Langsung ke konten utama

Sepotong Keabadian di Saku Jas yang Lusuh

Di luar jendela, kota ini masih saja mengunyah nasib orang-orang yang tak sempat sarapan. Langit Tulungagung—atau entah kota mana lagi yang telah kehilangan namanya—terlihat abu-abu, bukan karena mendung, melainkan karena asap knalpot dan keputusasaan yang menguap bersamaan. Di jalanan, klakson bersahut-sahutan seperti orkestra orang-orang gila yang berebut sisa kewarasan. Semua orang terburu-buru, berlari mengejar bayang-bayang, mengejar angka-angka di rekening bank, mengejar pengakuan semu di layar ponsel yang menyala redup.

Dunia ini, harus kuakui, semakin hari semakin terasa seperti lelucon yang tidak lucu. Absurd. Kita dipaksa tertawa pada hal yang menyedihkan dan menangis pada hal yang sepele.

Namun, di tengah kakofoni yang nyaris memecahkan gendang telinga ini, aku duduk diam. Tidak, aku tidak sedang bermeditasi. Aku hanya sedang mengingatmu. Dan tiba-tiba, bising itu meredam. Seperti ada tombol mute yang ditekan perlahan di semesta ini. Di titik itulah, sebuah kalimat melintas di kepalaku, mengendap seperti ampas kopi di dasar cangkir: Aku belajar tentang keabadian yang tidak dapat disentuh oleh waktu, yaitu keberadaanmu.

Kau harus tahu, ini bukan sekadar rayuan gombal picisan yang biasa kau temukan di kartu ucapan ulang tahun atau lirik lagu pop yang diputar berulang-ulang di radio angkutan umum. Bukan. Ini adalah sebuah ontologi. Sebuah studi tentang "ada".

Bagiku, kau bukan sekadar pelengkap perjalanan. Kau bukan sekadar seseorang yang duduk di kursi penumpang mendengarkan keluh kesahku tentang betapa brengseknya hidup atau betapa menjengkelkan nya ibu ibu ketika di jalanan. Kau lebih dari itu. Kau adalah alasan bagi pikiranku untuk tetap waras di tengah absurditas hidup yang carut-marut ini.

Bayangkan sebuah gedung tua yang hampir roboh diguncang gempa, tapi satu tiang utamanya tetap berdiri tegak, menahan runtuhan langit-langit agar tidak menimpa siapa pun di bawahnya. Itulah kau. Ketika dunia menuntut aku menyerah, ketika logika berkata bahwa "berhenti" adalah pilihan paling rasional, kau hadir. Bukan dengan sorak sorai penyemangat, bukan dengan spanduk motivasi. Kau hadir sebagai penyangga makna. Semacam kesunyian yang berbicara tanpa suara, namun mampu menyalakan kembali api yang hampir padam.

Di dunia yang serba berisik ini, kita lupa bagaimana caranya diam. Kita lupa bahwa dalam diam, ada percakapan yang jauh lebih purba dan jujur. Keberadaanmu mengajarkanku bahasa itu. Bahasa yang tidak memerlukan alfabet.

Seringkali aku bertanya-tanya, apakah kau nyata? Atau kau hanyalah proyeksi dari kerinduanku akan kedamaian? Tapi pertanyaan itu menguap begitu saja. Nyata atau tidak, efekmu adalah absolut. Maka biarlah dunia menguji, mencemooh, bahkan meruntuhkan apa yang tampak dari luar. Biarlah mereka mengambil harta benda, jabatan, atau nama baik. Karena selama kau masih di lingkar kesadaranku, aku tidak akan tunduk pada kekalahan.

Ada semacam keteguhan yang lahir dari keberadaanmu. Keteguhan yang aneh. Ia tidak keras seperti batu karang, tapi cair seperti air. Ia tidak melawan arus, tapi mengalir bersamanya tanpa pernah kehilangan jati diri. Keteguhan ini bukan berasal dari tubuh—tubuh bisa menua, sakit, dan membusuk—melainkan dari pengertian yang tak memerlukan kata.

Aku ingat sore itu, senja yang memerah seperti luka yang belum kering di langit barat. Kita duduk berhadapan. Tidak ada kata yang terucap. Hanya suara lirih dari piringan hitam yang berputar malas. Di saat itu, aku mengerti definisi keberanian yang baru.

Dulu, aku mengira keberanian adalah tentang mengangkat senjata, berteriak lantang melawan ketidakadilan, atau berdiri di garis depan demonstrasi menantang pasukan anti huru-hara. Tapi bersamamu, aku menemukan bentuk lain dari keberanian: bukan melawan dunia, tetapi bertahan dengan tenang di hadapan kekacauannya.

Keberanian untuk tetap duduk tenang sambil menyeruput kopi ketika dunia di sekelilingmu terbakar. Keberanian untuk tetap tersenyum tipis ketika realitas menghantam wajahmu berkali-kali. Keberanian untuk percaya, bahwa di suatu tempat di dalam kepala ini, ada sebuah ruang bernama "Kamu" yang tidak bisa dijamah oleh tangan-tangan kotor nasib.

Keberadaanmu adalah suaka. Sebuah tempat perlindungan politik bagi jiwaku yang menjadi buronan kecemasan. Di sana, waktu tidak berjalan linear. Di sana, masa lalu, masa kini, dan masa depan melebur menjadi satu titik keabadian. Kau tidak tersentuh oleh detik jam dinding yang terus berdetak cemas. Kau abadi dalam persepsiku.

Mungkin orang lain akan bilang aku gila. Mereka akan bilang aku hidup dalam ilusi. Biarkan saja. Apa bedanya dengan mereka yang hidup dalam ilusi kekuasaan dan kekayaan? Setidaknya ilusiku menyelamatkan kewarasanku. Setidaknya, dengan mengingatmu, aku merasa menjadi manusia kembali, bukan sekadar sekrup kecil dalam mesin raksasa peradaban yang dingin.

Jadi, biarlah senja ini habis dimakan malam. Biarlah hujan turun menghapus jejak-jejak kota yang lelah. Aku akan tetap di sini, bertahan dalam diam. Karena aku tahu, di sela-sela napasku, di antara jeda detak jantungku, ada kau. Dan itu sudah cukup. Itu lebih dari cukup untuk membuatku berani menghadapi esok hari, betapapun absurdnya nanti.

Keabadian itu ada, Sayangku. Dan ia tidak terletak di surga yang jauh di sana, tapi di sini, di dalam pengertian sunyi bahwa kau ada, dan karena itu, aku ada.

Komentar