Di luar jendela, Tulungagung sedang diguyur hujan yang tampak tidak berniat berhenti, seolah langit sedang membalaskan dendam rindu yang tak tersampaikan. Aku duduk di sini, di sudut kafe yang memutar lagu Indie standar yang memasukkan isu-isu sosial dalam lagunya—mungkin .Feast atau Hindia, mungkin juga bukan—sambil memandangi genangan air yang memantulkan lampu-lampu neon kota. Dan di sela-sela kepulan asap kopi yang menari-nari seperti hantu masa lalu, aku memikirkanmu. Atau lebih tepatnya, aku memikirkan apa yang sedang terjadi di antara rusuk-rusuk kita.
Kita menyebutnya cinta, sebuah kata yang sudah terlalu sering diperkosa oleh lagu-lagu pop dan sinetron murah, hingga kehilangan sakralitasnya. Namun, malam ini, izinkan aku mendefinisikannya ulang untukmu, dengan bahasa yang mungkin tidak kau temukan dalam kamus, tapi kau rasakan denyutnya di nadimu.
Cinta, pada hakikatnya, adalah anomali dari segala keteraturan logika.
Dunia ini, Kekasih, dibangun di atas pondasi nalar yang angkuh. Kita diajarkan bahwa 1 ditambah 1 adalah 2, bahwa jika kita bekerja keras kita akan kaya, bahwa jika kita berbuat baik kita akan masuk surga. Segalanya memiliki kotak, memiliki label, memiliki sebab-akibat. Tapi kemudian cinta datang. Ia datang tidak mengetuk pintu, tidak mengucapkan salam, dan sama sekali tidak peduli pada tatanan batinmu yang sudah kau susun serapi arsip perpustakaan nasional.
Ia datang untuk mengguncang. Ia adalah gempa tektonik yang terjadi dalam diam di kedalaman jiwamu.
Dalam semesta bernama perasaan, hukum sebab-akibat yang diagung-agungkan para filsuf dan ilmuwan itu mendadak kehilangan makna, luruh seperti debu tertiup angin. Mengapa aku jatuh cinta padamu? Pertanyaan itu sama absurdnya dengan bertanya mengapa senja selalu tampak menyedihkan atau mengapa hujan membuat kita merasa sepi. Tak ada jawabannya. Yang jatuh cinta tak pernah tahu mengapa ia jatuh, dan kepada siapa ia terjatuh. Kita hanya tergelincir, tersandung oleh tatapan mata sekilas, atau oleh cara seseorang menyebut nama kita, dan tiba-tiba saja kita sudah berada di dasar jurang tanpa ingat bagaimana cara memanjat kembali ke atas.
Dan anehnya, kita tidak ingin memanjat naik. Kita menikmati kejatuhan itu.
Cinta adalah gangguan indah terhadap keseimbangan diri. Kau tahu betapa aku mencintai ketenangan, betapa aku memuja rutinitas yang membosankan namun aman. Tapi kau hadir, dan tiba-tiba "aman" menjadi kata yang menjemukan. Cinta menentang rasionalitas. Ia menolak dikurung dalam nalar. Ia adalah pemberontak yang menyelinap keluar dari penjara logika, berlarian telanjang di jalanan pikiran kita, menertawakan segala rencana masa depan yang telah kita susun dengan tinta emas.
Ia hidup di celah sempit, di wilayah abu-abu antara harapan yang melambung tinggi dan luka yang menganga lebar. Di sanalah cinta bernapas: di dalam ketidakpastian.
Mungkin orang-orang di luar sana, mereka yang berjalan terburu-buru mengejar kereta atau memaki kemacetan, akan menyebut ini kegilaan. Mereka menatap kita dengan tatapan kasihan, menganggap kita adalah pasien rumah sakit jiwa yang lepas kendali. Tapi bukankah segala sesuatu yang suci memang tampak gila di mata dunia yang terlalu waras? Dunia ini terlalu sibuk menghitung untung-rugi, terlalu sibuk memastikan segalanya masuk akal, hingga lupa bagaimana caranya merasa.
Kewarasan, bagiku sekarang, hanyalah bentuk lain dari ketakutan untuk hidup sepenuhnya.
Dalam anomali cinta ini, perhatikanlah bagaimana waktu berhenti tunduk pada kronologi. Jam dinding itu, dengan jarumnya yang berdetak konstan, menjadi tidak relevan. Satu jam bersamamu terasa seperti kedipan mata, sementara satu menit menunggumu terasa seperti satu abad penyiksaan. Waktu menjadi subjektif, melar dan menyusut sesuai detak jantung, bukan sesuai putaran matahari.
Dan lihatlah metamorfosis yang terjadi. Yang dulu asing menjadi rumah. Wajah yang dulu tak pernah kulihat di antara milyaran manusia, kini menjadi satu-satunya peta yang kubutuhkan untuk pulang. Yang dulu jauh, yang terpisah oleh jarak geografis dan dinding nasib, kini menjadi nadi. Kau mengalir dalam darahku, berdesir di setiap tarikan napasku. Jarak fisik menjadi ilusi, karena dalam ingatan dan rindu, kau selalu ada, duduk di sana, menyesap kopimu, menatapku dengan mata yang menyimpan seluruh rahasia semesta.
Di sanalah, manusia menemukan paradoks terbesar dirinya. Kita diajarkan untuk menjadi kuat, untuk memegang kendali, untuk menjadi nahkoda bagi kapal nasib kita sendiri. Namun cinta mengajarkan sebaliknya. Bahwa untuk merasa lengkap, manusia justru harus rela kehilangan kendali.
Kita harus rela menyerahkan kemudi, membiarkan ombak perasaan membawa kita terombang-ambing ke antah berantah. Ada semacam kepuasan masokistik saat menyadari bahwa mood kita hari ini ditentukan oleh sebaris pesan singkat darimu, atau ketiadaan kabar darimu. Kita menjadi budak dari perasaan kita sendiri, dan dalam perbudakan itu, anehnya, kita merasa merdeka. Merdeka dari keharusan untuk selalu tampak kuat. Merdeka dari keharusan untuk selalu berpikir logis.
Karena cinta, Kekasihku, tidak pernah hadir untuk memberi kepastian. Jika kau mencari kepastian, belilah polis asuransi atau bukalah buku matematika. Cinta tidak menawarkan itu. Cinta hadir untuk menyingkap betapa rapuhnya batas antara keindahan dan penderitaan. Ia adalah pisau bermata dua yang kita genggam erat-erat dengan tangan telanjang; kita tahu itu akan melukai, darah akan menetes, tapi kilau logamnya terlalu memukau untuk dilepaskan.
Ia mengajarkan kita tentang tegangan abadi antara ingin memiliki dan belajar melepaskan. Kita ingin mendekap erat, memasukkan orang yang kita cintai ke dalam saku agar tidak hilang, tapi pada saat yang sama kita sadar bahwa cinta yang sejati adalah membiarkan burung itu terbang, berharap ia kembali bukan karena sangkar, melainkan karena ia tahu di mana rumahnya.
Maka, biarlah malam ini hujan terus turun. Biarlah dunia dengan segala keteraturan logikanya berjalan seperti mesin tua yang berkarat. Kita akan tetap di sini, dalam anomali ini, merayakan ketidakwarasan kita. Sebab dalam kekacauan inilah—dalam ketidakpastian, dalam rindu yang menggigit, dalam cemas yang manis—kita akhirnya menyadari bahwa kita benar-benar hidup.
Dan mungkin, hanya mungkin, itulah satu-satunya kebenaran yang perlu kita mengerti. Bahwa cinta bukan untuk dimengerti, melainkan untuk diderita dan dirayakan, dalam satu tarikan napas yang sama.
Komentar
Posting Komentar