Barangkali hari ini matahari bersinar sedikit lebih terik di langit Tulungagung, atau mungkin darah kita sajalah yang sedang mendidih oleh semacam perasaan ganjil bernama perpisahan. Kita berdiri di sini, mengenakan toga yang terasa asing di tubuh, di tengah kerumunan yang merayakan sebuah akhir, padahal kita tahu ini hanyalah permulaan dari kesunyian yang lain.
Aku ingin mengajakmu mengenang, bukan tentang nilai indeks prestasi yang tercetak di kertas transkrip, melainkan tentang jejak-jejak sepatu kita di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah. Sebuah kampus yang mungkin tidak pernah masuk dalam daftar sepuluh besar kampus terbaik di negeri ini, bahkan mungkin tercecer dari seratus besar, namun siapa peduli? Di sinilah, di bawah naungan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, kita pernah menjadi manusia paling hidup.
Ingatkah kau? Kita masuk ke Program Studi Psikologi Islam dengan separuh keraguan. Ada kata "Islam" yang melekat di sana, sebuah label administratif yang sering kali kita perdebatkan di warung kopi hingga larut malam. Namun, di balik dinding-dinding kelas itu, kita justru menemukan bahwa "Islam" di sini adalah pintu gerbang menuju semesta pengetahuan yang tak bertepi. Kita tidak hanya belajar doa, kita belajar menggugat dunia.
Di kampus ini, aku menemukanmu. Menemukan kalian. Teman-teman yang semangatnya menyala-nyala melebihi pasukan Sparta di Thermopylae. Kalian bukanlah mahasiswa yang duduk manis mendengarkan dosen, kalian adalah pembangkang yang haus. Bersama kalian, aku tidak sekadar berkuliah; aku bertumbuh, berproses, dan belajar mengeja kata "manusia" dengan segala kerumitannya.
Masih lekat dalam ingatan, bagaimana kita memanggil arwah-arwah pemikir besar untuk duduk bersama kita di kelas yang kadang pendingin ruangannya mati itu. Kita berdebat tentang Yunani Kuno, seolah-olah Socrates baru saja lewat di koridor fakultas. Kita membicarakan Plato dan Aristoteles seakan mereka adalah dosen tamu yang cerewet. Lantas kita melompat jauh melintasi waktu, menyelami kegelapan zaman Post Modern bersama tokoh-tokoh Mazhab Frankfurt yang murung, mempertanyakan rasionalitas yang menindas.
Dan Psikologi... ah, bidang ilmu yang membuat kita merasa bisa menelanjangi jiwa orang lain. Kita pernah tersesat di laboratorium imajiner Wilhelm Wundt di Leipzig, mencoba memahami apa itu strukturalisme. Kita berdebat tentang fungsi kesadaran bersama William James. Lalu, tentu saja, momen-momen ketika kita merasa menjadi detektif jiwa bersama Sigmund Freud. Kita membedah Id, Ego, dan Superego, menyelami alam pra-sadar dan ketidaksadaran yang gelap dan pekat, tempat segala hasrat terpendam bersemayam.
Kita pernah menjadi begitu mekanistik saat membahas Ivan Pavlov dan anjingnya yang meneteskan air liur, atau saat membayangkan Little Albert-nya John B. Watson menangis karena suara keras. Kita bahkan pernah merasa manusia tak lebih dari sekadar tikus dalam kotak Skinner, bergerak hanya karena reward dan punishment. Hingga akhirnya Abraham Maslow datang dengan Piramida Kebutuhan-nya, menawarkan sedikit harapan tentang Aktualisasi Diri, memanusiakan kita kembali.
Namun, kau tahu aku selalu skeptis pada satu hal: Psikologi Positif. Maafkan aku Martin Seligman, tapi di kampus ini, di sela-sela diskusi kita yang berasap rokok, aku belajar bahwa memaksakan kebahagiaan adalah sebuah kedunguan. Aku tidak bisa mengamininya. Hidup tidak sesederhana senyum lebar di poster motivasi.
Diskusi kami tak pernah steril. Politik kampus dan intrik negara menyusup masuk, membawa aroma Machiavelli yang melegenda. Kami belajar strategi, seolah-olah kami sedang merencanakan kudeta sunyi. Di meja kopi yang penuh noda ampas cethe, kami membentangkan peta dunia imajiner. Kami bicara tentang Revolusi Perancis, membayangkan guillotine yang memenggal leher Louis XVI, lalu semenit kemudian kami sudah berada di Petrograd, berdiri di samping Vladimir Lenin yang sedang meneriakkan Revolusi Bolshevik. Kami membedah ekonomi Adam Smith yang dingin dan Karl Marx yang berapi-api, mencoba mencari tahu di mana letak keadilan di saku mahasiswa yang seringkali bolong di akhir bulan.
Di kepala kita, berjejal nama-nama besar. Napoleon Bonaparte yang ambisius, Alexander Agung yang tak pernah puas, Vladimir Lenin yang keras, Qin Shi Huang yang menyatukan tembok, hingga Peter Agung yang jenius. Mereka semua, para penakluk dunia itu, seolah hadir menjadi saksi bisu perjalanan kita menjadi sarjana. Di kampus yang "biasa saja" ini, pikiran kita meliar menaklukkan dunia.
Kini, saat tali toga ini dipindahkan, aku sadar bahwa semua teori itu—dari Yunani hingga Jerman, dari Wundt hingga Maslow—hanyalah perkakas. Yang paling penting adalah kenyataan bahwa kita pernah ada di sini. Bahwa di tengah debu Tulungagung dan panasnya jalanan, kita pernah merajut mimpi dan menertawakan nasib.
Biarkan orang-orang di luar sana membanggakan almamater mentereng mereka. Biarkan mereka bicara tentang peringkat dan akreditasi. Kita punya sesuatu yang lebih purba dan lebih abadi yaitu kenangan.
Seperti kata Pidi Baiq dalam Novel Koboy Kampus
"Apapun kampusmu, itu adalah kampusmu. Tetap yang terbaik. Orang-orang harus tahu, semuanya adalah romantisme, sisanya adalah perjuangan."
Kalimat itu benar adanya. Kampus ini, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, adalah panggung romantisme kami. Romantisme bukan dalam artian picisan sepasang kekasih yang dimabuk asmara, melainkan romantisme gagasan, romantisme persahabatan, dan romantisme perlawanan terhadap kebodohan. Sisanya? Sisanya adalah perjuangan. Perjuangan melawan kantuk di kelas filsafat, perjuangan melawan dompet yang menipis, perjuangan melawan keraguan diri sendiri, dan perjuangan untuk membuktikan bahwa dari pinggiran kota ini, lahir pemikir-pemikir yang tidak kalah tajam dengan mereka yang ada di pusat kekuasaan.
Maka, perayaan wisuda ini bukanlah akhir. Ini hanyalah jeda sejenak sebelum peluit kereta kehidupan ditiup kembali. Kita akan berpencar, kawan. Ada yang akan menjadi psikolog, ada yang menjadi politisi, ada yang menjadi pengusaha, atau mungkin ada yang memilih menjadi penyair yang menuliskan kesedihan di tembok-tembok kota.
Selamat merayakan kelulusan. Selamat merayakan ingatan. Biarlah dunia tahu, bahwa kita pernah ada, kita pernah muda, kita pernah berbahaya, dan kita pernah mencintai ilmu pengetahuan dengan cara yang paling ugal-ugalan di kampus ini.
Maka, kawan, usaplah air matamu atau simpanlah senyummu untuk nanti. Apa yang sudah kita usahakan di sini adalah sebuah babad yang telah selesai ditulis. Selebihnya, mau apapun yang terjadi di luar sana, entah kita menjadi penakluk seperti Alexander atau hanya menjadi butiran debu di sejarah peradaban, nama kita akan tetap di sini. Sebagai orang yang pernah menjadi bagian dari sejarah panjang kampus ini.
Senja mulai turun di Tulungagung. Langit berubah warna menjadi jingga kemerahan, seperti warna darah perjuangan, atau mungkin seperti warna pipi kita yang merona karena bangga. Aku melangkah keluar gerbang, tidak menoleh lagi ke belakang, karena aku tahu, kenangan itu tidak akan pergi. Ia akan hidup selamanya, abadi dalam tulisan, abadi dalam ingatan.
Komentar
Posting Komentar