Langsung ke konten utama

Untuk Ibu dan Senja yang Belum Selesai

Barangkali senja hari ini tidak jauh berbeda dengan senja-senja yang pernah kau lewati puluhan tahun lalu. Matahari masih tergelincir di barat dengan warna jingga yang memar, seolah langit baru saja dipukuli waktu. Di luar jendela, dunia masih berisik, Bu. Kendaraan menderu, orang-orang berlari mengejar entah apa, dan jam dinding terus berdetak dengan ketukan yang angkuh. Namun, di sini, di hadapanmu, aku ingin membekukan waktu barang sejenak. Aku ingin menarik satu kursi kayu, duduk menghadapmu, dan menatap matamu yang kini menyimpan lebih banyak riwayat daripada buku sejarah mana pun.

​Selamat ulang tahun, Bu.

​Angka-angka pada kalender hanyalah penanda yang dingin, bukan? Tapi hari ini, tanggal 11 Desember di tahun 2025 ini, aku ingin membacanya sebagai sebuah jeda. Sebuah titik koma dalam kalimat panjang kehidupanmu yang tak henti-hentinya kau tulis dengan keringat dan air mata.

​Aku tahu, Bu. Aku tahu benar kau mencintaiku dengan segenap hati dan jiwa. Cinta itu tidak perlu kau ucapkan. Ia hadir dalam bunyi minyak goreng yang mendesis di subuh buta, dalam lipatan baju yang rapi di lemari, dalam doa-doa yang kau terbangkan diam-diam ke langit-langit kamar saat aku terlelap. Cinta itu mewujud, padat, dan nyata. Namun, di sela-sela perayaan kecil ini, izinkan aku mengatakan sesuatu yang mungkin selama ini hanya berani aku bisikkan pada angin.

​Aku tahu, mungkin ada bagian kecil dalam dirimu yang merasa belum selesai menjadi diri sendiri.

​Aku menatap kerut di wajahmu, Bu. Setiap garisnya adalah peta dari perjalanan yang terpaksa kau tempuh, bukan perjalanan yang kau pilih. Ada ruang-ruang kosong dalam hatimu. Ruang yang dulu—bertahun-tahun silam—penuh dengan mimpi. Mungkin dulu kau ingin menjadi penari? Atau pelukis? Atau sekadar perempuan bebas yang ingin melihat dunia dari jendela kereta api? Namun kini, ruang-ruang itu terisi oleh tumpukan tanggung jawab yang tak terhitung jumlahnya. Mimpi-mimpi itu tidak hilang, Bu, aku yakin. Mereka hanya mengendap di dasar gelas kopimu, tertutup oleh ampas kewajiban menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu.

​Dunia ini jahat, Bu. Atau setidaknya, dunia ini terlalu terburu-buru.

​Dunia terlalu cepat menikahkanmu. Ia terlalu cepat menyeretmu dari masa remaja yang ranum, memaksa kakimu yang masih ingin berlari di padang rumput untuk berdiri kaku di dapur sempit. Dunia mengharuskanmu memahami hal-hal yang bahkan belum sempat kau pelajari. Bagaimana cara menenangkan tangis bayi, bagaimana cara membagi uang belanja yang tak seberapa, bagaimana cara menelan amarah ketika lelah menyergap. Kau dipaksa dewasa oleh keadaan, diletakkan di bawah guillotine ekspektasi sosial yang tajam.

​Mereka menaruh beban rumah tangga di pundakmu, seolah itu satu-satunya tujuan hidupmu. Seolah-olah kau lahir ke dunia ini hanya untuk melayani, untuk membersihkan debu di meja, untuk memastikan piring-piring bersih, dan untuk melupakan bahwa kau juga manusia yang punya keinginan. Kau adalah bunga yang dipaksa mekar sebelum musimnya, memberi kehidupan dengan cinta tak terbatas pada tanah yang kadang lupa berterima kasih.

​Namun, lihatlah dirimu sekarang.

​Di usiamu kini, kau tetaplah sinar kasih dalam pelukan hangat. Kau adalah pelipur lara di setiap senja gelap, ketika aku—anakmu yang sering kali lupa diri ini—pulang dengan membawa kekalahan-kekalahan dari dunia luar. Kau tidak pernah bertanya "mengapa", kau hanya menyodorkan teh hangat dan senyum yang seperti embun pagi. Senyum yang menyinari dunia kecil kita, membasuh hati yang lelah, seolah berkata bahwa selama ada Ibu, badai apa pun hanyalah gerimis kecil.

​Tanganmu, Bu. Tangan yang kini kulitnya mulai melonggar itu, adalah tempat berlindung yang abadi. Tangan itu merangkul erat, sebuah tanda kasih tak terhenti, bahkan ketika tangan itu sendiri gemetar menahan beban usia.

​Sering kali aku bertanya-tanya, apakah kau bahagia?

​Dalam pelukanmu, dunia memang menjadi teduh. Suara lirihmu mengantar mimpi-mimpi indah tidurku. Tapi siapa yang mengantar mimpi-mimpimu, Bu? Siapa yang memelukmu ketika dunia terasa terlalu bising dan menuntut? Kau adalah pahlawan tanpa tanda jasa, frasa klise yang sering kita dengar di upacara sekolah, tapi bagimu, itu adalah kenyataan yang menyakitkan sekaligus membanggakan. Kau bertarung melawan ego, melawan lelah, melawan keinginan untuk pergi, hanya demi kami.

​Hari ini, di ulang tahunmu, aku tidak memberimu emas atau permata. Aku memberimu pengakuan ini. Aku ingin kau tahu bahwa aku melihatmu. Bukan hanya sebagai Ibuku, tapi sebagai seorang perempuan. Sebagai manusia yang utuh.

​Aku melihat pengorbanan itu. Kasih ibu, menyentuh tanpa pamrih, sebuah cinta yang tak pernah sirna. Tapi aku juga melihat "kau" yang lain. Kau yang mungkin ingin duduk sendirian di taman kota membaca novel, kau yang ingin tertawa lepas bersama kawan lama tanpa memikirkan jemuran, kau yang ingin menjadi "aku" dan bukan "kita".

​Maafkan aku, Bu, jika kehadiranku di dunia ini adalah salah satu alasan mengapa "kau" yang dulu itu harus menepi. Maafkan aku jika tangisku di masa kecil membungkam lagu yang ingin kau nyanyikan. Maafkan aku jika langkah kakiku yang kau tuntun, membuat langkahmu sendiri terhenti di satu tempat.

​Maka, pada 11 Desember 2025 ini, doaku sederhana.

​Semoga di hari yang bahagia ini, ibu bisa mencuri sedikit waktu untuk dirimu sendiri. Ambillah kembali ruang-ruang kosong di hatimu itu. Isilah dengan apa pun yang kau suka. Bernyanyilah, menarilah, atau diamlah seharian jika itu yang kau mau. Kau adalah harta yang tak ternilai, kebahagiaanku yang paling purba. Tapi kau juga berhak menjadi kebahagiaan bagi dirimu sendiri.

​Selamat ulang tahun, Ibuku sayang. Perempuan yang memikul semesta di punggungnya, namun tetap tersenyum seolah ia hanya membawa sekeranjang bunga. Langit mungkin akan gelap sebentar lagi, tapi bagiku, kau adalah satu-satunya cahaya yang tak pernah diizinkan padam.

​Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah menjadi Ibu. Terima kasih sudah merelakan hidupmu, agar aku bisa memiliki hidupku.

​Dari anakmu, yang mencintaimu dalam setiap detak yang kau berikan.

Komentar