas hamparan remah-remah teh yang purba. Mereka bukan dewa-dewi mitologi yang bertubuh raksasa, melainkan kristal-kristal halus yang memancarkan cahaya redup, duduk takzim, bergandengan tangan dalam ikatan kimia yang abadi. Mereka menatap ke atas, ke buliran-buliran gelembung udara yang tak henti-hentinya naik—gelembung-gelembung yang adalah sisa-sisa nafas yang kutinggalkan di permukaan, atau mungkin, desah kehidupan yang dirayakan dalam keriangan yang singkat.
"Kemanisan adalah gravitasi," bisik Sukrosa, tanpa bibir. "Ia menarik semua jiwa yang letih untuk berhenti bergerak."
"Dan kepasrahan adalah pelarut terbaik," timpal Glukosa, suaranya seperti denting sendok yang membentur gelas kaca. "Kami tidak menciptakan takdir, kami hanya menawarkan tempat peristirahatan."
Aku tersenyum dalam keterbatasan gerakku. Rasa manis itu menjalar ke setiap pori, membius saraf-sarafku. Tapi ada yang ganjil, sebuah nota minor di tengah simfoni sukacita ini. Rasa asin yang tipis, sebongkah garam halus yang terasa familiar namun misterius. Aku tahu itu: keringat. Keringat asin dari jerih payah Mba-Mba Kantin yang tanpa sadar telah menyematkan residu tubuhnya, sedikit rasa asin dari realitas yang tak terhindarkan, ke dalam lautan fantasi glikemik ini. Sebuah ironi yang sublime: bahkan dalam kemanisan yang paling murni, tetap ada jejak kerja keras, jejak tubuh yang lelah, jejak kemanusiaan yang terbasuh.
Aku terus menyelam. Semakin jauh dari gelembung, semakin dekat aku pada Palung Glukemik, zona subduksi di mana keinginan untuk hidup dan keinginan untuk luruh menjadi satu. Di dasar itu, kemanisan tidak lagi terasa seperti keriangan yang membuncah, melainkan seperti selimut beludru yang berat, menekan dada, menawarkan pemakaman yang paling damai. Palung itu adalah titik klimaks dari sukacita yang berlebihan, titik di mana aku, dalam kemesraan dengan kemanisan hidup, menjadi lupa bahwa aku adalah makhluk darat yang butuh udara.
Nafas. Ketiadaan nafas.
Di kedalaman itu, Glukosa dan Sukrosa tersenyum dengan tatapan kosong, seolah berkata: "Inilah yang kamu cari. Kebahagiaan yang absolut adalah juga ketiadaan absolut."
Aku mulai panik, namun tubuhku terlalu pasrah, terlalu penuh oleh sirup kental yang mematikan. Palung itu telah mengklaimku. Aku telah menukar udara dengan gula. Tapi, di saat-saat terakhir sebelum oblivion menjemput, mataku menangkap kilasan keajaiban yang paling profan: sebatang tiang putih, berlubang di tengah, mencuat dari kedalaman.
Sedotan. Sedotan plastik, artefak peradaban cepat saji, relik polimer yang seharusnya hanya berfungsi sebagai saluran, kini menjadi tali perak yang menghubungkan kematian dengan daratan. Dengan sisa tenaga, aku merangkak, meraihnya, dan menyedot udara yang tersisa di dalamnya. Udara, udara yang pahit, yang hambar, yang beraroma debu dan kehidupan yang sibuk, menyerbu paru-paruku.
Dunia mendadak kembali berisik. Dengan sentakan yang brutal, aku terangkat, terlempar kembali ke daratan meja kantin yang lengket. Lautan Es Teh Manis itu kini terlihat kecil, terbatas oleh dinding-dinding gelas, menunggu untuk ditelan, bukan ditenggelami. Aku terengah, merasakan rasa asin Mba-Mba Kantin itu bercampur dengan rasa asin air mataku.
Aku terselamatkan oleh yang fana, dari yang fana. Dan aku tahu, entah esok atau lusa, ketika keriangan hidup terasa hambar dan mematikan, aku akan kembali memanggil Samudra Cokelat Keemasan itu.
Komentar
Posting Komentar