Ya, memang benar. Aku harus mengakuinya kepadamu, di sini, sekarang, saat senja belum benar-benar habis dimakan malam dan lampu-lampu kota mulai menyala seperti kunang-kunang yang kesepian. Aku lebih suka relasi yang lembut dan membosankan.
Mungkin ini terdengar aneh di telinga orang-orang yang memuja ledakan, mereka yang mengira cinta adalah sebuah panggung sandiwara kolosal di mana setiap babaknya harus diisi dengan teriakan, air mata, pintu yang dibanting, atau kecemburuan yang membakar hangus akal sehat. Kita sering diajarkan oleh film-film picisan dan novel-novel yang dijual di stasiun kereta bahwa cinta harus berdarah-darah untuk bisa disebut nyata. Bahwa tanpa konflik yang meletup-letup, tanpa argumen yang berbelit-belit bagai benang kusut yang mustahil diurai, cinta itu hambar. Bahwa kita harus saling menyakiti dulu untuk bisa saling memahami.
Omong kosong.
Aku sudah lelah dengan semua itu. Aku ingin keluar dari panggung sandiwara itu. Aku ingin duduk di kursi penonton yang paling belakang, di sudut yang gelap dan senyap, bersamamu. Hanya bersamamu.
Bagiku, jenis cinta yang paling purba dan paling murni justru adalah jenis cinta yang tidak memerlukan sesuatu yang dramatis untuk dapat dirasakan. Aku tidak butuh pembuktian yang megah. Aku tidak butuh kita bertengkar hebat di bawah hujan hanya untuk kemudian berpelukan basah kuyup demi sebuah rekonsiliasi yang sinematik. Itu melelahkan, Sayang. Hidup di luar sana—di jalanan bising kabupaten Tulungagung, di ruang ruangan yang dingin, di berita-berita koran yang penuh amarah—sudah terlalu bising. Mengapa kita harus membawa kebisingan itu ke dalam rumah? Ke dalam hati?
Aku menginginkan kesederhanaan yang nyaris sakral dalam mengomunikasikan perasaan.
Cinta, bagiku, adalah sebuah izin saat hendak berkegiatan. Sesederhana itu. Bukan karena aku ingin mengekangmu atau kau ingin menguasai waktuku, melainkan sebagai tanda hormat bahwa hidupku kini terikat benang halus dengan hidupmu. Bahwa ke mana pun kaki melangkah, ada sebagian dari dirimu yang ikut serta. Cinta adalah sepatah kabar di tengah hari yang terik, sebuah notifikasi singkat yang membasuh masing-masing kekhawatiran. "Aku sudah sampai," atau "Jangan lupa makan," atau "Badan ku capek sekali."
Kalimat-kalimat itu, bagi mereka yang memuja drama, mungkin terdengar seperti rutinitas administratif yang membosankan. Tapi bagiku? Itu adalah puisi. Itu adalah cara kita berkata, "Di tengah dunia yang gila dan sibuk ini, aku mengingatmu. Kau ada di kepalaku."
Aku menemukan kedamaian yang aneh saat membayangkan kita mencuci piring bersama. Bunyi denting piring keramik yang beradu pelan, suara air keran yang mengucur, aroma sabun jeruk nipis yang menguar di dapur kecil kita. Tidak ada pembicaraan berat tentang filsafat atau politik negara, mungkin hanya gumaman kecil atau senandung lagu pop lawas yang keluar dari bibirmu. Atau saat melipat pakaian yang baru kering; menyatukan ujung-ujung kain, menumpuknya dengan rapi, sebuah ritual domestik yang meditatif. Atau saat menyirami tanaman di beranda, melihat air meresap ke dalam tanah, memberi hidup pada akar-akar yang tersembunyi.
Dalam kegiatan-kegiatan remeh itulah aku merasa cinta bekerja dengan cara yang paling misterius: ia hadir tanpa perlu dipanggil. Ia ada di sela-sela busa sabun, di lipatan kemeja, di tetes air pada daun kuping gajah.
Dan yang paling kucintai dari konsep "membosankan" ini adalah keheningan yang hangat.
Bayangkan sebuah sore di hari Minggu. Hujan turun rintik-rintik di luar jendela, menciptakan tirai air yang memisahkan kita dari dunia. Kita berada di ruangan yang sama. Kau duduk di ujung sofa sebelah kiri, tenggelam dalam sebuah buku tebal dengan kacamata yang melorot sedikit ke hidung. Aku duduk di ujung kanan, sibuk dengan stik kendali game, mata terpaku pada layar televisi, jari-jari menari lincah.
Kita tidak bicara. Tidak ada kata-kata yang melayang di udara. Namun, keheningan itu tidak kosong. Keheningan itu padat. Keheningan itu hangat.
Aku tidak perlu bertanya apakah kau mencintaiku, dan kau tidak perlu menoleh untuk memastikan aku masih ada di sana. Kita tahu. Kehadiran fisik kita yang saling diam itu adalah konfirmasi yang paling valid. Sesekali, mungkin, aku akan menjulurkan kaki, menyentuh betismu dengan ujung jari kaki, sebuah sentuhan kecil yang usil, hanya untuk bertanya tanpa suara: "Mau dibawakan minuman apa?" Atau mungkin kamu hanya akan melempar pandang sekilas, tersenyum tipis, lalu kembali pada halaman bukumu.
Itu saja. Dan itu sudah segalanya.
Di dalam cinta yang seperti ini, kurasa, terdapat sebuah paradoks yang indah: individualitas yang utuh di dalam suatu konsep kebersamaan. Kita tidak melebur menjadi satu bubur yang kehilangan bentuk aslinya. Kau tetap kau, dengan segala hobi, pikiran, dan duniamu. Aku tetap aku, dengan segala kecemasan dan kesenanganku. Kita adalah dua planet yang beredar di orbit masing-masing, namun saling menyinari, saling menjaga gravitasi agar tidak ada yang terlempar ke ruang hampa.
Alangkah indahnya menghargai kedamaian masing-masing di dalam dua perbedaan yang menyatu. Alangkah leganya bisa tetap mencintai tanpa perlu saling mengganggu, tanpa perlu saling menuntut atensi setiap detik. Seolah-olah, jiwa kita telah bersepakat dalam diam, melampaui bahasa manusia, dan berkata:
"Sesibuk apa pun dirimu, seliar apa pun duniamu, aku di sini. Aku tidak akan menjadi beban tambahan bagimu. Aku adalah tempat istirahatmu. Aku menemani, aku peduli, dan marilah hidup dan bertumbuh bersamaku, pelan-pelan, sampai kita tua dan benar-benar membosankan."
Dunia di luar sana boleh saja terus berteriak, terus berlari mengejar ambisi dan sensasi. Biarkan mereka dengan drama-dramanya yang melelahkan. Biarkan mereka dengan cinta yang meledak-ledak seperti kembang api—indah sekejap, lalu lenyap menjadi asap dan sampah.
Aku memilih menjadi lilin kecil yang menyala tenang di sudut kamarmu. Tidak silau, tidak panas membakar, tapi cukup untuk membuatmu tahu jalan pulang. Aku memilih relasi yang, kata orang, "membosankan" ini. Karena di dalam kebosanan itu, aku menemukan keabadian yang paling sederhana. Dan barangkali, hanya barangkali, itulah arti cinta yang sebenarnya.
Komentar
Posting Komentar