Bukankah hidup ini, pada akhirnya, hanyalah serangkaian rasa sakit yang pandai menyamar? Ia mengenakan topeng waktu, bersembunyi di balik detak jam dinding yang monoton, seolah-olah berbisik bahwa segalanya akan membaik, padahal ia hanya sedang menunda giliran untuk menghantam kita lagi.
Cobalah kau ingat-ingat kembali, kapan terakhir kali kau benar-benar merasa utuh? Mungkin tidak pernah. Kita dilemparkan ke dunia ini bukan dengan tawa, melainkan dengan jeritan. Bayi merah yang dipaksa menghirup udara asing, menangis sekeras-kerasnya seolah tahu bahwa ia baru saja mendaftar pada sebuah penderitaan panjang bernama usia. Kita lahir dengan tangis, tumbuh dengan kehilangan demi kehilangan—mainan yang rusak, teman yang pindah rumah, kekasih yang memilih punggung lain, hingga orang tua yang perlahan menjadi tanah—dan di sela-sela itu semua, kita dipaksa belajar tertawa.
Tertawa, Saudara-saudara, di atas luka yang belum benar-benar kering.
Aku membayangkan kita semua berjalan di sebuah lorong remang-remang yang tak berujung. Kadang ada cahaya, kadang ada musik, kadang ada segelas kopi hangat di sore hari saat senja memulas langit Tulungagung—atau kota mana pun tempatmu merasa sepi—dengan warna jingga yang memar. Kita menyebut momen-momen itu sebagai "kebahagiaan".
Tapi benarkah itu bahagia? Atau jangan-jangan, bahagia hanyalah sebuah jeda?
Seperti seorang petinju yang babak belur di atas ring, yang duduk di sudut sempit saat lonceng berbunyi, mengambil napas, diseka keringat dan darahnya oleh pelatih. Momen duduk itu, momen bernapas itu, itulah yang kita sebut bahagia. Sebuah napas yang diizinkan semesta sebelum lonceng berbunyi lagi, sebelum kita kembali ke tengah ring dan dihajar habis-habisan oleh nasib. Kita kembali tenggelam dalam perih yang lain, perih yang baru, atau perih lama yang berganti kemasan.
Seringkali aku melihat orang-orang di kafe, tertawa terbahak-bahak memamerkan deretan gigi mereka. Apakah mereka bahagia? Aku curiga, kita sering bilang sedang bahagia, padahal sejatinya kita hanya sedang tidak merasa sakit. Itu dua hal yang berbeda, kawan. Ketiadaan rasa sakit bukanlah kebahagiaan; itu hanyalah anestesi. Itu adalah momen ketika bius bekerja, membuat kita lupa bahwa ada jarum yang menancap di dada.
Dan tawa itu... ah, tawa. Pernahkah terpikir olehmu bahwa kita tertawa bukan karena kita tidak sedih? Kita tertawa karena kita sudah bosan menangis. Air mata itu melelahkan. Kesedihan itu menguras tenaga. Maka, sebagai mekanisme pertahanan diri yang purba, otak kita memerintahkan mulut untuk tersenyum dan tenggorokan untuk mengeluarkan suara riang. Bukan karena lucu. Tapi karena jika kita tidak tertawa, kita mungkin akan gila. Kita menertawakan kemalangan diri sendiri karena menangisinya sudah tak lagi mengubah apa-apa.
Hidup, setahu saya, tidak pernah berjanji akan berlaku lembut. Tidak ada kontrak tertulis saat kita lahir yang menjamin bahwa kita akan diperlakukan bak raja. Hidup itu kasar, mentah, dan seringkali brengsek. Ia tidak memberi kita solusi; ia hanya memberi kita kemampuan untuk menahan.
Kita diajari untuk menunggu. Menunggu hujan reda, menunggu gaji turun, menunggu jawaban pesan singkat, menunggu luka sembuh, menunggu mati. Dalam masa tunggu itulah kita menjadi terbiasa. Manusia adalah makhluk yang mengerikan karena kemampuannya untuk terbiasa. Kita terbiasa dikhianati, terbiasa kecewa, terbiasa bangun pagi dengan perasaan hampa. Kebiasaan itulah yang kita kira sebagai kekuatan, padahal itu hanyalah bentuk lain dari kepasrahan yang telah membatu.
Lihatlah tubuh kita. Bukan tubuh fisik yang bisa kau raba, tapi tubuh jiwamu. Jika mata kita bisa melihat jiwa, mungkin kita akan ngeri sendiri. Kita semua berjalan dengan tubuh yang penuh perban. Ada perban di hati karena cinta yang kandas sepuluh tahun lalu; ada perban di kepala karena mimpi-mimpi yang dibenturkan ke tembok realitas; ada perban di kaki karena lelah berlari mengejar bayang-bayang. Kita adalah pasien rawat jalan di rumah sakit raksasa bernama Dunia.
Kita berjalan terpincang-pincang, saling berpapasan, dan berpura-pura sehat.
"Apa kabar?" tanya seseorang. "Baik," jawabmu. Padahal di balik kata "baik" itu, ada ribuan nanah yang sedang kau tekan agar tidak pecah.
Namun, di sinilah letak ironi yang paling puitis—atau mungkin paling konyol. Di antara tumpukan luka yang menggunung itu, di antara memar yang membiru dan perban yang mulai kumal, ada satu hal ganjil yang membuat kita tetap bertahan di sini. Bukan karena kita kuat. Bukan karena kita hebat. Tapi karena sebuah keinginan kecil, nyaris tak terdengar, untuk tetap percaya.
Percaya pada apa? Entahlah.
Mungkin percaya bahwa senja besok akan sedikit lebih indah. Percaya bahwa kopi pagi masih memiliki aroma yang mampu membangunkah harapan. Percaya bahwa di ujung lorong gelap ini, ada seseorang yang juga sedang berjalan dengan tubuh penuh perban, yang mungkin suatu saat akan menggenggam tangan kita dan berkata, "Sakit ya? Sama, aku juga."
Kita bertahan karena kita diam-diam mencintai hidup ini, meskipun ia adalah kekasih yang kasar dan pemukul. Kita mencintainya seperti seorang pecinta buta yang tak mau pergi meski terus disakiti. Kita mencintai hidup walau dengan tubuh yang penuh perban, walau dengan napas yang tersengal.
Kita menikmati jeda-jeda kecil itu. Kita merayakan saat-saat ketika rasa sakit itu "lupa" datang. Kita memuja momen ketika hujan turun dan kita merasa aman di balik jendela, seolah-olah kaca yang rapuh itu bisa melindungi kita dari badai di luar dan badai di dalam kepala.
Jadi, barangkali benar. Bahagia bukan tujuan. Bahagia hanya tempat istirahat sementara (rest area) di jalan tol yang panjang dan membosankan. Kita mampir sebentar, meluruskan kaki, makan mie instan, lalu kembali memacu kendaraan menuju ketidakpastian.
Dan luka? Luka adalah bahan bakar kita. Tanpa luka, kita tidak punya cerita. Tanpa rasa sakit yang disamarkan waktu, kita mungkin hanya patung-patung lilin yang sempurna tapi mati.
Maka, biarlah kita rayakan kepedihan ini dengan segelas anggur atau secangkir teh tawar. Biarlah kita tertawa bukan karena bahagia, tapi sebagai bentuk perlawanan paling sunyi terhadap nasib yang tak pernah lembut. Kita akan tetap di sini, merawat luka-luka kita dengan tekun, membelitkan perban baru setiap kali perban lama basah oleh darah atau air mata.
Karena pada akhirnya, hanya itulah yang bisa kita lakukan: mencintai hidup yang bajingan ini, dengan segenap perih yang ia tawarkan, sampai waktu benar-benar berhenti menyamar dan mengantarkan kita pada tidur panjang tanpa mimpi.
Sampai saat itu tiba, nikmatilah jeda ini. Tarik napas. Sebelum ombak berikutnya datang menghantam.
Komentar
Posting Komentar