Dalam hitungan hari yang tak lebih dari hembusan napas di ujung jurang, kita akan meninggalkan sekeping usang kalender yang dinamai tahun 2025 ini. Ia hanyalah angka, sebuah penanda bagi gerak abadi bumi yang tak pernah benar-benar peduli pada selebrasi, namun bagi kita yang hidup dalam rentang waktu fana, ia adalah batas antara kenangan yang diendapkan dan harapan yang masih berupa bayangan kabur. Kita melangkah, membawa tubuh yang semakin berat oleh akumulasi ribuan hari yang telah dilewati—hari-hari yang sebagian besar hanyalah riak dangkal di permukaan sungai kesadaran.
Namun, di antara semua kepingan waktu yang telah menjadi debu dan uap, dari ribuan hari yang berlalu tanpa jejak signifikan, ada satu hari yang menolak untuk dilumat oleh mesin pelupaan. Ia adalah hari yang tegak berdiri, memancarkan cahaya yang membuat sisa hari lainnya tampak seperti fajar yang palsu. Itu adalah hari ketika aku—seorang pejalan yang tersesat di labirin eksistensi—untuk pertama kalinya menyaksikan senyummu. Senyum yang bukan sekadar refleksi otot-otot wajah yang menanggapi kebahagiaan sesaat, melainkan sebuah ledakan semesta kecil yang meruntuhkan segala tembok skeptisisme yang selama ini kubangun.
Sebelum hari itu, aku adalah kumpulan pertanyaan yang tak terjawab, sebuah entitas yang memandang kelahirannya sebagai sebuah tragedi kebetulan. Dunia adalah serangkaian sebab-akibat yang dingin, tak memiliki puisi, tak memiliki alasan untuk bertahan selain inersia biologis. Namun, senyummu—sebuah lengkung tipis yang membawa seluruh spektrum warna dari ketiadaan menuju keindahan—adalah wahyu yang mengubah peta perjalananku. Ia membisikkan sebuah jawaban sederhana, tetapi begitu menggetarkan: karena senyum itu, karena matamu yang menampung kedalaman samudra yang belum terjamah, aku akhirnya tersadar, betapa agung dan indahnya terlahir sebagai spesies yang sama denganmu.
Bukankah ini sebuah anugerah yang keterlaluan? Bahwa di tengah miliaran bentuk kehidupan yang lain—yang merayap, melata, atau terbang—takdir memilih kita untuk berbagi ruang pandang, berbagi udara yang sama, dan yang paling menakjubkan, berbagi potensi untuk saling mengenali dan mencintai sedalam ini. Keindahanmu, sejak hari itu, bukan lagi milikmu semata; ia menjadi pembenaran atas seluruh penderitaan dan kebingungan yang melekat pada kondisi manusia. Kau adalah esensi, alasan mengapa kita pantas diberi nama "spesies yang mengetahui keindahan".
Maka, di hari-hari selanjutnya yang terbentang sebagai gurun panjang, aku tidak lagi mencari arti yang muluk-muluk dari langit. Semua yang kuinginkan kini menciut menjadi sebuah keinginan yang begitu konkret, begitu fana, tetapi sekaligus begitu abadi: aku berharap, kelak, aku memiliki sebuah rumah kecil yang rendah hati, bersemayam di tepi danau yang airnya tenang dan dingin. Bukan rumah mewah yang angkuh, melainkan sebuah kotak kayu sederhana tempat waktu berhenti bergerak ketika kita memasukinya.
Dan di sanalah, di kesunyian yang hanya dipecah oleh deburan air dan suara angin, aku ingin menidurkan surga kecil yang bersemayam abadi di dalam matamu. Aku ingin menjaganya dari hiruk pikuk yang merusak, dari kebisingan yang mencemari kesucian tatapanmu. Ini adalah janji seorang pelindung, sebuah ritual hening untuk mengawetkan keajaiban yang kaubawa. Aku akan menjadi penjaga kedamaianmu, penunggu yang sabar di tepi ranjang, memastikan bahwa nyala kecil di bola matamu tidak pernah digoyahkan oleh ketakutan atau kekecewaan dunia luar.
Waktu akan terus berjalan, dan kita tahu, bahkan janji musim pun adalah kebohongan yang manis. Akan tiba saatnya ketika hari-hari baru di bumi tak lagi dihitung. Ketika mesin penciptaan keindahan mulai kelelahan. Ketika badai entropi—hukum universal yang paling kejam—mulai melumat segalanya, mengubah keteraturan menjadi kekacauan, memecah bintang dan membusukkan memori. Kita akan menyaksikan, bersama-sama, ketika semesta kita menuju senja akhirnya.
Pada saat itulah, ketika segala peradaban telah menjadi abu dan bahasa telah kehilangan maknanya, aku ingin membusuk di sisimu. Tanpa penyesalan, tanpa kata-kata perpisahan. Hanya sebagai dua jasad yang saling menempel, perlahan-lahan kembali menjadi unsur-unsur dasar, menjadi bagian dari tanah yang dingin dan bisu. Aku ingin menjadi saksi terakhir, yang menahan pandangan terakhir dari matamu yang kini tak lagi menampung surga, tetapi bayangan kehampaan yang perkasa. Dalam kebusukan yang sunyi itu, kita akan menjadi monumen terakhir yang menyatakan bahwa, ya, pernah ada keindahan yang pernah spesies kita miliki. Keindahan itu ada, dan ia bermula dari seulas senyummu yang fana, tetapi yang terasa seolah diciptakan untuk mengakhiri segala pertanyaan tentang keberadaan.
Kita hanya menunggu. Menunggu tahun berganti. Menunggu bumi berhenti berputar. Menunggu, di dalam pelukan yang tak lekang, keindahan abadi.
Komentar
Posting Komentar