Langsung ke konten utama

Alkimia Kata-Kata di Balik Jendela yang Basah

Barangkali kita harus memulainya dari senja yang selalu terasa terlalu singkat itu, atau dari hujan yang mengetuk kaca jendela seperti seorang kekasih lama yang ragu-ragu untuk pulang. Di sanalah aku selalu menemukannya. Bukan di panggung-panggung megah dengan sorotan lampu yang menyilaukan, melainkan di sudut kamar yang remang, ditemani secangkir kopi yang perlahan dingin dan suara kereta yang menderu di kejauhan.

​Menulis, bagiku, bukanlah sekadar menyusun abjad menjadi kata, atau kata menjadi kalimat. Ia bukan sekadar kerajinan tangan kaum intelektual. Menulis itu temanku. Teman yang paling setia, yang duduk diam di sebelaku ketika dunia terasa begitu bising dan membingungkan. Ia adalah satu-satunya entitas yang tidak pernah menuntutku untuk menjadi orang lain.

​Kau tahu, dunia ini penuh dengan topeng. Di jalanan, di gedung-gedung bertingkat, di dalam bus yang sesak dengan aroma keringat dan keputusasaan, manusia menyembunyikan wajah aslinya. Namun, menulis memberiku sebuah lensa. Sebuah lensa kamera tua yang mungkin sedikit berdebu, namun memiliki ketajaman yang mengerikan untuk melihat manusia.

​Melalui lensa ini, aku tidak melihat jas yang mereka pakai atau gincu yang memerah di bibir mereka. Aku melihat manusia sebagai manusia. Tulisan adalah cermin yang memantulkan jiwa mereka, sebuah permukaan air tenang yang, jika kau tatap cukup lama, akan memperlihatkan dasar kolam yang penuh dengan kerikil, lumut, dan mungkin harta karun yang tenggelam. 

​Di setiap kalimat yang kuukir—dengan perlahan, seperti seorang pemahat yang takut meretakkan batunya—aku mencoba menemukan jejak keberadaan mereka. Ada kerinduan yang purba di sana. Kerinduan manusia untuk dilihat. Kerinduan untuk didengar apa adanya, tanpa penghakiman, tanpa pretensi.

​Pernahkah kau menatap mata seseorang di halte bus dan melihat kilatan kesepian yang begitu dalam? Menulis memaksaku untuk tidak memalingkan wajah dari kilatan itu. Proses ini menuntutku untuk jujur pada hati, sebuah kejujuran yang seringkali menyakitkan. Sebab, untuk menulis tentang kesedihan orang lain, kau harus berani meraba kesedihanmu sendiri. Kau harus tajam dalam berpikir, membedah realitas dengan pisau bedah logika, namun di saat yang sama, kau harus tetap peka terhadap rasa. Kau harus menjadi spons yang menyerap air mata langit dan debu jalanan.

​Dan hidup, seperti yang sering kita gumamkan saat macet total di jalan layang, adalah sebuah misteri. Menulis menuntutku untuk berani menghadapi misteri itu. Bukan untuk memecahkannya—siapa kita yang berani merasa mampu memecahkan teka-teki semesta?—melainkan untuk memahaminya. Atau setidaknya, untuk duduk bersamanya. Memahami kompleksitas manusia yang bisa begitu kejam sekaligus begitu lembut, begitu rapuh sekaligus begitu tabah.

​Bagi sebagian orang, menulis mungkin adalah pelarian. Tapi bagiku? Tidak. Bagiku, menulis adalah tentang berdamai.

​Ada luka di dalam diri kita semua. Luka goresan masa lalu, luka pengkhianatan, luka kehilangan, atau sekadar luka eksistensial karena kita sadar bahwa kita fana. Menulis, bagiku, adalah sebuah proses alkimia. Seperti para alkemis kuno yang berusaha mengubah timah hitam menjadi emas murni, aku berusaha mengubah penderitaan menjadi kebijaksanaan.

​Di atas kertas putih (atau layar yang berkedip-kedip ini), aku meletakkan rasa sakit itu. Aku mengurainya, memberinya nama, dan menyusunnya kembali menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang mungkin bisa disebut sebagai keindahan, atau setidaknya, sebuah pengertian. Di sanalah penderitaan tidak lagi menjadi hantu yang menakutkan, melainkan menjadi guru yang pendiam. 

​Dalam proses alkimia yang sunyi ini, aku belajar memupuk kepercayaan di tengah keraguan yang merayap seperti kabut. Ketika dunia berteriak bahwa "tidak ada harapan" atau "manusia itu serigala bagi sesamanya," tulisan membisikkan hal lain. Ia memberikan energi positif—bukan jenis positif yang naif dan sloganistis, melainkan energi yang hangat, seperti api unggun di tengah hutan musim dingin. Energi yang berkata: "Kita terluka, tapi kita masih berjalan. Kita jatuh, tapi kita bisa bercerita."

​Dan pada akhirnya, menulis adalah sebuah pelukan. Ia merangkul keinginan paling dasar dari setiap anak manusia: keinginan untuk diterima sebagai bagian dari kemanusiaan.

​Seringkali aku membayangkan tulisan-tulisanku seperti surat dalam botol yang dilarung ke samudra luas. Aku tidak tahu siapa yang akan menemukannya. Mungkin seorang pemuda yang sedang patah hati di ujung kota, atau seorang ibu yang lelah bekerja seharian. Namun, aku percaya satu hal: setiap manusia memiliki cerita yang layak untuk didengar. Tidak ada cerita yang terlalu kecil. Tidak ada hidup yang terlalu remeh.

​Kisah manusia silver di lampu merah sama epiknya dengan kisah para raja, jika kita mau melihatnya dengan lensa yang benar. Kesedihan seorang anak yang kehilangan layang-layangnya sama validnya dengan kesedihan seorang jenderal yang kalah perang. Menulis adalah caraku memberi hormat pada cerita-cerita itu. 

​Maka, biarlah aku terus menulis. Di antara hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, di antara klakson dan sirene, aku akan tetap duduk di sini, bersama temanku itu. Mengubah luka menjadi kata, mengubah sunyi menjadi gema, dan berusaha, dengan segenap dayaku yang terbatas, untuk memantulkan jiwa manusia kembali kepada pemiliknya. Agar mereka tahu, agar kau tahu, bahwa kau tidak sendirian. Bahwa kau didengar. Bahwa kau ada.

​Dan barangkali, hanya itu yang kita butuhkan untuk bertahan hidup satu hari lagi.

Komentar