Alangkah mengerikannya hidup di dunia yang hanya percaya pada apa yang bisa dihitung. Di kota ini, di zaman ini, kau dan aku sepertinya telah disepakati untuk tidak lagi dipandang sebagai manusia yang bernapas dan berdarah, melainkan sebagai mesin yang harus terus memuntahkan hasil.
Kau berjalan di trotoar yang basah oleh sisa hujan semalam, dan kau bisa merasakan tatapan mereka. Tatapan yang tidak mencari "siapa" dirimu, melainkan "apa" yang bisa kau beri. Dunia telah menjadi pasar raksasa yang bising, di mana nilai seorang manusia ditentukan oleh seberapa keras denting koin yang bisa ia jatuhkan ke dalam mangkuk peradaban. Jika kau menghasilkan, kau ada. Jika kau diam, kau lenyap.
Mereka ingin kau menjadi cerminan dari ambisi-ambisi mereka yang tak tuntas. Mereka ingin kau menjadi patung yang dipahat sesuai selera zaman: sukses, kaya, terlihat sibuk, dan selalu tersenyum di foto-foto media sosial. Mereka tidak menginginkan dirimu yang sebenarnya. Dirimu yang rapuh, dirimu yang menyukai kesunyian, atau dirimu yang terkadang hanya ingin duduk memandangi senja tanpa melakukan apa-apa.
Dan ketika kau gagal—atau lebih tepatnya, ketika kau menolak untuk menjadi sekrup dalam mesin raksasa ambisi mereka—vonis itu jatuh secepat kilat: Gagal.
Kata itu berdenging di telingamu seperti suara sirine ambulan di tengah malam. Gagal. Sebuah cap yang ditempelkan di jidatmu hanya karena kau tidak berlari di lintasan yang mereka sediakan. Padahal, alangkah naifnya mereka. Tak satu pun dari mereka yang tahu bahwa di balik diammu, di balik tatapan matamu yang tampak kosong, ada perang besar yang sedang berkecamuk.
Mereka tidak tahu bahwa setiap hari adalah pertempuran. Kau sedang berjuang melawan monster-monster yang tidak memiliki bentuk, bayang-bayang yang mencekik lehermu bahkan sebelum kakimu menyentuh lantai di pagi hari. Hal-hal yang tak bisa kau ceritakan sepenuhnya, karena bahasa manusia terlalu miskin untuk menerjemahkan rasa sakit yang tak berdarah.
Lantas, dengan entengnya mulut-mulut itu berkata: "Bangkitlah! Jangan malas! Lihatlah orang lain sudah berlari sampai ke ufuk!"
Malas? Alangkah lucunya kata itu. Mereka melempar kata "malas" kepadamu seolah kau adalah kerbau yang enggan membajak sawah. Padahal mereka tidak tahu, betapa kau sudah berdiri terlalu lama. Kau sudah berdiri menahan beban langit-langit kamarmu agar tidak runtuh menimpa kewarasanmu. Kau berdiri di medan perang yang tak mereka pijak, menahan gempuran peluru kecemasan dan bom kesedihan yang meledak tanpa suara.
Di mata mereka, mungkin kau tampak seperti orang yang sedang duduk diam, melamun, membuang waktu. Tapi di dalam dirimu, jiwamu sedang berlari maraton, terengah-engah, mencoba mencari jalan keluar dari labirin yang dindingnya terus menyempit. Kau lelah bukan karena kau tidak melakukan apa-apa. Kau lelah karena kau melakukan segalanya untuk tetap hidup, untuk tetap "ada", meski rasanya ingin sekali menghilang menjadi debu.
Inilah tragisnya hubungan antarmanusia hari ini: transaksional. Di matamu, mereka mungkin manusia biasa dengan segala kelebihannya. Namun di mata mereka, kau, wahai kawanku yang lelah, hanyalah angka. Angka di rekening, angka di rapor, angka di statistik pencapaian.
Kau dilihat hanya jika berguna. Kau didengar hanya jika memberi.
Mereka tidak tahu rasanya terbangun pukul tiga pagi. Saat dunia sedang lelap-lelapnya, kau justru tersentak bangun dengan dada yang sesak, seolah ada batu besar yang menindih paru-parumu. Pikiranmu kacau, berlarian seperti kaset rusak yang memutar rekaman kegagalan dan ketakutan secara berulang-ulang. Tubuhmu ingin menyerah, ingin kembali tidur dan tidak bangun lagi, tapi pikiranmu memaksamu untuk tetap terjaga, memaksamu untuk menatap langit-langit gelap dan bertanya: "Sampai kapan?"
Lalu pagi datang. Matahari, yang bagi orang lain adalah simbol harapan, bagimu hanyalah sinyal untuk memasang topeng. Kau mencuci muka, menyikat gigi, dan memasang senyum itu. Senyum yang kau latih di depan cermin agar tidak ada yang curiga. Agar tidak ada pertanyaan: "Kamu kenapa?" Karena kau tahu, pertanyaan itu seringkali bukan untuk mendengar jawaban, melainkan hanya basa-basi sebelum mereka kembali bicara tentang diri mereka sendiri.
Mereka hanya tahu satu hal: Kau tidak seperti mereka.
Kau tidak memiliki kegaduhan yang sama. Kau tidak memiliki ambisi yang sama untuk saling memangsa. Dan bagi mereka, perbedaan itu cukup menjadi alasan untuk menjauh. Perlahan, mereka mundur teratur. Perlahan, tatapan mereka berubah menjadi tatapan meremehkan. Seolah-olah kau adalah naskah yang salah ketik, sebuah anomali dalam sistem yang mereka agung-agungkan.
Tapi, dengarlah aku. Tenanglah. Tarik napasmu dalam-dalam di antara kepulan asap rokok atau uap kopi yang mendingin itu.
Biarkan mereka pergi dengan asumsi-asumsi mereka yang dangkal. Biarkan mereka tenggelam dalam ilusi bahwa hidup hanyalah tentang siapa yang paling cepat sampai di garis finis—garis finis yang entah siapa yang membuatnya.
Kau harus ingat satu hal yang paling purba, yang sering dilupakan manusia di tengah deru mesin industri: Kau tidak dilahirkan ke dunia ini untuk memenuhi ekspektasi manusia. Kau tidak diciptakan dari tanah dan roh hanya untuk menjadi pemuas dahaga validasi orang lain.
Kau diciptakan untuk sebuah tujuan yang jauh lebih sunyi, namun jauh lebih agung: Mencari ridha Tuhanmu.
Hanya Tuhanmu yang tahu. Hanya Dia yang melihat apa yang tersembunyi di balik senyum palsumu. Dia yang menghitung setiap tetes keringat dingin yang keluar saat kau menahan tangis di keramaian. Dia yang mencatat seberapa kuat kakimu berpijak saat badai kecemasan menghantammu hingga kau nyaris tersungkur.
Bagi manusia, diammu adalah kekalahan. Tapi bagi Tuhanmu, diammu yang penuh kesabaran adalah sebuah doa yang paling lantang.
Selama Tuhanmu tahu seberapa keras kau bertahan, itu lebih dari cukup. Biarkan dunia menilaimu dengan kalkulator mereka yang rusak. Biarkan mereka menyebutmu nol, kosong, atau gagal. Karena di mata Sang Pencipta, kau yang bertahan hidup di tengah keinginan untuk mati, kau yang tetap melangkah meski dengan kaki gemetar, adalah pejuang yang sesungguhnya.
Maka, tidurlah malam ini dengan sedikit lebih tenang. Dunia boleh tidak paham, manusia boleh salah sangka. Tapi langit tahu, kau sedang berjuang dengan cara yang paling terhormat: bertahan hidup.
Komentar
Posting Komentar